160. ICU

1K 105 29
                                        

Malam turun pelan di balik kaca besar rumah sakit.

Lampu lorong ICU yang sejak siang terasa menyilaukan sekarang justru terlihat semakin dingin. Waktu berjalan lambat sekali di tempat itu.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam.

Tapi bagi keluarga Askara, rasanya hari belum bergerak sama sekali sejak kabar itu datang.

Rony masih duduk di kursi paling dekat pintu ICU dengan tubuh membungkuk dan kedua tangan saling menggenggam erat. Kemeja kerjanya kusut, rambutnya berantakan, matanya merah dan kosong.

Sejak siang dia belum berpindah jauh dari sana. Belum makam, belum minum bahkan nyaris tidak bicara.

Tatapannya cuma satu, pintu ICU tempat Salma berada.

Sesekali pintu itu terbuka karena perawat keluar masuk dan setiap kali itu terjadi, kepala Rony langsung terangkat cepat penuh harap.

Namun tetap tidak ada Salma yang keluar.

Tak ada senyum hangat itu, tak ada suara lembut yang biasanya selalu menenangkan semua orang.

Yang ada cuma bunyi monitor samar dari dalam ruangan yang terasa seperti ancaman di telinga mereka semua.

Tak lama kemudian, Papi dan Papa Salma datang kembali dari luar membawa beberapa kantong makanan.

"Coba makan dulu semuanya..." suara Papi pelan sekali.

Tak ada yang langsung merespons.

El duduk di kursi sudut lorong sambil menunduk dalam. Hoodie hitamnya masih melekat sejak pagi, matanya bengkak karena terlalu banyak menangis.

Biasanya anak itu paling susah diam. Tapi sekarang dia bahkan tak punya tenaga untuk bicara.

Arka berjalan mendekat lalu menyerahkan kotak makan pelan. "El... makan dulu."

El menggeleng tanpa mengangkat kepala. "Gak laper"

"Kamu dari tadi belum makan."

"Gak mau" Suara seraknya langsung membuat dada semua orang nyeri lagi.

Arka menghela napas pelan lalu membuka kotak makan itu sendiri. "Satu suap aja, daddy suapin"

El tetap diam.

Sampai akhirnya Arka duduk di depannya dan menyendok nasi pelan seperti membujuk anak kecil.

"El."

El akhirnya mengangkat wajah perlahan. Matanya merah, kosong, hancur.

"Ayo..." suara Arka melembut.

"kamu harus kuat kalau bunda bangun nanti." Kalimat itu langsung membuat bibir El bergetar lagi.

Namun akhirnya ia membuka mulut pelan dan Arka menyuapinya perlahan.

Satu suap lama sekali dikunyah. Seolah bahkan menelan makanan pun terasa berat tanpa Salma di sana.

Biasanya bundanya yang paling ribut memastikan dia makan sebelum manggung.
Yang marah kalau dia telat makan.
Yang selalu nyamperin sambil bawa camilan malam.

Sekarang perempuan itu ada di balik pintu ICU dan El bahkan merasa bernapas saja sulit.

Di sisi lain lorong, Nay duduk bersandar di pundak Mami sambil memeluk dirinya sendiri.

Sejak tadi gadis itu diam, terlalu diam. Tatapannya kosong ke lantai dengan pipi basah air mata yang sesekali jatuh lagi tanpa suara.

"Nay..." Mami mengusap rambut cucunya pelan.

NIKAH KONTRAK 🍣Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang