Pagi itu rumah keluarga aksara ini lebih riuh dari biasanya. Nadira sudah duduk di lantai ruang tengah dengan segunung boneka dan mainan di sekelilingnya. Dari boneka panda jumbo, kelinci, barbie berjejer, sampai mobil-mobilan yang bahkan bannya ada yang copot.
“Bunda, ini semua mainan Adek. Koleksi,” katanya penuh bangga sambil menepuk-nepuk boneka pink di sampingnya.
Salma yang baru saja keluar dari dapur dengan celemek masih terikat di pinggang, tersenyum melihat pemandangan itu. “Banyak banget ya, Dek… kalau dihitung-hitung, Adek punya lebih banyak boneka daripada pelanggan toko Bunda setiap hari.”
Rony yang baru turun dari kamar, masih dengan kaos oblong dan rambut sedikit acak-acakan, ikut nimbrung. Dia jongkok di depan Nadira, menyapu pandangan ke arah mainan yang memenuhi karpet. “Wah, Princess kecil Ayah kayaknya punya kerajaan mainan nih.”
Nadira nyengir bangga. “Iya dong. Ini semua teman Adek kalau tidur. Kalau nggak ada mereka, Adek sepi.”
Salma menaruh teh di meja, lalu duduk di sofa. Pandangannya bertemu dengan Rony. Ada sinyal kecil yang hanya bisa dimengerti pasangan suami istri. Rony mengangguk tipis, seolah mereka sudah sepakat sesuatu.
“Dek…” Rony mulai pelan, suaranya lembut tapi serius. “Adek tahu nggak, nggak semua anak punya mainan sebanyak ini?”
Nadira mengernyit. “Maksudnya?”
Salma menimpali, “Ada anak-anak di luar sana yang bahkan boneka satu aja nggak punya. Mereka mainnya cuma pake botol bekas atau kertas lipat sederhana.”
Nadira terdiam sebentar. Tangannya otomatis memeluk boneka panda yang semalam jadi senjata perdamaian dengan Ayah. “Kasian banget mereka, Bun…”
Rony mengusap kepala Nadira. “Makanya, Ayah sama Bunda kepikiran. Gimana kalau kita pilih beberapa mainan Adek yang udah jarang dipakai, terus kita kasih ke mereka. Supaya mereka juga bisa ngerasain bahagia kayak Adek.”
Mata bulat Nadira berbinar, tapi raut wajahnya masih ragu. “Tapi… nanti Adek main sama siapa kalau mainannya dikasih semua?”
Salma terkekeh kecil. “Bukan semua, sayang. Hanya yang Adek udah jarang sentuh. Yang masih bagus, tapi Adek udah nggak mainin lagi. Kayak boneka yang udah lama disimpen di pojok lemari itu loh.”
Rony menambahkan, “Berbagi itu bukan berarti kehilangan. Berbagi itu artinya bikin kebahagiaan jadi dua kali lipat. Adek bahagia karena bisa berbagi, mereka bahagia karena bisa dapet mainan.”
Nadira menggigit bibir kecilnya, lalu menatap tumpukan mainan. Wajahnya jelas penuh perhitungan, seolah lagi memilih barang lelang. “Hmm… kalau gitu… barbie yang rambutnya udah kusut boleh nggak?”
Salma menahan senyum. “Itu boleh, tapi coba juga pilih yang masih rapi, biar anak-anak di sana juga seneng.”
Rony tiba-tiba berbisik dramatis, “Hakim kecil, ini saatnya Adek menegakkan keadilan buat teman-teman baru. Mereka butuh mainan yang bisa bikin mereka tertawa.”
Nadira langsung mengangkat dagu, wajahnya penuh wibawa pura-pura. “Baiklah. Hakim kecil akan memilih.”
*
Siang hari pukul 13.00 El baru pulang dari studio. Rambutnya masih agak basah kena keringat, gitar tergantung di punggung. Begitu lihat ruang tengah penuh boneka, dia melongo. “Astaga, ini mau buka toko mainan apa gimana?”
Nadira langsung heboh lari ke arahnya. “Bang El! Adek mau kasih mainan buat anak-anak di panti asuhan!”
El yang masih ngos-ngosan langsung tertawa. “Wah, pinter banget princess kecil. Bang El dukung seribu persen!”
KAMU SEDANG MEMBACA
NIKAH KONTRAK 🍣
RomansaRony aksara parulian seorang artis terkenal yang menikah dengan Salma alletha demi menutupi skandal cinlok dengan artis lain . Akankah pernikahan mereka berlanjut dan menimbulkan perasaan cinta diantara keduanya atau sesuai dengan keputusan awal ko...
