90. kabar

1.2K 93 3
                                        

Begitu menoleh, matanya langsung bertemu dengan sosok Rony yang duduk di kursi ruang tamu. Kedua tangannya menyatu di depan wajah, dan ponsel masih tergenggam di satu tangan. Di sebelahnya, Nay dan El duduk dalam diam. Wajah mereka tegang. Nadira tertidur di pelukan Nay, masih mengenakan baju rumah, pelipisnya tampak berkeringat.

Rony mendongak pelan. Tatapannya menusuk. Bukan marah yang meledak-ledak. Tapi... dingin. Sangat dingin.

"Salma...dari mana kamu baru pulang?" suaranya pelan, nyaris seperti bisikan. Tapi ada getar dalam tiap katanya.

Salma membuka mulut, tapi kata-katanya tersangkut. Tubuhnya terasa membeku seketika.  

...

Napas Rony tersengal sebentar. "Salma, aku nyaris gila sal."

Salma menggigit bibir lebih keras. "Aku... aku bener-bener gak mikir panjang. Aku cuma pengen bantu..."

...

Rony menatap Salma yang masih berlutut di hadapannya. Napasnya berat. Seolah ada ratusan kata yang ingin keluar, tapi semuanya ia tahan mati-matian.

Bibirnya membuka sedikit. Tapi yang keluar... bukan pelukan. Bukan maaf. Bukan juga pelampiasan emosi seperti yang Salma harapkan atau takutkan.

Hanya satu kalimat pendek.

"Masuk kamar. Bersih-bersih. Istirahat."

Datar. Tanpa emosi.

Salma tertegun. Matanya berkaca lagi. Tapi ia tahu... ia tak boleh membantah malam ini. Perlahan ia bangkit, mengangguk kecil, dan berjalan pelan ke kamar. Tak ada suara langkah kaki, seolah tubuhnya kehilangan tenaga.

.....

El memandang bundanya sejenak, lalu bicara pelan.

"ayah mukanya berat banget, Bun. Dari tadi setelah nyari bunda dan sebelum bunda pulang ayah diem, nggak ngomong sepatah kata pun ke kita juga. Nay tadi sempat mau ajak ngobrol, tapi ayah langsung jalan ke atas."

Bukan cuma khawatir, Rony pasti juga merasa dikhianati, bukan karena cinta, tapi karena kepercayaan yang retak.

.....

....

Salma melangkah satu langkah lebih dekat. Tangannya kini perlahan terulur, menyentuh sandaran kursi Rony dari belakang.

"Mas... kamu kenapa diam? Kamu enggak pernah kayak gini. Marah iya, tapi selalu bicara. Tapi sekarang... diam kamu ini malah bikin aku ngerasa lebih bersalah."

Rony akhirnya bicara. Suaranya rendah, tenang, tapi tegas. Dan ada luka di sana.

"Karena kali ini, Sal... aku pengen kamu ngerasain sendiri, tanpa aku harus jelasin panjang lebar." 

.... 

....

Saat mereka sampai di depan pintu kamar, Rony berhenti. Ia membuka pintunya untuk Salma, lalu berdiri sebentar di ambang.

"udah malem, sekarang tidur... Istirahat," katanya pelan. "Besok kita bicara lagi kalau sudah tenang."

Salma menatapnya, matanya memohon, tapi ia tahu, malam ini bukan waktunya untuk menuntut pelukan, atau pengampunan penuh. Luka di mata Rony masih segar, dan ia memilih menerima itu, sepahit apa pun.

"Kamu gak masuk?" tanyanya pelan.

Rony menggeleng pelan. "Aku tidur di bawah malam ini."

Salma menunduk. Ada bagian dari hatinya yangruntuh mendengar itu. 

... 

...

Nadira memandangi satu per satu anggota keluarganya, dari ujung ke ujung. Lalu ia bersuara, pelan tapi jujur, seperti anak kecil yang belum tahu cara menyimpan rasa:

"Kenapa pagi ini enggak kayak biasanya? Kenapa semua orang diem? Adek takut..."

Dan tiba-tiba... air mata mengalir di pipinya yang chubby. Ia menyembunyikan wajahnya di balik bonekanya.

...

...

"Bun..." bisik Nay, lembut di bahunya. "Kita semua di sini...Nay, abang , Adek. Kita ada buat ayah sama bunda... kita semua tau, bahwa semuanya gak harus berjalan mulus terus, kadang harus ada percikan kecil untuk bisa buat lebih hangat lagi"

Salma memejamkan mata, berusaha menahan gelombang emosi yang ingin tumpah lagi. Ia mengangguk pelan. 

...

...

El menatap lurus ke depan, mengikuti arah pandang ayahnya.

"abang ngerti banget... kenapa Ayah marah."

Rony masih diam, tapi cengkeraman di cangkir kopinya mengencang.

"Ayah itu kepala keluarga, pelindung. abang tahu gimana Ayah selalu ngecek pintu tiap malam, ngecek keamanan rumah. Ayah tuh orang paling waspada yang pernah abang kenal..." 

...

...

"Aku ini mungkin bukan suami terbaik," lanjut Rony, suaranya tercekat. "Tapi kamu... kamu adalah hidupku, Sal. Kamu jantung rumah ini. Tanpa kamu, semuanya mati rasa."

Ia membalik badan, dan untuk pertama kalinya malam itu, menatap Salma dengan mata yang basah.

"Aku nggak tahu harus jadi siapa kalau kamu nggak ada. Aku... aku nggak bisa hidup tanpa kamu." 

...

...

"Aku nggak akan pergi. Aku di sini, Mas. Aku di sini..."

Rony memejamkan mata, air matanya terus mengalir deras, jatuh di bahu istrinya. Pelukannya tak mengendur sedikit pun. Ia seperti anak kecil yang baru saja menemukan kembali tempat aman setelah hilang ditengah keramaian 

... 

...

 Salma menyelipkan kaki di antara kaki Rony, lalu menggenggam tangan suaminya dan meletakkannya di atas perutnya sendiri.

"Pegang aku terus, ya."

"Selalu."

Beberapa detik kemudian, Salma mencium bibir Rony pelan. Bukan kecupan singkat. Tapi bukan juga yang terburu-buru. Ciuman yang penuh rindu. Penuh janji diam-diam.

....

...

kali ini pdf lagi ya
Maaf banget yang udah nunggu tapi aku malah buat pdf 🙏

Pdf :
- Bab 90. kabar
- 13.600 ++ kata
- 49 halaman
- Harga : 10k
WA : 08977097698

Karyakarsa:
Klik link di profil wattpad (12k)
Karena ada potongan 🙏

Minta doanya ya temen temen semua, lusa aku sidang 🙏 semoga lancar semuanya 🥺
Habis sidang aku upload banyak deh ✌

.

NIKAH KONTRAK 🍣Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang