95. artis cilik ?

2.1K 171 22
                                        

hari itu, rumah keluarga Aksara terasa berbeda. Lebih sunyi. Lebih berat. Lebih... sesak.

Nadira duduk memeluk lututnya di ujung sofa, wajahnya sembab. Mata bengkaknya nyaris tak bisa lagi menahan air yang terus turun tanpa komando. Di tangannya... kosong. Biasanya ada sosok boneka kelinci putih bernama mimi, teman tidur, teman ngobrol, bahkan "penonton setia" setiap kali ia latihan tari di kamar.

Tapi mimi hilang.

Entah di mana. Terakhir terlihat dua hari lalu, di dalam mobil setelah mampir ke minimarket. Dan sejak itu, raib. Menguap. Tak bisa ditemukan, bahkan setelah satu rumah dibongkar.

Dan bagi seorang anak lima tahun... kehilangan itu rasanya kayak langit runtuh.

Salma duduk di lantai, di depan putrinya, sambil mencoba tersenyum meski hatinya ikut hancur.

"Sayang..." bisiknya lembut. "Bunda tahu Mimi penting banget buat kamu... Tapi kalau Mimi lagi sembunyi, mungkin dia juga kangen kamu, tapi gak bisa balik sekarang. Mimi mungkin lagi jalan-jalan sebentar."

Nadira menggeleng pelan. "Mimi nggak pernah pergi jauh... Mimi takut gelap, Bunda... dia pasti sedih."

Tangisnya pecah lagi. Salma menelan ludah, memeluk lutut Nadira dari depan dan menyandarkan dahinya pada kening anaknya. "Kalau Mimi bisa dengar sekarang... dia pasti juga nangis, lihat kamu sedih begini. Kamu tahu nggak... Mimi selalu suka lihat kamu senyum."

Di belakang sofa, Rony duduk membungkuk, satu tangan terus mengelus pelan punggung Nadira. Sesekali ia menyeka rambut anaknya dari keringat dan air mata.

"adek..." suaranya berat tapi lembut. "Ayah tahu kamu kehilangan sesuatu yang kamu sayang banget. Tapi kamu tahu nggak, yang paling penting itu bukan bonekanya... tapi kenangan kamu sama Mimi. Dan kenangan itu, nggak akan pernah hilang."

Nadira pelan-pelan menoleh, bibirnya bergetar. "Tapi aku mau Mimi beneran, bukan kenangan..."

Rony menahan napas. Wajah kecil yang kesepian itu seperti mencubit hatinya pelan-pelan. Ia mencondongkan tubuh, mencium ubun-ubun Nadira.

"Boleh sedih, Nak. Boleh banget. Tapi kamu nggak sendiri. Mimi mungkin gak di sini, tapi ada Bunda, ada Ayah..."

Tiba-tiba dari arah tangga, Nay berlari kecil sambil bawa dua bando unicorn. "TADAAA!"

Nadira hanya melirik sebentar.

Nay jongkok di depan adiknya, mencoba suara ceria. "Kita main salon yuk? Kakak jadi pelanggan, kamu jadi hairstylist. Kamu bisa atur rambut Kak Nay kayak Elsa."

Nadira diam.

Nay menggeser posisi, meletakkan satu bando di kepala sendiri, lalu satu lagi di kepala Nadira. "Atau kita pura-pura jadi peri. Mimi biasanya suka, kan? Nah, sekarang Kak Nay jadi Mimi-nya... kamu boleh peluk Kakak sambil nyanyi kayak biasanya..."

"Bukan sama," bisik Nadira pelan. "Kakak bukan Mimi..."

Dan lagi-lagi, matanya berkaca. Nay menarik napas dalam, lalu duduk bersila di lantai, mengusap punggung adiknya juga, mengikuti irama elusan Rony. Di matanya, tampak jelas  hatinya remuk lihat adiknya begitu terpukul.

Langkah pelan mendekat dari arah dapur.

"Adek..." suara El kali ini lembut banget, beda dari biasanya yang suka nyeletuk atau bercanda. "Ayo main bentar. Abang bikin markas rahasia dari selimut di kamar. Ada bantal-bantal, ada senter, dan... ada stiker-stiker yang kamu suka. Kamu bisa jadi kaptennya."

Nadira hanya diam. Matanya kosong.

El duduk di lantai, tepat di samping Nay. Ia mendongak ke arah Rony dan Salma sejenak, lalu berbisik ke Nadira. "Dulu... waktu abang kecil, abang juga punya boneka dinosaurus. Namanya Dino. Pas pindahan rumah, Dino ilang. Abang sedihnya kayak... dunia kiamat. Tapi waktu itu, bunda bilang satu hal."

NIKAH KONTRAK 🍣Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang