Siang itu halaman SD masih ramai oleh suara anak-anak kelas satu yang baru saja keluar gerbang. Tas-tas kecil bergoyang di punggung mereka, sepatu putih sudah mulai kusam oleh debu lapangan.
Salma memarkir mobilnya di pinggir jalan, menurunkan kaca jendela, matanya langsung mencari satu kepala kecil yang paling ia kenal.
Dan seperti biasa
“BUUUNDAAA!”
Nadira melambai dengan heboh sambil setengah berlari, setengah loncat. Rambutnya dikuncir dua, dasinya sudah agak miring.
Salma turun dari mobil dan berjongkok tepat waktu untuk menangkap tubuh kecil itu.
“Pelan-pelan,” katanya sambil memeluk. “Capek nggak sekolah hari ini?”
Nadira mengangguk kuat. “Capek. Tulisannya banyak. Adek salah nulis angka enam jadi sembilan.”
Salma terkekeh. “Itu wajar.”
Mereka berjalan ke mobil. Salma membantu Nadira masuk, memasangkan sabuk pengaman.
Baru mobil berjalan beberapa meter, suara dari kursi belakang langsung muncul.
“Bun.”
“Iya?”
“Kita ke toko ya.”
Salma tersenyum kecil, sudah menebak. “Ke rumah dulu. Ganti baju. Istirahat.”
“Nggak mau,” jawab Nadira cepat. “Adek mau ke toko.”
“Kenapa?”
“Karena tadi Bu Rina bilang nanti sore mau beli kue buat arisan,” jawab Nadira serius. “Katanya mau ketemu kasir kecil favoritnya.”
Salma tertawa pelan. “Kasir kecil favorit siapa lagi itu.”
“Kasir kecil yang sering salah ngitung tapi lucu,” kata Nadira bangga.
Salma melirik spion, pura-pura berpikir. “Tapi toko Bunda hari ini rame banget, loh. Ada pesanan banyak buat meeting kantor, ada catering, ada tamu-tamu penting.”
“Gapapa,” jawab Nadira mantap. “Adek bisa duduk manis.”
Salma menghela napas kecil yang sebenarnya sudah kalah. “Beneran nggak rewel?”
“Janji,” kata Nadira cepat. “Adek duduk di kasir aja.”
Beberapa detik hening.
Mobil lalu berbelok bukan ke arah rumah, tapi ke jalan besar tempat toko kue Salma berdiri megah.
“TOKO KUE!” Nadira bersorak. “Makasih, Bunda!”
Salma menggeleng sambil tersenyum. “Dasar.”
Toko kue itu ramai seperti biasa. Parkiran hampir penuh. Logo toko besar terpampang elegan. Dari luar sudah terlihat etalase panjang, rak-rak kue, dan karyawan berseragam rapi lalu lalang.
Begitu masuk, beberapa karyawan langsung menoleh.
“Sore, Bu Salma,” sapa seorang supervisor.
“Sore,” jawab Salma. “Ini Nadira ikut ya.”
Nadira langsung melambaikan tangan. “Halo!”
“Aduh, kasir kecil datang,” celetuk salah satu pegawai sambil tertawa.
Nadira langsung berjalan ke meja kasir utama, naik ke bangku kecil khusus yang memang sengaja disediakan.
“Siap kerja,” katanya serius.
Salma menyerahkan apron kecil ke Nadira. “Dipakai dulu.”
Nadira mengenakannya dengan bangga.
Pelanggan pertama datang seorang pria berdasi dengan dua rekannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
NIKAH KONTRAK 🍣
RomanceRony aksara parulian seorang artis terkenal yang menikah dengan Salma alletha demi menutupi skandal cinlok dengan artis lain . Akankah pernikahan mereka berlanjut dan menimbulkan perasaan cinta diantara keduanya atau sesuai dengan keputusan awal ko...
