Pagi itu rumah besar keluarga Rony tidak seperti biasanya.
Suara ribut sudah terdengar dari kamar kecil di lantai dua. Nadira berdiri di depan lemari, rambutnya masih berantakan, tapi semangatnya sudah seratus persen. Tangannya sibuk menarik satu per satu baju dari gantungan, membuat beberapa dress nyaris terjatuh.
"Bun! Bunda!" serunya kencang sambil mengangkat dress pink dengan manik-manik di dada. "Baju pink ini aja yaa! Adek mau kelihatan cantik biar bu guru kasih nilai bagus!"
Salma, yang baru selesai cuci muka, berjalan dengan mata setengah terpejam ke kamar anak bungsunya itu. "Ya Allah, dek... baju segede itu dikeluarin semua? Mau rapotan apa mau karnaval?"
Nadira manyun, memeluk dress pink-nya erat-erat. "Tapi kalau cantik kan bu guru makin sayang! Adek harus spesial hari ini, Bun!"
Salma ngakak kecil, lalu jongkok merapikan rambut anaknya yang berdiri seperti singa. "Bu guru udah sayang dari dulu, sayang. Bukan karena dress pink atau biru, tapi karena kamu pinter dan lucu."
"Ayah bilang cantik itu penting," balas Nadira cepat, membuat Salma melongo sebentar.
"Ya ampun, Ayah kamu ngajarin apaan sih ke bocah?" gumam Salma, setengah geli setengah gemas.
Sementara itu, dari dalam kamar mandi di seberang, suara shower terdengar deras. Nadira melipat tangannya di dada, lalu dengan gaya centil menghampiri pintu kamar mandi.
Tok! Tok! Tok!
"Ayaaah! Cepet mandi! Ini kan hari penting adek! Ayah tuh lama banget, kayak kerbau mandi di kaliii!"
Salma langsung menutup mulutnya menahan tawa.
Dari dalam kamar mandi, suara Rony terdengar terkejut. "Hei! Siapa yang ngajarin ngomong kayak gitu?! Jangan kurang ajar sama Ayah, loh!"
Nadira ngakak sampai terpingkal. "Itu adek sendiri yang bikin, Ayah! Cepet yaaa! Jangan lama-lama, nanti bu guru keburu pulang!"
Rony berseru lagi, pura-pura cemberut. "Ayah mandi lama itu karena Ayah harus ganteng dulu! Masa anaknya cantik, ayahnya lecek? Gengsi dong sama wali murid lain!"
Nadira menepuk jidatnya sendiri, wajahnya serius banget. "Aduh Ayah... yang ambil rapot itu adek, bukan Ayah. Bu guru tuh nggak peduli ayah ganteng apa enggak. Yang penting adek cantik!"
Salma ngakak keras sampai hampir jatuh duduk di lantai. "Astaga, bener-bener anak kecil ini. Kamu kalah telak, Mas!"
Rony dari dalam kamar mandi ikutan ketawa, tapi tetap ngotot. "Hei! Bu guru juga pasti seneng kalau lihat ayahnya rapi, biar matching sama bundanya. Ayah kan harus jaga image!"
Nadira geleng-geleng dengan ekspresi ala orang dewasa. "Ya udah, Ayah dandan aja. Tapi jangan lama-lama! Adek kan mau jadi yang pertama terima rapot!"
Salma mengelus dada. "Ya Allah, dek... yang penting rapotnya bagus, bukan jadi yang pertama ambil."
"Tapi kalau adek yang pertama kan keren, Bun! Nanti bisa pamer ke Kak Nay sama Abang El duluan!" jawab Nadira dengan penuh percaya diri.
Salma akhirnya menyerah, lalu mengangkat Nadira ke pangkuannya. "Yaudah, yaudah. Kamu memang calon bos besar. Semua harus sesuai keinginan kamu."
Nadira nyengir lebar, lalu menoleh lagi ke arah kamar mandi. "Ayaaah! Udah belum? Jangan lupa sampoan dua kali yaaa!"
Rony ngakak keras dari dalam. "Ini anak kecil apa manajer pribadi sih?!"
Salma cuma geleng-geleng, sambil dalam hati berpikir Satu rumah bisa gempar hanya gara-gara ambil rapot.
Sekolah TK Nadira pagi itu penuh hiruk pikuk. Anak-anak kecil dengan baju rapi berlarian di halaman, sementara orangtua sibuk saling sapa.
KAMU SEDANG MEMBACA
NIKAH KONTRAK 🍣
CintaRony aksara parulian seorang artis terkenal yang menikah dengan Salma alletha demi menutupi skandal cinlok dengan artis lain . Akankah pernikahan mereka berlanjut dan menimbulkan perasaan cinta diantara keduanya atau sesuai dengan keputusan awal ko...
