Sudah seminggu berlalu sejak malam penuh tangis itu. Sejak hari itu juga, Keysha tak pernah absen menemani El terapi. Ia datang lebih pagi dari biasanya, terkadang membawa roti buatan sendiri atau kopi untuk Rony, dan susu hangat untuk Salma.
Hari ini, seperti biasa, mereka sudah berada di ruang fisioterapi. Udara di ruangan itu sejuk, terang, dan penuh dengan suara lembut dari pasien lain yang juga sedang berjuang. Rani, sang fisioterapis, tersenyum begitu melihat El datang.
"Wah, ini pasien favorit saya makin semangat aja nih," ujarnya sambil menyiapkan walker dan matras latihan.
El tersenyum malu. "Soalnya kalau gak semangat, nanti dimarahin sama pelatih pribadi di rumah," katanya sambil melirik Keysha yang duduk di bangku kecil di dekat treadmill.
Keysha memutar bola mata pura-pura kesal.
"Bukan dimarahin, tapi disemangatin," ujarnya lembut, tapi nadanya dibuat tegas.
"Kalau kamu nyerah, aku yang rugi, soalnya aku udah taruhan sama Nay kalau kamu bisa jalan tanpa bantuan bulan depan."
Rani tertawa kecil. "Wah, ada sistem taruhan juga sekarang. Cocok buat motivasi tambahan nih, Mas El."
El ikut tertawa. Tapi kali ini tawanya terasa ringan bukan tawa yang dipaksakan seperti dulu.
Ia mulai berdiri perlahan, memegang walker dengan mantap. Gerakannya masih hati-hati, tapi ada sesuatu yang berbeda.
Langkah pertamanya... terasa lebih kuat.
Rani memperhatikan dengan saksama. "Bagus, Mas El. Otot betisnya udah mulai aktif. Coba tahan beban di kaki kanan... iya, gitu."
Keysha berdiri, ikut memberi semangat.
"Ayo, El. Satu langkah lagi. Lihat aku, jangan lihat lantainya."
El mengangkat wajahnya, menatap Keysha yang tersenyum lebar di depannya. Ia mengatur napas, lalu melangkah lagi.
Langkah itu lebih stabil tidak terlalu bergoyang, tidak selemah dulu.
Rony yang berdiri di belakangnya menggenggam erat tangan Salma, matanya mulai berkaca. Salma menahan napas, suaranya pelan bergetar,
"Ya Allah... dia bisa lebih jauh dari minggu lalu, mas..."
Rony mengangguk, matanya tak lepas dari punggung anak sulungnya. "Iya... lihat sayang... dia udah sejauh lima meter..."
Begitu menyadari jarak yang sudah ditempuh, El berhenti. Keringat menetes di pelipisnya, tapi matanya berbinar.
"Aku... bisa sejauh ini?" katanya hampir tak percaya.
Rani tersenyum lebar. "Bukan cuma bisa, Mas El. Ini perkembangan besar. Minggu lalu kamu cuma dua meter, hari ini udah dua kali lipat lebih."
Keysha langsung menepuk tangan pelan, matanya berkaca. "Aku udah bilang, kan? Kamu cuma butuh percaya sama diri sendiri."
El menunduk, napasnya tersengal, tapi kali ini ia tersenyum senyum yang benar-benar tulus.
"Terima kasih..." bisiknya.
Rony melangkah maju, menepuk bahu anaknya. "Nak, kamu bikin ayah bangga banget hari ini."
Salma menahan air mata yang hampir jatuh. "Iya, Nak... Bunda udah lama gak lihat kamu senyum kayak gini."
El menatap kedua orangtuanya, lalu ke arah Keysha. "Aku gak akan sampai sini kalau gak karena kalian semua."
Keysha menggeleng pelan. "Kamu sampai sini karena kamu gak nyerah, El. Kami cuma jagain kamu biar gak lupa seberapa kuat kamu sebenarnya."
Mereka semua terdiam sejenak suasana ruangan itu seolah berhenti sesaat, hanya menyisakan kebahagiaan yang tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
NIKAH KONTRAK 🍣
RomansaRony aksara parulian seorang artis terkenal yang menikah dengan Salma alletha demi menutupi skandal cinlok dengan artis lain . Akankah pernikahan mereka berlanjut dan menimbulkan perasaan cinta diantara keduanya atau sesuai dengan keputusan awal ko...
