173. hebat

770 60 24
                                        

Pagi itu rumah kembali hidup.

Jam baru menunjukkan pukul 06.20.

Dari dapur sudah terdengar suara wajan beradu pelan dengan spatula. Aroma nasi goreng, telur dadar, dan bawang putih yang ditumis memenuhi hampir seluruh lantai bawah.

Salma berdiri di depan kompor mengenakan celemek sederhana. Sesekali ia mengaduk masakan, sesekali membantu Bibi menyiapkan piring-piring di meja makan.

"Bibi, buahnya nanti dipotong aja ya."

"Siap mbk"

"Jus jeruknya jangan lupa buat Nadira."

"Iya."

Di ruang keluarga suasananya jauh lebih tenang.

Rony sudah bangun sejak setengah jam lalu. Setelah salat Subuh berjamaah bersama El, pagi ini ia memilih rebahan santai di sofa panjang.

Kaos rumahan abu-abu, celana training hitam. Satu kaki ditekuk di atas sofa.

Tangannya memegang ponsel sambil membaca berita ekonomi sesekali membalas chat dari sekretaris perusahaan dia kalo dia hari ini minta tidak ada meeting dulu.

Sesekali terdengar suara tawa kecilnya melihat video yang dikirim Arka.

Sampai... Suara langkah kaki menyeret sandal terdengar dari tangga. Rony melirik sekilas dan el disana dengan rambutnya acak-acakan ke segala arah.

Kaos tidur masih kusut, mata masih setengah mengantuk. Bahkan wajahnya masih terlihat bengkak bekas menangis semalam.

Anak sulungnya itu turun tanpa tujuan yang jelas. Begitu sampai ruang keluarga, El sama sekali tidak menyapa.

Ia hanya berdiri sebentar di depan sofa lalu...

Bruuk.

Langsung menjatuhkan tubuhnya di samping Rony.Bahkan tanpa permisi, ia merapatkan tubuhnya ke ayahnya sampai bahunya saling berhimpitan.

Satu tangannya melingkar santai di leher Rony kepalanya ikut bersandar di bahu ayahnya.

Rony sampai menoleh pelanalu memperhatikan wajah anak sulungnya dari jarak dekat.

Beberapa detik kemudian beliau tertawa kecil. "Bang..."

"Hm..."

"Kamu belum cuci muka, belum sikat gigi, rambut kamu kayak habis disamber petir."

El cuma mengangguk malas. "Iya."

Rony menahan tawa. "Terus..." Beliau mendorong pelan dahi El dengan satu jari. " Kok malah dempet-dempet begini?"

El tidak bergeming.

"Sana." Rony menunjuk ujung sofa. "Sofanya cukup satu orang ini"

El malah makin merapat. "Nggak."

"Loh?"

"Nggak."

"Kok nggak?"

"Nggak aja."

Jawaban itu begitu datar sampai Rony langsung terkekeh. "Masya Allah..."

Beliau menggeleng pelan. "Udah gede, jenggot mulai tumbuh, tapi masih nempel Ayah."

El tetap tidak bergerak sedikit pun. "Nggak apa."

Rony tertawa kecil. "Oh..."

Beliau sengaja mengangguk-angguk seolah baru mengerti. "Berarti..."

El masih menatap layar ponsel ayahnya tanpa minat. "Apa?"

Rony menyenggol pelan bahunya. "Kamu kangen ya sama Ayah?"

NIKAH KONTRAK 🍣Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang