137. Sahur upgrade

902 63 18
                                        

Ruang keluarga yang tadi penuh drama perlahan berubah jadi “zona kerja paksa” versi keluarga Aksara.

El sudah pegang lap kaca, Nay bawa kemoceng, Rony pegang vacuum, Salma bawa keranjang kain-kain yang harus dirapikan.
Nadira… berdiri di tengah dengan sapu, tapi wajahnya seperti habis kehilangan harapan hidup.

Baru lima menit.... LIMA MENIT.

Nadira tiba-tiba berhenti nyapu. Sapu disandarkan ke tembok. Ia menaruh tangan di dada, napas dibuat berat. “Bun…”

Salma masih sibuk lipat selimut. “Iya dek?”

Nadira berjalan pelan, dramatis, lalu duduk di lantai. “Adek… kayaknya mau pingsan.”

El yang lagi lap kaca langsung menoleh. “Lah?”

Nay mendekat. “Kenapa?”

Nadira menatap kosong ke depan. “Adek lemes…”

Rony menghentikan vacuum. “Baru sepuluh menit, dek.”

Nadira menggeleng pelan. “Bukan karena kerja…”

Semua menunggu. Nadira memegang perutnya. “Adek belum sarapan.”

Sunyi.

El langsung ketawa kecil. “Kirain kenapa.”

Nay ikut senyum. “Drama lagi.”

Nadira protes. “Ini bukan drama! Ini kondisi darurat! Perut adek kosong! Energi adek minus!”

Rony menyilangkan tangan, pura-pura serius. “Seberapa minus?”

Nadira menjawab mantap. “Minus seratus.”

El nyeletuk. “Pantes tadi katanya otak 2%.”

Nadira menunjuk El. “Itu sebelum sadar belum makan.”

Salma menatap Nadira yang duduk selonjoran di lantai dengan wajah melas.

Beberapa detik… Lalu Salma terkekeh pelan.
“Ya ampun… iya juga ya. Kita belum sarapan.”

Rony langsung menoleh ke Salma. “Nah loh.”

Nay refleks pegang perutnya sendiri. “…iya sih. Nay juga lapar.”

El menghela napas. “Oke jujur… abang juga.”

Nadira langsung berdiri semangat. “NAH KAN! ADEK BUKAN LEMAH, ADEK CUMA LAPAR!”

Rony tertawa kecil. “Pembelaan paling kuat dalam sejarah.”

Salma akhirnya menyerah sambil senyum.
“Udah, udah. Stop dulu semuanya. Kita sarapan dulu.”

Nadira langsung loncat kecil. “HIDUP BUNDA!”

El langsung nyeletuk. “Cepet banget sembuhnya.”

Nadira jawab enteng. “Itu namanya motivasi.”

Beberapa menit kemudian, meja makan sudah penuh. Ada nasi hangat, telur dadar, tempe goreng, sambal, dan teh hangat.

Nadira duduk paling depan, sendok sudah siap di tangan bahkan sebelum semuanya duduk.

Salma mengangkat alis. “Doa dulu.”

Nadira langsung tutup mata cepat-cepat.
Doanya super cepat. “Aamiin selesai.”

El menahan tawa. “Itu doa atau speed run?”

Nadira sudah ambil nasi. “Yang penting niat.”

Rony duduk di ujung meja sambil tersenyum lihat tingkah anak-anaknya. “Gimana, dek? Energinya balik?”

NIKAH KONTRAK 🍣Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang