170. kecewa

753 63 9
                                        

Jam menunjukkan pukul 07.15.

Pagi itu meja makan sudah terisi. Salma baru saja meletakkan semangkuk sup hangat di tengah meja, sementara Nay duduk dengan rambut yang masih dijepit asal sambil membuka ponselnya. Nadira yang masih mengenakan seragam SD sibuk mengaduk susu coklatnya dengan sendok kecil.

Rony duduk di ujung meja sambil membaca berita di tablet seperti biasa, tapi ada satu hal yang tidak biasa. Satu kursi kosong.

Kursi El.

Sudah hampir seminggu terakhir kursi itu lebih sering kosong daripada terisi.

"Yah," panggil Nadira sambil menggigit roti bakarnya.

"Hmm?" Rony mengangkat wajahnya dari tablet.

"Abang pulang kapan?"

Rony melirik kursi kosong di seberangnya sebelum kembali menatap putri bungsunya. "Katanya hari ini."

Wajah Nadira langsung cerah. "Serius?"

"Iya."

"Alhamdulillah."

Salma tersenyum kecil melihat reaksi anaknya. "Kangen ya sama Abang?"

Nadira langsung mengangguk cepat. "Banget."

Nay terkekeh pelan. "Padahal tiap malam video call."

"Itu beda."

"Beda gimana?" goda Nay.

Nadira cemberut kecil. "Kalau video call nggak bisa dipeluk."

Semua langsung tertawa kecil, bahkan Rony ikut tersenyum. Namun senyumnya tidak bertahan lama karena matanya kembali jatuh pada kursi kosong itu.

"Besok Family Day, kan?" tanya Salma sambil menuangkan teh ke cangkir suaminya.

"Iya! Abang janji dateng" jawab Nadira cepat sebelum siapa pun sempat bicara.

Rony yang baru mengangkat cangkirnya langsung berhenti. "Janji?" tanyanya pelan.

Nadira mengangguk semangat. "Waktu video call tiga hari lalu."

"Nggak lupa?"

"Nggak."

Rony mengangguk kecil lalu menyesap tehnya. Tidak ada komentar lain.

Namun Nay yang duduk di hadapannya sempat menangkap perubahan kecil di wajah ayahnya.

Sangat kecil, hampir tidak terlihat tapi ada.

"Adek juga mau lihat Family Day besok," lanjut Nadira sambil memainkan ujung seragamnya. "Kata Bu Guru nanti ada lomba keluarga."

"Wah," sahut Nay. "Berarti Ayah pasti kalah lari."

Rony langsung menoleh. "Nay."

Nay tertawa. Salma ikut terkekeh sambil menutupi mulutnya. "Mas, umur nggak bohong."

"Terima kasih dukungannya." Mereka kembali tertawa.

Suasana tetap hangat tetap seperti keluarga yang biasa menghabiskan pagi bersama.

Namun beberapa menit kemudian, ponsel Rony bergetar di atas meja. Nama El muncul di layar.

Nadira yang melihat langsung berseru, "Abang!"

Rony mengangkat panggilan itu lalu menyalakan speaker. "Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam," jawab semuanya hampir bersamaan.

Suara El terdengar sedikit serak dari seberang sana. "Pagi."

"Pagi, Bang!" Nadira langsung semangat.

"Si kecil sudah berangkat sekolah?"

NIKAH KONTRAK 🍣Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang