132. Maaf

1.7K 106 13
                                        

Pagi itu terasa lebih hangat dari hari-hari sebelumnya.

Sinar matahari masuk lembut ke ruang tengah apartemen, memantul di lantai dan sofa tempat Nay duduk berselonjor. Di tangannya ada secangkir teh hangat, uapnya masih tipis mengepul. Wajahnya tenang, tidak lagi pucat, meski ada garis-garis lelah yang belum sepenuhnya hilang dari matanya.

Oma duduk di kursi seberangnya, memperhatikan Nay tanpa terburu-buru. Opa berdiri di dekat jendela, sesekali melirik cucunya sambil pura-pura sibuk merapikan tirai.

"Nay," panggil Oma pelan, suaranya hangat tapi serius. "Oma mau nanya... kamu jawab jujur ya."

Nay mengangkat wajahnya, menatap Oma. "Iya, Oma."

Oma menghela napas pelan. "Perasaan kamu sekarang gimana?"

Nay terdiam.

Tangannya mengerat di cangkir, matanya turun menatap permukaan teh yang sedikit bergetar. Beberapa detik berlalu dalam sunyi.

"Udah baikan belum?" lanjut Oma hati-hati. "Di hati kamu..."

Nay tersenyum kecil, senyum yang lebih jujur dari sebelumnya. "Nggak sepenuhnya... tapi udah nggak sesakit kemarin-kemarin."

Oma mengangguk pelan. "Itu sudah cukup jujur."

Opa akhirnya ikut duduk, menyandarkan punggungnya. "Terus..." katanya pelan, "kamu udah kepikiran belum soal Ayah, Bunda, Abang sama Adek?"

Nama-nama itu membuat dada Nay menghangat sekaligus sesak.

Nay menarik napas panjang. "Kangen," jawabnya lirih, tanpa ragu. "Banget."

Oma menatapnya lembut. "Sama sekali nggak ada bohongnya?"

Nay menggeleng. "Nggak. Nay kangen rumah... kangen suara bunda, kangen ayah... kangen bang El sama Nadira juga."

Matanya berkaca-kaca, tapi kali ini ia tidak buru-buru mengalihkan pandangan.

"Tapi..." Nay berhenti sejenak.

"Tapi apa, Nak?" tanya Oma.

"Tapi Nay takut," ucapnya jujur. "Kalau Nay pulang dalam kondisi Nay yang belum stabil... rasanya kayak ngulang lagi dari awal. Nay takut capek lagi, takut meledak lagi."

Opa mengangguk pelan. "Takut itu wajar."

Nay menelan ludah. "Nay nggak mau balik cuma buat bilang 'udah baik-baik aja', padahal sebenernya belum."

Oma tersenyum tipis, matanya berkaca. "Oma seneng kamu bisa ngomong kayak gini."

Nay menatap Oma. "Selama ini Nay mikir... lebih baik Nay simpan sendiri. Biar Ayah sama Bunda nggak khawatir. Biar rumah tetap tenang."

Oma menggeleng pelan. "Dan kamu yang hancur pelan-pelan."

Nay mengangguk kecil. "Iya..."

Opa menyela dengan suara tenang tapi tegas. "Nay, ngomong jujur itu kadang nggak enak. Bisa bikin orang kaget, bisa bikin suasana berat."

Nay menoleh ke Opa.

"Tapi," lanjut Opa, "ngomong jujur itu jauh lebih cepat nyembuhin daripada dipendem. Yang dipendem itu nggak hilang, cuma numpuk... terus meledak."

Oma mengangguk setuju. "Lebih baik satu kali nggak enak, daripada lama-lama hancur."

Nay mengusap sudut matanya. "Nay janji, Oma... Opa..."

"Kali ini Nay mau berubah," lanjutnya dengan suara lebih mantap. "Nay mau belajar ngomong. Mau bilang capek. Mau bilang sedih. Bukan pura-pura kuat terus."

NIKAH KONTRAK 🍣Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang