134. nemenin

1.1K 84 10
                                        

Pagi berikutnya datang dengan ritme yang lebih teratur, tapi tetap menyimpan degup di dada Nay.

Langit cerah. Udara masih dingin sisa hujan semalam. El sudah siap sejak tadi jaket dipakai, kunci motor di tangan, helm dua tergantung di setang.

Nay turun dari tangga sambil merapikan tas selempangnya.

"Bang," katanya pelan, berhenti di depan pintu. "Nay bisa sendiri ke kampus."

El menoleh, alisnya langsung naik. "Kenapa?"

"Nggak kenapa-kenapa," jawab Nay cepat. "Biasa aja. Tinggal bimbingan."

El menyilangkan tangan. "Justru karena tinggal bimbingan."

Nay menghela napas kecil. "Bang... Nay nggak mau merepotkan."

El mendekat satu langkah. Suaranya tidak keras, tapi tegas. "Denger ya. Ngantar adik itu bukan repot. Itu tanggung jawab."

Nay ingin membantah, tapi El sudah menyodorkan helm. "Ayo."

Nay terdiam beberapa detik, lalu menerima helm itu. "abang keras."

El menyeringai kecil. "Dari dulu."

Perjalanan ke kampus berlangsung lebih sunyi dari biasanya. Angin pagi menerpa, jalanan mulai ramai. Nay memeluk tasnya erat, pikirannya melayang ke banyak hal deadline, pesan dosen, file revisi yang sudah berkali-kali ia buka.

Begitu sampai, El memarkir motor di tempat biasa. Mereka turun.

"Nay," kata El sebelum mereka berpisah arah. "Tadi kamu udah konfirmasi lagi belum? Dosen pembimbingnya ada?"

Nay mengangguk. "Udah. Semalam dibales. Katanya hari ini ke kampus, langsung ke ruangannya aja."

El mengangguk mantap. "Oke. Abang nunggu di kantin. Kalau kelar, kabarin."

Nay tersenyum tipis. "Makasih, Bang."

Ia melangkah masuk gedung, menarik napas panjang sebelum membuka pintu ruang dosen.

Sementara itu El menuju kantin kampus. Ia pesan es teh manis, duduk di kursi paling ujung, matanya sesekali menoleh ke arah gedung tempat Nay masuk. Tangannya mengetuk meja pelan kebiasaan lama tiap ia cemas.

Belum sampai sepuluh menit, langkah Nay sudah terlihat lagi.

El langsung berdiri. Wajah Nay... diam. Terlalu diam.

El mendekat cepat. "Nay?"

Nay berhenti di depannya. Bibirnya bergetar sedikit. "Bang..."

El langsung tahu.

"Kenapa?" tanya El pelan, menahan napas.

Nay menelan ludah. "Dosennya... nggak ada."

El mengerutkan kening. "Maksudnya?"

"Katanya keluar kota," suara Nay mulai pecah. "Staffnya bilang... baru balik entah kapan."

Kalimat itu jatuh berat.

Mata Nay berkaca-kaca. Tangannya mengepal, lalu gemetar. Napasnya jadi pendek.

"Nay..." El langsung meraih adiknya, menariknya ke dalam pelukan tanpa ragu.

Begitu dadanya menempel ke dada El, pertahanan Nay runtuh.

Isaknya pecah.

"Bang..." suaranya tertahan di bahu El. "Capek..."

El mengusap punggung Nay pelan, ritmis. "Iya... keluarin aja. Nggak apa-apa."

Nay menangis lebih keras. "Nay takut... Bang..."

NIKAH KONTRAK 🍣Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang