Sore mulai turun perlahan. Cahaya matahari yang masuk dari jendela kamar rawat El terasa lembut, menyinari wajahnya yang pucat tapi sudah jauh lebih segar dibanding pagi tadi. Di meja samping, gelas berisi jus jeruk sudah setengah habis; Nadira yang membawakannya sejak tadi terus memastikan abangnya minum.
Tiba-tiba pintu kamar diketuk.
"Permisi," suara ramah terdengar. Seorang perempuan muda masuk dengan seragam rumah sakit berwarna biru muda dan membawa alat bantu latihan kecil di tangannya. "Saya Rani, fisioterapis yang akan bantu Mas El latihan sore ini, ya."
Rony segera berdiri dan menyalami. "Oh, iya Mbak Rani. Terima kasih sudah datang."
Rani tersenyum lalu menatap El. "Halo, Mas El. Gimana? Siap mulai sedikit latihan?"
El mencoba tersenyum, meski jelas gugup. "Siap, Mbak. Asal jangan disuruh lari aja, ya."
Rani terkekeh kecil. "Belum, Mas. Tenang, tahap pertama kita cuma belajar gerak ringan dulu. Fokusnya melatih sirkulasi darah dan sendi supaya nggak kaku."
Salma berdiri di sisi ranjang, ikut menatap penuh perhatian. "Kalau sakit gimana, Mbak?"
"Kalau terasa nyeri sedikit wajar, Bu," jelas Rani sambil menyiapkan peralatan. "Tapi kalau sakitnya menusuk atau tiba-tiba berat, langsung bilang. Kita berhenti."
El menarik napas panjang, menatap keluarganya satu per satu. "Oke, kita coba ya..." katanya pelan.
Rani mulai perlahan memandu El menggerakkan jari-jari kakinya yang diperban, lalu mencoba menekuk pergelangan kaki sedikit. Tapi baru beberapa detik, El meringis menahan sakit.
"Hhh...! Sakit, Mbak... rasanya kayak ditusuk."
Rani menenangkan. "Nggak apa-apa, Mas. Tarik napas pelan, jangan ditahan. Ini cuma tahap adaptasi."
Salma refleks meraih tangan El. "Bang, istighfar pelan-pelan. Bunda di sini."
El memejamkan mata, keringat mulai muncul di pelipisnya. Rony berdiri di sisi lain, menepuk bahunya lembut. "Kamu hebat, Nak. Nggak semua orang bisa kuat kayak kamu."
Beberapa menit berjalan, El berhasil menggerakkan kakinya sedikit lebih jauh. Walau wajahnya tegang, matanya menatap lurus ke depan menolak menyerah.
Rani tersenyum bangga. "Bagus, Mas El! Itu sudah jauh lebih baik. Untuk sesi pertama, cukup sampai sini dulu, ya. Jangan dipaksakan."
Begitu latihan selesai, El terkulai lelah di ranjang. Nafasnya terengah, tapi senyum kecil muncul di wajahnya.
"Gimana rasanya?" tanya Rani sambil membereskan alat.
"Sakit... tapi rasanya kayak... ada harapan baru," jawab El jujur.
Semua yang ada di ruangan tersenyum haru. Keysha memegang tangan El, menatapnya lembut. "Aku bangga banget sama kamu."
Nadira yang dari tadi menahan tangis akhirnya memeluk Salma. "Bunda, Abang hebat banget ya..."
Salma mengangguk sambil menyeka air mata. "Iya, Dek. Abang kamu kuat. Dan kita harus lebih kuat lagi buat dia."
Rani menatap mereka, lalu tersenyum. "Keluarga yang seperti ini adalah obat terbaik buat pasien. Kalau terus begini, saya yakin Mas El bisa pulih lebih cepat."
Rony tersenyum hangat. "Amin. Terima kasih banyak, Mbak Rani."
Setelah fisioterapis pamit, ruangan kembali tenang. El masih terbaring, menatap langit-langit dengan pandangan jauh. "Sakitnya nggak seberapa dibanding rasa takut kehilangan mimpi, Yah..." katanya pelan.
Rony menatap anaknya, lalu duduk di samping ranjang. "Mimpi itu nggak hilang, El. Cuma ditunda sebentar. Kadang Tuhan kasih waktu buat kita berhenti sejenak, supaya kita bisa jalan lebih jauh nanti."
KAMU SEDANG MEMBACA
NIKAH KONTRAK 🍣
RomansaRony aksara parulian seorang artis terkenal yang menikah dengan Salma alletha demi menutupi skandal cinlok dengan artis lain . Akankah pernikahan mereka berlanjut dan menimbulkan perasaan cinta diantara keduanya atau sesuai dengan keputusan awal ko...
