146. hari kemenangan

924 65 8
                                        

Malam sudah berganti menjadi dini hari. Jam di dinding ruang keluarga menunjukkan pukul 03.00.

Rumah keluarga Aksara masih gelap dan sunyi. Lampu hanya menyala redup di beberapa sudut rumah.

Namun di dapur, lampu sudah terang.

Salma perlahan membuka pintu kamarnya. Ia keluar dengan langkah pelan agar tidak membangunkan siapa pun.

Rony masih tertidur di tempat tidur, napasnya teratur setelah semalam mereka pulang agak larut dari pusat perbelanjaan.

Salma tersenyum kecil melihat suaminya sebentar, lalu ia berjalan keluar kamar.

Ia menuruni tangga dengan langkah ringan. Begitu sampai di lantai bawah, aroma bawang dan santan langsung tercium dari arah dapur.

Salma tersenyum. Ia sudah tahu siapa yang ada di sana. Salma melangkah masuk ke dapur.

Di sana Bibi sudah berdiri di depan meja dapur dengan celemek dan rambut yang diikat rapi. Di depannya ada beberapa bahan yang sudah disiapkan: ayam, santan, bawang merah, bawang putih, lengkuas, serai, daun salam.

Bibi sedang mengiris bawang merah dengan serius. Begitu melihat Salma masuk, Bibi langsung menoleh sambil tersenyum ramah.

“Lho, mbak sudah bangun?”

Salma tersenyum lembut sambil mendekat. “Iya bi.”

Ia melihat jam di dinding dapur. “Bibi juga sudah bangun dari tadi?”

Bibi tertawa kecil sambil terus memotong bawang. “Dari jam setengah tiga mbak.”

Salma langsung menggeleng pelan sambil tersenyum.“Aduh bi… terlalu pagi.”

Bibi mengangkat bahu santai. “Kan banyak yang mau dimasak mbak. Nanti habis sholat Ied keluarga besar juga datang kan.”

Salma mengangguk sambil mulai menggulung lengan bajunya. “Iya juga.”

Ia kemudian melihat bahan-bahan di meja dapur. “Apa saja yang sudah disiapkan?”

Bibi menunjuk satu per satu. “Ayam buat opor sudah dipotong.”

Salma mengangguk sambil memperhatikan. “Sama?”

“Lontong juga nanti.”

Salma tersenyum. “Ah iya… anak-anak pasti cari lontong.”

Bibi tertawa kecil. “El sama Nay biasanya makan banyak kalau opor.”

Salma tertawa pelan. “Kalau Nadira… biasanya lebih sibuk makan kerupuk.”

Bibi ikut tertawa. “Iya benar.”

Salma kemudian mengambil talenan kosong lalu mulai membantu mengupas bawang putih.

Suara kecil dari pisau dan talenan mulai terdengar di dapur yang tenang.

Beberapa detik mereka bekerja dalam keheningan yang nyaman. Salma kemudian berkata sambil tersenyum kecil.

“Rasanya tiap tahun kita selalu mulai masak jam segini ya bi.”

Bibi mengangguk. “Iya mbak. Dari dulu begitu.”

Salma tersenyum hangat sambil mengupas bawang. “Lebaran memang selalu sibuk.”

Bibi menambahkan sambil mengaduk santan di panci. “Tapi enak mbak… rumah jadi ramai.”

Salma mengangguk setuju. “Iya.”

Ia memandang sebentar ke arah ruang makan yang masih gelap dan tenang. “Nanti setelah sholat Ied… pasti penuh"

NIKAH KONTRAK 🍣Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang