⚠️ warning!!! Teman-teman semua, sebelum melanjutkan untuk membaca, aku mau ngingetin di chapter ini ada adegan dewasa. Jadi, untuk yang masih dibawah umur atau yang merasa nggak nyaman, boleh skip aja, ya. Harap bijak dalam memilih bacaan!!!
___ Happy Reading ___
Salsa membelai lembut pipi suaminya yang sejak tadi sibuk menyusu padanya. Posisi mereka sama-sama berbaring saling berhadapan di atas kasur, hanya saja tubuh Lian sedikit lebih rendah, sejajar dengan dada istrinya. Tangannya melingkar santai di pinggang Salsa, sementara wajahnya tampak begitu nyaman berada di sana, seolah menemukan tempat favorit nya sendiri.
Jemari Salsa sesekali menyusuri rambut Lian, mengusapnya pelan dengan penuh rasa sayang. Melihat tingkah suaminya yang begitu menikmati keadaan itu membuat sudut bibirnya terus tertarik membentuk senyum kecil.
"Mentang-mentang Syabil lagi sama Oma-nya, nenennya jadi nggak berhenti-berhenti…" goda Salsa pelan sambil menunduk menatap Lian.
Lian hanya menjawab singkat tanpa melepaskan mulutnya, suaranya terdengar teredam karena masih menempel di dada istrinya. "Biarin…"
Salsa terkekeh kecil mendengar jawaban santai itu. Matanya kemudian melirik ke bawah, dan ia langsung menyadari ada sesuatu yang terasa mengganjal di kakinya. Senyumnya berubah semakin jahil.
"Hmm…" gumamnya sambil menaikkan sebelah alis. "Kayaknya ada yang bangun deh… tapi apa ya?" godanya polos, padahal jelas ia sengaja.
Lian akhirnya melepaskan hisapannya sebentar. Ia melirik istrinya dari atas sampai bawah, lalu menghela napas kecil sambil tersenyum tipis penuh arti. "Itu reaksi normal suami yang udah lama 'puasa'," jawab Lian santai tanpa rasa malu sedikit pun.
Salsa langsung tertawa pelan, bahunya sampai ikut berguncang kecil. "Tegak banget sayang itu.... Nggak ngapa-ngapain padahal, nyusu doang langsung tegak." Ucapnya gemas sambil menepuk pelan kepala suaminya.
Lian malah kembali mendekat, menyandarkan pipinya di dada Salsa dengan nyaman seperti tidak merasa bersalah sama sekali. "Lah emang salah?" tanyanya santai. "Orangnya tiap hari ada di depan mata, dipeluk terus, dicium terus… tapi nggak boleh macem-macem dulu. Berat, Ca…" Nada suaranya terdengar dramatis sampai Salsa makin geli sendiri mendengarnya.
"Sabar lah…" ucap Salsa sambil tertawa kecil. Tangannya kembali mengusap rambut Lian dengan lembut. "Baru juga sebulan lebih…"
"'Baru juga sebulan', katanya…" Lian mendecakkan lidah pelan sambil kembali merebahkan kepalanya di dada istrinya. Ia menghela napas panjang seolah benar-benar menderita, membuat Salsa langsung menahan tawa.
"Sebulan itu lama tau, Ca buat aku…" lanjutnya dramatis. "Ada tiga puluh hari, empat minggu, tujuh ratus dua puluh jam, empat puluh tiga ribu dua ratus menit…" Ia sengaja berhenti sebentar lalu menatap Salsa lekat-lekat. "Dua juta lima ratus sembilan puluh dua ribu detik."
Salsa langsung terkekeh geli mendengar suaminya menghitung sedetail itu. Tangannya naik membelai pipi Lian dengan pura-pura iba, padahal matanya sudah penuh tawa.
"Aduh…" ucapnya sambil menggeleng kecil. "Menderita sekali hidup bapak satu ini…" Nada suaranya dibuat serius, tapi ujung bibirnya tidak bisa berhenti tersenyum. Jemarinya mengusap pelan rambut Lian, menikmati tingkah suaminya yang semakin manja setiap hari.
"Ya habis gimana…" Lian kembali bersuara pelan sambil memeluk pinggang Salsa lebih erat. "Aku tuh sabar…" Ia mengangkat wajahnya sedikit lalu menatap istrinya dengan senyum miring yang penuh arti. "Cuma ya… diuji terus tiap hari."
Salsa spontan menahan tawa lagi. "Diuji apanya coba?" tanyanya pura-pura polos, padahal jelas tahu arah pembicaraan suaminya.
Lian melirik sekilas ke arah dadanya yang sejak tadi jadi sandaran paling nyaman untuknya, membuat Salsa langsung mencubit kecil lengannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fiksi Penggemar"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
