Jam menunjukkan 12.30 siang.
Rumah besar keluarga Aksara mendadak sunyi. Setelah drama vas semalam dan sahur yang agak kesiangan, siang itu semua sepakat buat tidur.
Rony sudah lebih dulu rebahan. Salma menyusul lima menit kemudian.
“Mas,” gumam Salma setengah sadar, matanya sudah terpejam setengah, suara berat karena mengantuk.
“Hm?” jawab Rony pelan tanpa membuka mata.
“Jangan bangunin anak-anak aneh-aneh ya,” katanya lirih, alisnya sedikit berkerut walau hampir tertidur.
Rony tidak menjawab karena… sudah tidur.
Jam 14.00 tepat. Mata Rony terbuka.
Bukan karena alarm, bukan karena suara. Random saja.
Ia duduk pelan di tepi kasur, wajahnya masih santai, lalu melirik Salma yang masih tidur pulas dengan posisi miring memeluk bantal.
Rony tersenyum kecil, senyum jahil yang mulai muncul perlahan. Ini waktu yang tepat bikin keributan kecil.
Ia keluar kamar dengan langkah pelan, berusaha tidak menimbulkan suara.
Tujuannya jelas yaitu kamar Nadira.
Pintu diketuk pelan. “Dek…” panggilnya setengah berbisik, wajahnya mendekat ke pintu.
Tak ada jawaban ia buka pelan.
Nadira masih meringkuk, rambutnya berantakan, boneka Mimi terjepit di bawah dagu, napasnya teratur.
Rony duduk di tepi kasur, menatap anak bungsunya dengan wajah gemas.
“Dek…” panggilnya lagi, kali ini sedikit lebih dekat.
Nadira bergerak sedikit. Satu mata terbuka malas.
“Ayah…” gumamnya pelan, suara berat dan serak, wajahnya masih setengah tenggelam di bantal.
Rony tersenyum jahil. “kita nyuci sepeda yuk,” katanya ringan seolah itu ide paling masuk akal di dunia.
Alis Nadira langsung mengkerut. Otaknya mencoba mencerna.
“Hah?” tanyanya lemas, wajahnya benar-benar bingung.
“Nyuci sepeda. Sekalian ayah nyuci motor. Ngabuburit,” jelas Rony santai, bahunya sedikit terangkat.
Nadira menatap langit-langit kamar dengan ekspresi kosong, seperti sedang menghitung ulang hidupnya lalu dia pun menatap jam didinding kamarnya
“Ini masih jam dua, Yah… masih panas,” katanya datar.
“Bukan ngabuburit itu,” lanjutnya sambil memicingkan mata.
Rony cepat menjawab, nada suaranya dibuat meyakinkan. “Enggak panas dong. Rumah kita banyak pohon. Kita nyucinya di bawah pohon. Sambil nyanyi-nyanyi,” ujarnya sambil tersenyum lebar.
Nadira masih menatap kosong beberapa detik.
“Ayo lah temenin ayah” bujuk Rony dengan wajah memelas palsu.
“Ish ayah mahh…” keluh Nadira, lalu menutup wajah pakai bantal dengan gerakan dramatis.
Rony menurunkan bantalnya pelan, wajahnya pura-pura sedih. “Ayah sedih kalau sendiri,” katanya lirih.
Nadira menatap ayahnya, ekspresinya campuran kesal dan tidak tega.
“…Yaudah ayo. Tapi gendong,” katanya akhirnya dengan nada pasrah.
Rony langsung berdiri semangat. “Oke gas ayoo hahaha!” serunya pelan agar tidak terlalu berisik.
Dengan sigap ia menggendong Nadira yang masih setengah lemas.
KAMU SEDANG MEMBACA
NIKAH KONTRAK 🍣
RomansaRony aksara parulian seorang artis terkenal yang menikah dengan Salma alletha demi menutupi skandal cinlok dengan artis lain . Akankah pernikahan mereka berlanjut dan menimbulkan perasaan cinta diantara keduanya atau sesuai dengan keputusan awal ko...
