112. gak sendirian

1.4K 87 14
                                        

Pagi itu, sinar matahari menembus perlahan dari sela-sela gorden kamar El. Cahaya lembut menyentuh wajahnya yang masih sedikit bengkak karena tangis semalam. Suara burung dari luar terdengar samar, membawa ketenangan yang berbeda dari hari-hari sebelumnya.

El membuka mata perlahan. Pandangannya sempat buram, tapi begitu fokusnya kembali, ia membeku sejenak. Di sisi kanannya, Salmatertidur dengan posisi miring, satu tangannya masih melingkar di pinggangnya. Di sisi kirinya, Rony tertidur bersandar di sandaran ranjang, masih dengan pakaian yang sama semalam, wajahnya tampak lelah tapi tenang.

Beberapa detik, El hanya menatap mereka berdua. Ada sesuatu yang menekan dadanya, tapi bukan kesedihan kali ini melainkan hangat yang pelan-pelan menyebar. Ia baru sadar, mereka berdua pasti tidak tidur di kamar sendiri semalam… mereka memilih untuk menjaganya.

Tangannya terangkat pelan, menyentuh jemari Salma yang masih menggenggam lengan bajunya. Jemari itu dingin, tapi lembut, menenangkan. Ia menatap wajah bundanya yang tertidur dengan ekspresi damai, meski sisa lelah jelas masih tampak.

“Bunda…” bisiknya pelan, suaranya nyaris tak terdengar. “Maaf ya, Bun…”

Rony bergeser sedikit di sebelah kiri, tapi belum terbangun sepenuhnya. El melirik ke arah ayahnya, melihat bagaimana pundak tegap itu kini tampak menurun karena lelah. Ada guratan di bawah matanya bekas malam tanpa tidur yang sudah terlalu sering.

Air mata menetes lagi, tapi kali ini berbeda. Bukan karena sedih, melainkan rasa bersalah bercampur hangat yang sulit dijelaskan.
“El beruntung banget punya kalian…” gumamnya dengan suara serak.

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu pelan-pelan mengusap air matanya sendiri agar tidak membangunkan mereka. Tapi sentuhan lembut di bahunya membuatnya menoleh Salma sudah membuka mata, menatapnya dengan senyum hangat meski masih setengah sadar.

“Udah bangun, Nak?” suaranya lembut, penuh kasih.

El cepat-cepat mengangguk, tersenyum kaku. “Iya, Bun… maaf… Bunda belum tidur nyenyak ya?”

Salma menatap wajah anak sulungnya, lalu tersenyum lebih lebar, matanya sedikit berkaca. “Gak apa-apa, Nak. Yang penting kamu udah tenang sekarang.” Ia mengelus pipi El pelan. “Tadi malam… Bunda takut banget, Nak. Bunda gak mau kehilangan kamu.”

Mata El kembali memanas. “El gak mau nyakitin diri, Bun… El cuma… gak tahan aja. El ngerasa gagal terus.”

Rony yang kini ikut terbangun mengangkat wajahnya pelan, suaranya serak tapi lembut, “Nak, gak ada yang gagal. Kamu cuma lagi berjuang. Orang yang berjuang gak pernah gagal.”

El menunduk. “Tapi semalam El udah buat Bunda panik… Ayah juga pasti capek banget. El nyusahin terus.”

Rony langsung menggeleng, mengusap rambut El. “Nyusahin gimana, hah? Kamu itu anak Ayah. Kalo kamu jatuh, ya Ayah sama Bunda tugasnya buat nangkep kamu. Itu bukan nyusahin, Nak, itu bagian dari sayang.”

Salma tersenyum samar, menambahkan, “Kamu boleh sedih, boleh marah, boleh takut… tapi jangan sendirian, ya. Jangan simpen sendiri kayak semalam.”

Ia menatap mata El lembut. “Kalau kamu ngerasa gak kuat, panggil Bunda. Panggil Ayah. Biar kita nangis bareng, gak papa.”

El menatap mereka lama, matanya mulai berkaca lagi. Ia mengulurkan tangan, menggenggam jemari ayah dan bundanya bersamaan.
“Terima kasih, ya… udah selalu di sini.”

Rony menarik napas dalam-dalam, lalu menepuk tangan El. “Kamu gak sendirian, Nak. Keluarga ini ada buat kamu, selamanya.”

Salma tersenyum lembut, lalu membenarkan posisi selimut El. “Sekarang kamu istirahat dulu, ya. Badan kamu pasti masih pegal. Nanti Bunda buatin sarapan yang kamu suka.”

NIKAH KONTRAK 🍣Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang