111. jaga dia sama sama

1.4K 104 18
                                        

Pagi itu, matahari baru menembus sela-sela gorden kamar El. Suara burung di luar terdengar samar, tapi cukup untuk membuat suasana rumah terasa hangat.

El sedang duduk di kursi roda, menatap sepatunya yang rapi, siap untuk latihan terapi. Rony berdiri di samping, memegang tas berisi perlengkapan latihan, sedangkan Salma menyiapkan botol air dan snack untuk bekal di perjalanan.

Di ruang tengah, Nay dan Nadira menunggu. Nadira, dengan rambut acaknya yang selalu tampak lucu, sesekali mengintip dari balik tangga.

“Bang, hari ini latihannya jangan malas, ya,” Nay bersuara sambil tersenyum tipis. “Nanti nay bikinin abang smoothie favorit.”

El tersenyum tipis, tapi tatapannya masih terlihat sedikit lemah. “abang tahu, Nay. Tapi… kaki masih kaku. Takut jatuh lagi.”

Nadira mendekat, menarik selimut di bahu El dengan gaya dramatis. “Takut? Aduh, abang cuma perlu dengar kata-kata motivasi super dari adek aja!”

El tersenyum lebih lebar, sedikit terhibur. “Kata-kata motivasi super dari kamu… kayak apa itu?”

Nadira merentangkan tangan dan mulai bergaya sok tegas, pura-pura menjadi pelatih superhero. “Dengarkan ini, abang ‘Setiap langkahmu itu langkah juara! Jangan biarin kaki kecilmu kalah sama rasa takut! Dan kalau kaki itu mau ngeyel, adek… Nadira si Penakluk Kaki Lemah, siap menghajar rasa takut itu!’”

El tertawa kecil, menutupi mulutnya dengan tangan. “Hahaha… kamu bener-bener random, dek.”

Nadira mengedipkan mata, bangga dengan reaksinya. “Ya iyalah. Aku kan adik bikin ngakak juga. Tugas penting!”

Rony tersenyum, menggeleng pelan sambil menepuk bahu Nadira. “Kamu memang paling bisa bikin abang senyum, Nak. Tapi jangan sampai abang kesakitan nanti di terapi.”

Salma ikut menambahkan, sambil memeriksa botol air di tas “El, ingat ya. Pelan-pelan, jangan terlalu memaksakan diri. Kita mau lihat abang kuat, bukan nyakitin diri sendiri.”

El menunduk sebentar, lalu menatap keluarga kecilnya. “makasih, semua. Kalian selalu ada. Abang… kadang nggak tau harus gimana kalau sendirian.”

Nadira langsung melompat kesisi samping, memeluk El erat. “Ya makanya jangan sendirian! Adek di sini, kak Nay di sini, ayah bunda juga. Kita tim super, abang El kaptennya.”

Nay tersenyum. “Iya, Bang. Kita semua dukung abang. Kalau bang el capek, kita bantuin. Kalau takut… kita bikin ngakak juga.”

El tertawa lagi, kali ini lebih tulus. “Kalian… kalian memang gila semua. Tapi… abang senang.”

Rony menepuk kursi roda El, memeriksa posisi duduknya. “Oke, siap? Kita berangkat ke terapi sekarang. Jangan khawatir, ayah yang bawa. Bunda pegang perlengkapan, kita berangkat santai.”

Salma tersenyum hangat sambil menepuk tangan El. “Siap, Nak. Jangan lupa senyum, biar suasana bagus di mobil.”

Nadira menatap El dari belakang, membuat wajah lucu seolah-olah akan ‘menyemangati’ lagi. “Ingat ya, abang! Tiap langkah kaki itu kayak langkah superhero. Adek bakal ngitung biar abang nggak males.”

El tersenyum lagi, kali ini lebih yakin. “Oke… abang coba. Tapi jangan terlalu keras ya, dek”

Nay berdiri di samping Nadira, menepuk bahu kecil adiknya. “Semangat, Bang. Nay sama adek tunggu kabar nanti. Kalau ada yang nyebelin di terapi, kabarin aja, nanti nay marahin pakai suara galak ala kakak sulung.”

El tertawa keras kali ini, matanya sedikit berbinar. “Hahaha… oke, abang bakal kabarin. Jangan bikin takut orang di sana aja, ya.”

Rony menarik kursi roda, mulai mendorong perlahan menuju mobil. “Ayo, tim super berangkat. Jangan lupa, setiap langkah kecil itu kemajuan besar.”

NIKAH KONTRAK 🍣Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang