Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

178. persiapan

437 35 10
                                        

Nay masih berdiri di tengah dapur dengan kedua tangan bertolak pinggang, matanya berkeliling dari kitchen island, deretan kabinet, sampai kulkas besar yang berdiri di sudut ruangan, sementara Nadira sudah membuka salah satu laci dengan rasa ingin tahu yang begitu besar sampai El buru-buru melangkah menghampiri mereka.

"Eh, eh, eh..." El menahan tangan Nadira sebelum laci itu terbuka terlalu jauh, lalu menatap kedua adiknya dengan wajah curiga. "Kalian tuh kalau lihat rumah orang kenapa langsung kayak petugas inventaris?"

Nay menoleh sambil tertawa kecil. "Bukan rumah orang, Bang."

El mengangkat alis. "Terus?"

"Rumah keluarga."

"NAAY..."

Nay langsung terkekeh sambil mundur satu langkah. "Apa? Bunda juga bilang rumah ini buat kita semua."

Salma yang baru masuk ke dapur langsung menoleh. "Bunda bilang rumah ini buat bang El sama Keysha."

"Iya, Bun," jawab Nay cepat dengan wajah polos, "tapi keluarga kan boleh datang."

"Datang boleh, sering-sering juga boleh. Tapi jangan pindah."

Senyum Nay langsung menghilang. Nadira yang berdiri di sampingnya justru tertawa kecil.

El menunjuk Salma dengan wajah puas. "Nah! Dengar itu."

Nay menghela napas panjang dengan ekspresi kecewa yang dibuat-buat. "Padahal aku udah cocok sama dapurnya."

"Baru lima menit."

"Justru itu, Bang. Chemistry-nya cepat."

Papa Keysha sampai tertawa kecil mendengar jawaban Nay.

El menggeleng sambil berjalan menuju ruang keluarga. "Udah, ayo lihat yang lain sebelum dua orang ini benar-benar mindahin koper."

Nadira langsung berlari kecil mengikuti El. "Bang!"

"Apa?"

"Ada kolam renang nggak?"

El berhenti. "Belum lihat."

Nadira langsung menoleh kepada Nay dengan mata berbinar. "Kak, kalau ada kolam renang kita bawa pelampung."

Nay mengangguk serius. "Sama baju renang."

El menoleh tajam. "Kalian ini mau house tour atau mau bikin itinerary liburan?"

Nay menjawab santai sambil berjalan mundur. "Dua-duanya."

Mereka akhirnya keluar dari dapur dan kembali menuju ruang keluarga.

Begitu pintu kaca besar yang mengarah ke halaman belakang dibuka, Nadira langsung berlari mendekat.

"YA ALLAH!"

Ia menempelkan kedua telapak tangannya ke kaca dengan mata membulat lebar. "Ada taman!"

Nay menyusul dari belakang dan ikut terdiam beberapa detik. "Wow..."

Di balik kaca terbentang halaman belakang yang luas dengan hamparan rumput hijau, beberapa pohon rindang, sebuah gazebo kayu, serta kolam renang yang memanjang di sisi taman dan memantulkan cahaya matahari pagi.

Nadira langsung menoleh kepada El. "Bang..."

"Hm?"

"Adek mau tinggal di sini."

El bahkan tidak perlu berpikir untuk menjawab. "Nggak!."

"Tapi adek belum selesai ngomong."

"Jawabannya tetap nggak."

NIKAH KONTRAK 🍣Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang