130. tergores

1.2K 87 13
                                        

Hari sudah menunjukkan pukul empat sore.

Sinar matahari masuk dari sela tirai besar ruang keluarga, jatuh lembut di karpet tempat Nadira duduk bersila. Bocah kelas satu itu sedang menyusun balok warna-warni, sementara Salma duduk di depannya, sesekali membantu menyusun menara kecil yang selalu roboh sebelum jadi.

“Bunda, kalau yang merah di bawah, yang biru di atas… nanti jatuh nggak?” tanya Nadira polos.

Salma tersenyum, ikut duduk lebih dekat. “Coba aja dulu. Kalau jatuh, ya kita susun lagi.”

Rony duduk di sofa, kemeja kerjanya sudah dilepas, tinggal kaus rumah. Tangannya memegang remote, TV menyala dengan suara pelan. Sesekali ia menoleh ke arah Nadira dan Salma.

“Wah, menaranya tinggi banget,” sahutnya. “Adek mau bikin gedung pencakar langit?”

Nadira langsung nyengir bangga. “Iya, Yah! Ini gedung Ayah.”

Rony tertawa kecil. “Oh, pantesan tinggi.”

Di sudut sofa, El bersandar dengan satu kaki naik, fokus ke layar ponselnya. Entah membalas chat atau membaca sesuatu, tapi sesekali matanya ikut terangkat melihat kehebohan kecil di tengah ruangan.

Suasana sore itu hangat. Tenang. Tidak ada tanda-tanda badai.

Jam di dinding berdetak pelan, mendekati pukul lima.

Tak lama kemudian, suara pintu depan terbuka. Semua kepala refleks menoleh.

“kak nay pulang!” seru Nadira spontan, balok di tangannya hampir jatuh.

Nay masuk dengan tas selempang masih menggantung di bahu. Wajahnya terlihat lelah, pundaknya sedikit turun, tapi bibirnya langsung membentuk senyum begitu melihat keluarganya di ruang keluarga.

“Assalamu’alaikum,” katanya.

“Wa’alaikumsalam,” jawab Salma dan Rony bersamaan.

Nay mendekat, menaruh tas di kursi, lalu menunduk mencium tangan ayah dan bundanya seperti biasa.

“Capek, Nak?” tanya Rony sambil mengusap punggung tangan putrinya.

Nay menggeleng cepat. “Enggak kok, Yah.”

Salma memperhatikan wajah anak perempuannya lebih lama. Ada sesuatu di mata Nay sedikit redup tapi Salma memilih tidak berkomentar.

Nay lalu membungkuk ke arah Salma, mencium pipi bundanya. “Bunda.”

Salma tersenyum hangat. “Iya, Sayang.”

Begitu Nay mendekat ke arah Nadira, bocah kecil itu langsung berdiri, matanya berbinar.

“Kak Nay!” Nadira menarik tangan kakaknya. “Adek mau main sama Kakak!”

Nay tertawa kecil, meski suaranya terdengar sedikit dipaksakan. Ia mengusap kepala Nadira. “Kakak mandi dulu ya, Dek. Habis itu kita main.”

“Oke!” Nadira mengangguk patuh. “Adek tunggu.”

Nay mengangguk, lalu melangkah menuju tangga tanpa banyak bicara. El sempat melirik punggung adiknya, alisnya sedikit berkerut, tapi ia tidak berkata apa-apa.

Langkah Nay terdengar pelan menaiki tangga.

Begitu pintu kamarnya tertutup, senyum di wajah Nay langsung runtuh.

Ia meletakkan tasnya sembarang, lalu duduk sebentar di tepi ranjang. Napasnya berat. Kepalanya penuh.

Bayangan toko bunganya kembali muncul.

Sepuluh buket besar.
Satu rangkaian besar dengan vas.

Semua dibatalkan.

Padahal bunga-bunga itu sudah dipesan, sudah datang, masih segar dan mahal. Tidak bisa dikembalikan. Tidak semuanya bisa langsung dijual lagi.

NIKAH KONTRAK 🍣Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang