156. dia disini

769 93 30
                                        

Pagi datang... tapi rasanya nggak benar-benar pagi. Pencarian kemarin sampe tengah malem dan gak mendapatkan hasil setelah penemuan sandal itu dan mereka memilih untuk istirahat dan cari lagi hari ini

Langit memang sudah terang, tapi suasana di rumah itu masih gelap, sunyi tapi bukan tenang. Sunyi karena semua orang kelelahan.

Ruang keluarga penuh. Karpet digelar, bantal berserakan, selimut seadanya.

Beberapa orang tertidur dalam posisi seadanya.

Paul tidur setengah duduk di sofa, kepalanya miring ke samping, handphone masih ada di tangannya dan arka ada di samping nya

Daniel bersandar di dinding, tangan terlipat di dada, napasnya berat tapi nggak benar-benar nyenyak.

Darren duduk di lantai dengan punggung ke sofa, matanya merem tapi sesekali terbuka, refleks setiap ada suara kecil.

Neyl di sebelahnya, posisi hampir sama, tangannya di kepala, wajahnya tegang bahkan saat "tidur"

Di tengah itu semua salma masih bangun. Matanya sembab, merah, tapi nggak bisa nutup.

Tangannya melingkar di lengan Rony erat. Seolah kalau dia lepas sesuatu bakal hilang lagi.

"Mas..." suaranya serak banget

Rony yang dari tadi cuma merem pelan langsung buka mata. "Hmmm? "

Salma nggak nengok, matanya kosong ke depan. "Udah pagi"

"Iya" jawab Rony pelan

Hening beberapa detik. "adek belum pulang" suara Salma pecah lagi

Rony langsung tarik dia lebih dekat. "kita cari lagi yaa"

Salma geleng pelan, air matanya jatuh lagi tanpa suara. "Aku takut"

Rony nggak jawab cuma peluk lebih erat.

Di sisi lain, Nay tidur di kasur tipis di lantai. Tangannya masih menggenggam ujung baju Salma.

Seolah takut bangun dan semuanya makin buruk. El duduk di pojok, punggungnya nempel ke tembok.

Matanya nggak benar-benar tidur. Setiap suara kecil langsung bikin dia buka mata.

Di sofa lain yang sengaja digeser mendekat, Mami dan Papi-nya Rony.

Maminya tidur miring, menghadap ke arah Salma. Tangannya menggenggam ujung selimut, tapi posisinya seperti siap bangun kapan aja.

Wajahnya juga sembab, jelas habis nangis semalam karena khawatir sama cucu bungsunya

Papinya duduk di ujung sofa, bukan benar-benar tidur. Tangannya terlipat, kepalanya sedikit turun.

Matanya merem, tapi alisnya mengernyit seolah bahkan dalam diam dia tetap mikir.

Di sisi lain, nggak jauh dari mereka. Mama dan Papa-nya Salma.

Mamanya Salma tidur di sofa panjang, posisi setengah duduk setengah rebah. Tangannya masih menggenggam tasbih.

Bibirnya bergerak pelan, bahkan dalam tidur pun seperti masih berdoa.

Papanya duduk di kursi dekat situ, badannya condong ke depan. Tangannya di lutut, matanya merem.

Tapi napasnya berat, seperti tiap detik dia juga nahan sesuatu.

Di dekat dapur, di karpet tambahan. Nabila, Syarla, Anggisa, Sara dan Novia.

Mereka tidur berjejer, tapi nggak rapi.

Nabila paling dekat ke ruang tengah, posisi miring, tangannya di bawah pipi.

NIKAH KONTRAK 🍣Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang