Pagi itu, cahaya matahari baru saja menyelip di balik tirai kamar ketika Salma perlahan membuka mata. Tubuhnya masih berat, tapi hatinya terasa ringan setelah semalam semuanya berkumpul dengan hangat.
Ia menoleh ke samping dan seperti biasa, tangan Rony melingkar kuat di pinggangnya, wajahnya terbenam di belakang bahunya seperti anak kecil yang takut selimutnya ditarik.
Salma tersenyum kecil.
“Mas… aku turun dulu ya, mau bantu Bibi masak,” bisiknya lembut sambil mencoba menggeser tangan suaminya.
Tapi baru disentuh sedikit saja, Rony langsung merengek setengah sadar.
“Nggak boleh… masih lima menit lagi…” katanya dengan suara serak pagi yang manja sekali.
Salma menahan tawa. “Mas, itu kamu bilang lima menit sejak jaman Nay belum lahir. Mau sampai jam berapa?”
Rony mengeratkan pelukan. “sayang… jangan pergi dulu. Aku masih mau peluk. Semalam aku tidur paling nyenyak… jangan dirusak dulu.”
Salma mencubit pelan lengan suaminya. “Mas, nanti anak-anak kelaparan. Ayolah, lepas dulu….”
Rony membuka satu mata, mengintip seperti kucing ogah bangun. “Kalau aku lapar gimana? Kamu tinggalin aku tanpa sarapan dan tanpa pelukan?”
“Mas Rony…” Salma memelotot manja sambil menekan dahi Rony. “Nanti aku balik lagi sebelum kamu mandi. Janji.”
Rony yang biasanya garang, tegas, dan paling susah dikendalikan langsung memonyong.
“Janji beneran? Jangan kabur.”
Salma menangkup pipi suaminya dan mengecup singkat bibirnya. “Janji. Sekarang tidur lagi.”
Dengan berat hati, Rony akhirnya melepaskan pelukan. “Cepet balik… aku hitung ya. Jangan sampai hilang lima jam.”
Salma terkekeh, turun dari ranjang sambil mengambil cardigan tipis, lalu menuju pintu.
Rony memeluk guling menggantikan Salma dan mendengus, “Huh… guling nggak wangi.”
Salma tertawa sekali lagi sebelum menutup pintu kamar.
Begitu menuruni tangga, aroma bawang tumis samar-samar menyentuh hidungnya. Bibi sudah ada di dapur, memakai celemek, menyiapkan bahan sarapan.
“Pagi, Bi…” sapa Salma sambil mencuci tangan.
“Pagi, mbk Salma,” jawab Bibi hangat. “mbk bangun pagi-pagi sekali hari ini.”
Salma tersenyum. “Kebiasaan kalau tidur dipeluk Mas Rony, pasti kebangun lebih cepat. Lagian aku mau bantu, Bi. Hari ini enaknya masak apa ya?”
Bibi tertawa kecil. “Kalau ayam, takut anak-anak bosan, ya mbk?”
“Nah itu. El aja kayaknya lagi sensitif banget sama makanan. Jangan sampai dia ilfeel.”
Bibi mengangguk berpikir. “Kalau bikin ikan kuah kuning? Segar, sehat, anak-anak biasanya suka.”
Salma memiringkan kepala. “Hmmm… Nay masih suka, tapi Nadira kadang pilih-pilih kalau ikan.”
“Iya sih…” Bibi manggut-manggut juga. “Kalau begitu bikin dua menu? Ikan kuah kuning untuk yang mau, satu lagi omelet keju kesukaan Nadira?”
Salma langsung tersenyum cerah. “Nah! Omelet keju pasti laku. El juga suka. Mas Rony juga aman.”
Bibi tertawa. “Iya, mas Rony paling gampang kalau omelet. Tapi nanti protes, ‘kok masak kesukaan anak-anak doang, kesukaan aku enggak’.”
Salma langsung ngakak.
“Bi! Mas Rony tadi udah mulai! Baru melek aja udah drama karena aku mau turun.”
KAMU SEDANG MEMBACA
NIKAH KONTRAK 🍣
RomanceRony aksara parulian seorang artis terkenal yang menikah dengan Salma alletha demi menutupi skandal cinlok dengan artis lain . Akankah pernikahan mereka berlanjut dan menimbulkan perasaan cinta diantara keduanya atau sesuai dengan keputusan awal ko...
