107. support keluarga

1.4K 106 14
                                        

Setelah pulang dari liburan Bali, rumah besar keluarga Rony kembali ke ritme biasanya.

Rony sudah tenggelam lagi dengan tumpukan berkas kerjaan yang menunggu di ruang kerjanya. Salma sibuk mengatur jadwal rumah sekaligus mengurus Nadira yang masih libur sekolah. Nay kembali sibuk dengan kuliahnya, dan El... sudah harus latihan band lagi karena minggu itu ia dijadwalkan manggung di Bandung.

Nadira tentu saja yang paling riuh.
"Adeeeek bosan di rumah! Kenapa sekolah lama banget liburnya?!" rengeknya sambil guling-guling di sofa, kedua kakinya menendang-nendang bantal.

Salma melirik sambil melipat cucian. "Dek, katanya kemarin mau liburan panjang. Udah dikasih ke Bali masih aja protes."

"Tapi kan itu udah lamaaa, Bun. Adek mau liburan lagi!" Nadira langsung duduk tegak, matanya berbinar. "Adek ikut Bang El ke Bandung aja, Bun! Adek bisa jadi cheerleader!"

Salma langsung ngakak, "Cheerleader apaan? Ini konser musik, bukan pertandingan bola."

Nadira langsung berdiri di sofa, melompat sambil mengangkat tangan. "Yaaaay! Bang Eeel! Bang Eeel! You can do it!" suaranya melengking sampai bikin Salma buru-buru menutup telinga.

Belum sempat Salma menegur, Rony keluar dari ruang kerja sambil bawa gelas kopi. "Apaan ribut-ribut kayak di stadion?!"

"Ayahhh!" Nadira langsung melompat turun dan menghampiri. "Adek boleh ikut Bang El ke Bandung ya? Adek mau jadi cheerleader pribadi!"

Rony melotot, hampir menumpahkan kopinya. "Hei, Bandung itu jauh. Kamu ikut, nanti bukan cheerleader, malah nyasar."

"Enggak lah, Yah! Adek kan pinter! Bisa bawa Google Maps!" Nadira menunjuk dadanya sendiri dengan bangga.

Rony menghela napas panjang. "Kamu tuh, bocil, mau bawa Google Maps aja belum bisa baca peta. Yang ada nanti kamu salah masuk ke kandang kambing."

Salma ngakak sampai hampir jatuh duduk. "Mas, tega banget ngomong gitu ke anak sendiri."

Tiba-tiba Nay keluar dari kamarnya sambil bawa laptop, wajahnya setengah bete. "Astaga, ada apa sih berisik banget? Dari tadi aku mau zoom kelas, tapi suara cheerleader KW lima kedengeran sampe kamar."

"Adek bukan cheerleader KW!" Nadira langsung protes. "Adek cheerleader asli buat Bang El!"

Nay menatap adiknya dari ujung kepala sampai kaki. "Cheerleader asli pake kaos belel sama rambut acak-acakan kayak singa tidur? Please deh, Dek."

Salma langsung ngakak lagi, sampai harus duduk.

Rony pura-pura serius. "Tuh, dengerin kata kakakmu. Bukan cheerleader, tapi cheer-monster."

"Ayahhh!" Nadira makin manyun. "Kalian bertiga jahat semua! Adek lapor Mr. Bunny aja deh!"

Ia buru-buru lari ke kamarnya sambil teriak, "Mr. Bunny, mereka nggak ngerti cita-cita adek!!!"

Salma masih ketawa, menoleh ke Nay. "Kamu tuh kalau ngomong sama adik jangan sadis-sadis amat kak."

Nay mengangkat bahu santai. "Lho, nay realistis aja, Bun. Lagian, coba bayangin kalau beneran Nadira naik panggung. Bisa-bisa konser berubah jadi acara dongeng."

Rony langsung ngakak sambil geleng-geleng. "Hahaha, bener juga. Penonton bukannya jingkrak, malah tepuk tangan sambil dengerin cerita kelinci imajiner."

*

Keesokan harinya, suasana rumah kembali riuh. El sudah siap-siap dengan ransel dan gitarnya, rambutnya diikat rapi, wajahnya tampak percaya diri.

"Bundaaa, Ayahhh, El berangkat dulu ya," katanya sambil turun tangga.

Salma langsung keluar dari dapur, masih pakai celemek. "Lho, kok cepet banget? Sarapan dulu dong, Nak."

NIKAH KONTRAK 🍣Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang