144. ngambek

1.2K 93 42
                                        

Pagi hari.

Cahaya matahari sudah masuk lewat celah tirai kamar. Suasana rumah masih cukup tenang, hanya terdengar suara aktivitas dari dapur dan langkah pelan para pekerja rumah.

Rony berdiri di depan cermin kamar, sedang merapikan dasi sambil sesekali melihat jam di pergelangan tangannya.

Di belakangnya, Salma keluar dari walk-in closet sambil membawa jas suaminya.

“Mas.”

Rony menoleh sedikit. “Iya, sayang?”

Salma mendekat lalu membantu memakaikan jas itu ke tubuh Rony. Tangannya merapikan bahu jas dengan teliti seperti kebiasaan yang sudah dilakukan bertahun-tahun.

“Meeting pagi ini banyak?” tanya Salma pelan.

Rony mengangguk kecil. “Lumayan.”

Salma diam sebentar. Tangannya masih merapikan kerah jas suaminya walau sebenarnya sudah rapi.

Rony memperhatikannya lewat cermin. “Ada apa?”

Salma menghela napas kecil. “Mas…”

“Iya?”

Ia akhirnya menatap langsung ke wajah Rony. “Hari ini pulang agak cepet bisa nggak?”

Rony sedikit terdiam.

Bukan karena tidak mau menjawab, tapi lebih karena ia tahu permintaan itu jarang sekali keluar dari mulut istrinya.

“Kenapa?” tanyanya lembut.

Salma mengangkat bahu kecil. “Nggak kenapa-kenapa.”

Rony mengangkat alis. “sayang? .”

Salma menghela napas lagi lalu memegang kedua sisi jas suaminya. “Cuma pengen Mas pulang agak siang aja.”

“Agak siang itu jam berapa?”

“Ya… sebelum buka puasa.”

Rony tertawa kecil. “Biasanya kan mas memang pulang sebelum buka.”

Salma langsung menatapnya datar. “Mas tahu maksudku.”

Rony mengusap tengkuknya pelan. “sayang… kadang memang ada meeting sampai sore.”

“Aku tahu.” Salma menjawab cepat, seperti sudah menyiapkan kalimat itu.

“Aku nggak maksa kok.” Ia menunduk sebentar lalu menghaluskan bagian depan jas Rony.

“Kalau memang nggak bisa ya nggak apa-apa.”

Rony menatap wajah istrinya yang terlihat sedikit menahan sesuatu. “kamu pengen apa?” tanyanya lagi.

Salma tersenyum kecil. “Pengen jalan.”

“Jalan?”

“Iya.” Ia mengangguk kecil. “Keliling sebentar sebelum buka.”

Rony memperhatikannya. “Beli takjil?”

Salma langsung mengangguk. “Iya.”

Rony tertawa pelan. “kamu itu ya…”

Salma langsung menyipitkan mata. “Kenapa?”

“Kayak anak kecil.”

Salma mencubit pelan lengan suaminya. “Mas!”

Rony tertawa lebih jelas sekarang. Salma akhirnya ikut tersenyum walau masih sedikit cemberut.

“Aku cuma pengen sekali aja,” gumamnya pelan.

Rony menatapnya sebentar. “Tapi kalau memang Mas sibuk--”

Belum selesai Salma bicara, Rony sudah memegang tangannya. “mas usahakan ya.”

NIKAH KONTRAK 🍣Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang