143. Bekal hidup

724 74 26
                                        

Disclaimer! Siapkan tissue dan menyendiri kalo perlu, biar gak keliatan orang 🤏😂

Jam menunjukkan 15.02.

Ruang keluarga adem. Tirai setengah tertutup.  TV menyala pelan. Mereka lagi nonton film keluarga sore-sore sambil nunggu buka.

Nadira duduk selonjoran di lantai, bersandar ke kaki Rony, El dan Nay di sofa, Salma duduk di ujung, tangannya sesekali merapikan rambut Nadira.

Di TV ada adegan ayah kecil yang dijemput orang tuanya di sekolah. Si anak lari, dipeluk, lalu diajak beli es krim.

Nadira tiba-tiba mendongak. “Ayah.”

“Iya, Dek.”

“Ayah dulu kecilnya ada yang ajak main nggak?”

Remote TV berhenti ditekan, suasana berubah pelan, el menoleh, nay ikut melihat Ayahnya.

Rony diam sebentar lalu tersenyum kecil.

“Ada,” katanya pelan. “Tapi cuma satu.”

“Siapa?” tanya Nadira cepat.

“Arka”

“daddy arka?” Nay ikut penasaran.

Rony mengangguk pelan.

“Waktu kecil, Ayah mainnya cuma sama Daddy. Ke mana-mana berdua.”

Nadira mengerutkan kening kecil. “Terus oma opa?”

Rony menyandarkan punggungnya ke sofa. “Oma, Opa kalian… mereka sibuk banget kerja.”

Ia menatap layar TV, tapi pandangannya seperti jauh.

“Dulu perusahaan Opa belum sebesar sekarang. Mereka kerja dari pagi sampai malam. Pagi cuma sempat sarapan bareng… habis itu berangkat semua. Mami dan Papi ke kantor. Ayah dan Daddy ke sekolah.”

“Terus?” bisik Nay pelan.

“Pulang sekolah, yang jemput bukan Mami Papi tapi sus.”

Sunyi, nadira pelan-pelan duduk lebih tegak. “Ayah pernah sedih?” tanyanya hati-hati.

Rony tersenyum tipis. “Pernah.”

El menelan ludah. “Waktu kecil Ayah sempat mikir… Mami Papi nggak peduli.”

Salma menoleh pelan ke arah suaminya.

“Tapi makin gede, Ayah mulai ngerti,” lanjut Rony

“Mereka kerja kayak orang gila bukan karena nggak sayang. Tapi karena mau pastiin Ayah sama Daddy nggak kekurangan apa-apa.”

Nay pelan bertanya, “Dan semua dikabulin ya?”

Rony terkekeh kecil. “Semua. Mau sepatu apa, mainan apa, les apa… dikabulin.”

“Tapi…” gumam El.

“Iya,” potong Rony lembut. “Mainan banyak nggak selalu sama dengan waktu.”

Sunyi lagi, nadira menyentuh tangan Ayahnya. “Ayah sama Daddy sering main apa?”

“Banyak. Bola di halaman, balapan sepeda, bikin tenda dari selimut di kamar.”

Rony tersenyum mengingatnya. “Tapi ya… tetap rasanya beda.”

“Kenapa?” tanya Nadira.

“Karena kadang Ayah pengen yang ajak main itu Mami atau Papinya ayah.”

Salma menggenggam tangan Rony pelan, rony melanjutkan. “ tapi semua berubah waktu Ayah SMA dan Daddy sudah SMP.”

“Waktu itu perusahaan Opa kalian sudah besar banget. Aman, stabil. Mereka nggak lagi dikejar-kejar utang atau proyek.”

NIKAH KONTRAK 🍣Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang