Matahari baru menembus tirai tipis jendela rumah sakit. Ruangan masih tenang, hanya terdengar suara mesin infus yang menetes perlahan. El perlahan membuka matanya, tubuhnya masih lemah tapi pikirannya lebih jernih dibanding semalam.
Ia menoleh ke kanan. Di sana, ayahnya masih duduk di kursi, kepalanya terjatuh ke samping, tertidur dalam posisi duduk. Wajah Rony terlihat begitu lelah, ada garis-garis tegang yang tidak biasa di wajahnya, dan mata yang bengkak seolah habis banyak menangis.
El terdiam lama, hatinya perih. Dengan suara serak, ia memanggil pelan,
"Ayah..."
Rony tersentak bangun. Ia mengucek matanya, lalu buru-buru mendekat. "El? Kamu udah bangun, Nak? Gimana rasanya? Masih sakit?"
El tersenyum tipis, meski ada getir di wajahnya. "Masih agak sakit... tapi nggak separah semalam. Ayah... ayah nggak tidur semalaman ya?"
Rony menggeleng, tersenyum hambar. "Ayah nggak apa-apa. Yang penting kamu baik-baik aja. Ayah kuat, bang."
El menatap ayahnya lama, lalu berkata lirih,
"Ayah... jangan bohong sama abang. Abang lihat wajah Ayah. Ayah capek, kan? Ayah juga takut, kan?"
Rony terdiam, menunduk. Tangannya otomatis meraih tangan putranya, menggenggam erat. "Ayah... iya, Ayah takut, El. Ayah nggak pernah setakut ini seumur hidup Ayah. Waktu lampu panggung itu jatuh, Ayah merasa dunia runtuh. Ayah cuma bisa doa supaya anak Ayah masih hidup..." suaranya pecah, dan air mata yang ia tahan sejak malam kembali jatuh.
El memejamkan mata sejenak, air matanya ikut mengalir. "Ayah... maaf ya, el bikin Ayah dan Bunda cemas setengah mati. El... el nggak nyangka semua ini bakal terjadi."
Rony menggeleng cepat, menahan tangisnya. "Jangan minta maaf, Nak. Kamu nggak salah. Ini musibah. Ayah cuma... nggak tahan lihat kamu di ranjang dengan kaki begitu. Ayah pengen tukar posisi sama kamu kalau bisa."
El menatap ayahnya dengan mata berkaca. "Ayah jangan bilang gitu... el nggak mau kehilangan Ayah. Kalau el harus begini, ya ini ujian el. Jangan ditukar. El sanggup kok... asal Ayah percaya el sanggup."
Rony menunduk, menatap anaknya penuh haru. "Kamu masih muda, El. Jalan kamu masih panjang. Ayah cuma khawatir... kalau kamu patah semangat, kamu bisa hancur."
El menarik napas panjang, lalu tersenyum kecil meski air matanya mengalir. "Ayah... el memang takut. El tahu bakal berat. El nggak bisa nyanyi di panggung sebentar lagi. El harus duduk di kursi roda, sementara teman-teman el jalan. Tapi... el masih punya kalian. Bunda, Nay, Nadira, dan Ayah. Selama kalian ada, el nggak akan jatuh."
Rony akhirnya menangis tanpa bisa menahan. Ia menunduk, mencium kening putranya lama sekali. "Nak... kamu nggak tahu betapa berharganya kata-kata itu buat Ayah. Kamu memang anak Ayah yang paling kuat. Ayah bangga sekali sama kamu."
El ikut menangis, lalu menggenggam tangan ayahnya lebih erat. "Ayah jangan lagi pura-pura kuat sendirian. El bisa lihat Ayah rapuh semalam. Ayah nggak harus selalu kelihatan tegar, Ayah juga manusia. Kalau Ayah capek, istirahat. Biar el yang coba bikin Ayah kuat kali ini."
Rony terdiam, lalu mengangguk pelan sambil terisak. "Iya, Nak... iya... Ayah janji. Tapi kamu juga jangan sembunyiin rasa sakit kamu dari kita. Kita keluarga. Kita tanggung sama-sama."
Mereka berdua terdiam dalam tangis. Rony masih menggenggam tangan El erat, sementara El menatap ayahnya dengan mata penuh air, tapi ada senyum tulus di sana.
Tak lama kemudian, Salma terbangun di sofa, melihat pemandangan itu. Air matanya langsung jatuh lagi. Ia mendekat, menaruh tangannya di bahu suaminya.
"Mas... El..." suaranya bergetar. "Kalian berdua sama-sama keras kepala. Padahal keduanya sama-sama saling sayang."
KAMU SEDANG MEMBACA
NIKAH KONTRAK 🍣
RomansaRony aksara parulian seorang artis terkenal yang menikah dengan Salma alletha demi menutupi skandal cinlok dengan artis lain . Akankah pernikahan mereka berlanjut dan menimbulkan perasaan cinta diantara keduanya atau sesuai dengan keputusan awal ko...
