162. masih dunia mereka

967 99 21
                                        

Beberapa hari setelahnya...

Kondisi Salma perlahan mulai membaik.

Luka di tubuhnya mulai mengering, warna pucat di wajahnya sedikit demi sedikit kembali hidup meski matanya masih sering terlihat lelah.

Dan hari itu untuk pertama kalinya dokter memperbolehkan Salma menjalani terapi berjalan.

Sejak pagi Salma sudah gelisah.

Perempuan itu duduk di kursi roda di ruang terapi dengan tangan dingin dan napas pendek-pendek. Celana training longgar menutupi kakinya yang masih terlihat jauh lebih kecil dan lemah dari biasanya.

Ruangan terapi cukup luas. Ada pegangan besi panjang di kanan kiri ruangan, matras latihan, dan aroma obat-obatan yang khas.

Salma menatap lurus ke depan dengan wajah pucat, takut, sangat takut.

Rony jongkok di depannya sambil menggenggam kedua tangannya erat. "Hey..." suaranya lembut sekali.

Salma langsung menatap suaminya dengan mata yang sudah berkaca-kaca duluan.

"Aku takut gak bisa berdiri..." bisiknya kecil.

Rony langsung mengusap punggung tangannya pelan. "Gak apa-apa takut. Pelan-pelan aja, hm?"

El berdiri di sebelah kursi roda sambil diam memperhatikan bundanya penuh cemas.
Nay duduk di sofa ruangan terapi sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
Sedangkan Nadira duduk di pangkuan omanya sambil terus melihat bundanya tanpa berkedip.

Fisioterapis mulai mendekat pelan. "Kita coba berdiri dulu ya bu. Jangan dipaksa."

Salma langsung menelan ludah susah payah, tangannya mulai dingin.

Rony buru-buru berdiri lalu merangkul pinggang istrinya hati-hati. "Aku pegangin."

Salma mengangguk kecil dan perlahan perempuan itu mencoba mengangkat tubuhnya dari kursi roda.

"Akkhh..." wajahnya langsung berubah menahan nyeri.

Kaki kanannya gemetar hebat bahkan sebelum benar-benar menopang tubuhnya sendiri.

"Napas dulu sayang... pelan" suara Rony langsung panik.

Salma mencengkeram lengan suaminya erat sampai kuku-kukunya memutih lalu dengan bantuan pegangan besi dan tubuh Rony, akhirnya dia berhasil berdiri.

Napas semua orang langsung tertahan, salma berdiri meski gemetar meski hampir jatuh meski air matanya langsung turun.

"Aku..." bibirnya bergetar.

Rony langsung memegang wajah istrinya pelan dengan mata ikut memerah. "Iya sayang... iya"

Salma mulai menangis karena bahkan berdiri saja sekarang terasa seperti hal mustahil yang akhirnya berhasil dia lakukan.

"Pinter..." bisik Rony penuh haru sambil mencium keningnya cepat.

El buru-buru membuang wajah karena matanya panas lagi sedangkan Nay langsung nutup mulut sendiri sambil nangis diam-diam.

Terapi hari itu berat sekali.

Salma beberapa kali hampir jatuh karena kaki kanannya belum kuat menopang tubuh.

Beberapa langkah pertama bahkan nyaris gak bisa disebut langkah, lebih seperti tubuh yang dipaksa bergerak sambil menahan sakit luar biasa.

"Akkhh..." Salma menangis pelan waktu kakinya kembali lemas.

Rony langsung menahan tubuh istrinya cepat. "Udah...udah sayang."

Tapi Salma malah menggeleng sambil sesenggukan kecil. "Aku mau coba lagi"

NIKAH KONTRAK 🍣Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang