152. family time

831 52 17
                                        

Pagi datang pelan di villa itu.

Cahaya matahari Bali masuk lembut dari sela tirai tipis, jatuh tepat di wajah Rony yang masih terlelap.

Salma sudah bangun lebih dulu. Matanya terbuka perlahan, butuh beberapa detik sampai sadar sepenuhnya lalu ingatan semalam langsung datang semua.

Villa, anak-anak, keluarga, pelukan, tangis dan sekarang pagi.

Dia memiringkan badan.

Rony masih tidur nyenyak di sampingnya. Wajahnya tenang, napasnya teratur, satu tangan masih tergeletak di atas bantal, seperti benar-benar lepas dari semua beban.

Salma menatap lama, nggak buru-buru bangun. Tangannya pelan naik, menyentuh wajah Rony.

Matanya sedikit berkaca lagi, tapi kali ini bukan karena haru yang berat lebih ke penuh.

Dalam hati, dia berbisik pelan. “Aku punya kebaikan apa dulu ya sampai dikasih suami kayak kamu mas”

Tangannya mulai “iseng”.

Pertama, dia mencet pelan hidung Rony. Nggak ada respon. Dia senyum kecil lanjut ke pipi, dicubit sedikit.

Masih belum bangun. “Wah, pules banget” gumamnya pelan.

Sekarang dia menyentuh bibir Rony, pelan, lalu jari-jarinya naik lagi ke alis, turun lagi ke pipi.

Rony mulai bergerak sedikit, alisnya mengernyit. Salma makin senyum tangannya belum berhenti.

Sampai akhirnya “Sayaaang” suara Rony keluar, berat, setengah sadar.

Salma langsung menahan tawa.

“Jangan gitu, aku masih ngantuk” lanjutnya sambil sedikit memalingkan wajah, masih merem.

Salma terkekeh pelan. “Iya iya tidur lagi,” bisiknya.

Rony langsung diam lagi benar-benar lanjut tidur. Salma geleng kecil sambil senyum.

Dia menatap sekali lagi wajah suaminya, lalu pelan mendekat mencium ringan keningnya.

“Habis ini aku bangunin lagi,” gumamnya pelan.

Akhirnya dia turun dari kasur. Langkahnya pelan, supaya nggak berisik. Begitu keluar kamar, suasana villa masih tenang, tapi nggak kosong.

Aroma masakan sudah mulai terasa dari dapur. Salma mengikuti arah itu dan benar saja…

Di dapur, sudah ada dua sosok yang sibuk.

Uti dan Oma.

Uti lagi di depan kompor, mengaduk sesuatu di panci. Oma di sampingnya, lagi motong bahan dengan rapi.

Salma berdiri sebentar di pintu, memperhatikan. Senyumnya otomatis muncul.

“Pagi” sapa Salma pelan.

Dua-duanya langsung nengok. “Eh, udah bangun?” tanya Uti.

“Pagi, sayang…” sambung Oma hangat.

Salma langsung mendekat. “Iya, kebangun duluan.”

Oma melirik ke belakang. “Rony mana?”

“Masih tidur,” jawab Salma sambil nyengir kecil.

Uti langsung senyum tipis. “Pantes… dari kemarin capek itu.”

Salma mengangguk pelan. “Iya…”

Dia melihat ke meja. “Ini masak apa, Ma?”

“Yang ringan dulu, sarapan,” jawab Uti. “Ada telur, sayur, sama roti nanti.”

NIKAH KONTRAK 🍣Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang