165. mengikhlaskan

1K 82 22
                                        

H-1 Idul Adha akhirnya datang juga.

Dan tepat habis dzuhur, halaman besar rumah mereka resmi berubah jadi mini peternakan dadakan.

Suara truk keluar masuk. Orang-orang masjid bantu nurunin hewan, Bau jerami mulai kecium sampai ke teras depan.

Dua sapi besar udah berdiri anteng di kandang sementara yang dipasang dekat sisi halaman.

Satu sapi hitam favorit Rony dan El.
Satu lagi sapi coklat pilihan Salma yang mukanya katanya teduh

Tiga kambing tambahan juga udah mulai sibuk mbeeeek sana-sini bikin suasana makin rame.

"AYAH TITAN DATENG!" teriak El heboh dari halaman.

Nay yang baru keluar rumah langsung menghela napas panjang. "Ya Allah... abang beneran kasih nama itu."

"Dia cocok jadi Titan."

"Dia sapi qurban bang, bukan karakter film action."

El udah gak peduli. Cowok itu jalan muterin sapi hitam besar mereka sambil bawa ember pakan dengan muka bangga banget kayak habis beli motor sport baru.

"Pak makannya jangan kebanyakan dulu nanti kekenyangan," kata salah satu bapak panitia sambil ketawa kecil.

"El tuh dari tadi udah tiga kali ngecek air minumnya," tambah Rony geli.

"Biar sehat."

"Dia lebih perhatian ke sapi daripada ke nilai matematika," komentar Nay santai.

"Fitnah keluarga lagi."

Di teras rumah, Salma duduk nyaman di kursi rotan besar sambil kaki selonjor sedikit. Tongkatnya nyender di samping kursi, segelas teh hangat ada di meja kecil sebelahnya.

Angin sore pelan banget.
Hangat.
Tenang.

Dan di depan matanya suami sama anak-anaknya lagi ribut kompak ngurus hewan qurban.

Rony berdiri dekat kandang sambil gulung lengan kaos hitamnya, bantu nuang pakan ke tempat makan sapi. Sesekali dia ngobrol sama bapak-bapak masjid sambil ketawa kecil.

El di sebelahnya sibuk banget sendiri. "Ayah airnya kurang."

"Baru juga dituang."

"Takut haus."

"Bang..." Nay duduk di pagar pendek sambil ngemil keripik. "Titan aja lebih santai daripada abang."

Titan.. yang namanya jelas gak diakui siapa-siapa selain El cuma ngunyah pelan tanpa dosa.

Nadira... Udah jongkok depan kambing putih kecil sambil elus-elus kepalanya lembut. "Bundaaa dia tetep lucu banget..."

"Jangan dicium kambingnya," sahut Nay cepat.

"Kenapa?"

"Karena itu kambing."

"Terus?"

"Ya... kambing."

Nadira tetep nyenderin pipinya dikit ke kepala kambing itu. "Dia wangi rumput."

"AKU MENYERAH." Nay langsung ngakak sendiri.

Salma ketawa kecil dari teras sambil ngeliatin semuanya.

Matanya lalu pindah ke Rony. Pria itu lagi ketawa kecil karena El panik sendiri waktu Titan tiba-tiba gerak dikit.

"Ayah dia nengok!"

"Ya masa patung."

"Kirain mau nyeruduk."

"Kamu tadi katanya gagah."

"Itu tadi."

Rony ngakak pelan lalu nepuk pundak anak sulungnya dan entah kenapa mandang mereka kayak gitu bikin dada Salma penuh terus.

NIKAH KONTRAK 🍣Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang