164. idul adha

658 40 43
                                        

Pagi itu ruang terapi terasa jauh lebih ramai dari biasanya.

Biasanya cuma ada Rony yang nemenin Salma latihan sambil duduk tegang di pojok ruangan kayak satpam pribadi.

Tapi sekarang?

Nadira duduk selonjoran di matras sambil makan biskuit, Nay lagi nyender di dinding sambil ngetik pesan buat karyawannya di tokonya dan El sibuk video-in adeknya yang dari tadi ngoceh gak berhenti.

Dan di tengah semuanya, Salma lagi berdiri. Berdiri sendiri.

Memang masih di depan parallel bar terapi.
Memang lututnya masih sedikit gemetar tapi kali ini gak ada tangan yang nahan tubuhnya.

Rony bahkan sampai lupa napas beberapa detik.

Terapisnya tersenyum kecil. "Bagus banget bu... coba tahan pelan."

Salma menggigit bibir kecil sambil fokus berdiri tegak.

Satu detik.
Dua detik.
Lima detik.

"ADEK LIHAT BUNDAAAA! ADEK LIHAT!" Nadira langsung lompat berdiri heboh sendiri.

Salma refleks ketawa kecil sampai tubuhnya sedikit goyah.

"Pelan sayang," Rony langsung maju refleks walaupun sebenarnya Salma masih aman.

Terapisnya malah senyum geli. "Pak Rony lebih tegang dari pasiennya."

Semuanya langsung ketawa kecil.

Rony berdehem salah tingkah tapi matanya gak pernah lepas dari istrinya. Karena demi Tuhan beberapa bulan lalu bahkan duduk lama aja Salma masih kesakitan.

Sekarang perempuan itu berdiri sendiri di depannya.

Salma akhirnya berhasil duduk lagi pelan di kursi terapi sambil ngos-ngosan kecil.

Rony langsung jongkok di depan istrinya lebih cepat dari siapa pun. "Pusing gak?"

"Enggak."

"Kakinya?"

"Masih aman."

"Pinggang?"

Salma langsung ketawa kecil. "Mas..."

"Aku nanya serius."

"Capek dikit aja."

Rony langsung ngusap lutut istrinya pelan penuh hati-hati.

Nadira udah naik ke pangkuan bundanya sambil meluk erat. "Bunda hebat..."

Salma nyium pucuk kepala anaknya lama. "Karena ada adek."

"El juga ada kali." El protes dari belakang.

"Abang tuh cuma numpang rame," Nay nyeletuk datar.

"Abang support system paling lucu," tambah El bangga.

"Paling berisik," timpal Nay cepat.

"HEH."

Ruangan terapi langsung penuh ketawa kecil lagi. Ponsel Salma tiba-tiba bunyi video call.

Mama.

Begitu diangkat, wajah Mama langsung muncul bareng Mami dan dua pria tua favorit mereka yang rebutan masuk kamera.

"Gimana?!" Mama langsung heboh.

"Berhasil ma" jawab Salma sambil senyum kecil capek.

"BUNDA BERDIRI SENDIRI OMA, UTI!" El langsung teriak heboh ke kamera.

Papi sampai tepuk tangan beneran dari sana. "ANAK PAPI HEBAT!"

Papa malah matanya langsung merah walaupun berusaha sok santai. "Ya iyalah anak siapa."

NIKAH KONTRAK 🍣Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang