Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Bayi Gede

490 85 19
                                        

Salsa kembali menghela napas pelan sambil tersenyum geli. Entah sudah berapa kali pagi itu ia mencoba membangunkan suaminya yang masih meringkuk nyaman di atas ranjang. Jemarinya kembali menepuk-nepuk pipi Lian dengan lembut, berharap kali ini pria itu benar-benar membuka matanya.

"Sayangku... ayo bangun..." ucap Salsa dengan suara selembut mungkin, jemarinya kemudian mengusap pelan rambut Lian yang masih sedikit berantakan karena tidur.

Sudah hampir tiga puluh menit Salsa berusaha membangunkan suaminya. Berbagai cara sudah ia lakukan, mulai dari memanggil namanya berkali-kali, mengusap wajahnya, mencium keningnya, sampai menggoyangkan bahunya perlahan. Namun, Lian tetap saja bergeming, hanya sesekali bergumam kecil sambil menarik selimut semakin tinggi.

Setelah tubuhnya sempat demam selama beberapa hari, kini kondisi Lian memang sudah benar-benar membaik. Wajahnya sudah kembali segar, suhu tubuhnya normal, dan tenaga pun perlahan pulih. Akan tetapi, ada satu hal yang sama sekali tidak berubah, bahkan justru semakin menjadi-jadi, yaitu sifat manjanya kepada Salsa.

Selama beberapa hari menjalani istirahat total di rumah, Lian hampir tidak pernah jauh dari istrinya. Ke mana pun Salsa pergi, Lian selalu ingin ikut atau setidaknya memeluknya. Kini, setelah dokter memperbolehkannya kembali beraktivitas dan hari ini menjadi hari pertama ia harus masuk kantor lagi, ternyata perjuangan membangunkannya jauh lebih sulit dari biasanya.

"Bangun dong, Ayah... udah mau jam tujuh, astagfirullah..." ucap Salsa lagi sambil melirik jam dinding di kamar. Nada suaranya terdengar sedikit pasrah, tetapi masih dipenuhi kesabaran. Tangannya kembali mengusap pipi suaminya dengan penuh kasih sayang.

Lian akhirnya terusik. Kelopak matanya terbuka sedikit sebelum kembali terpejam. Ia mengerutkan hidung, lalu mengeluarkan rengekan pelan khas anak kecil yang sedang malas bangun.

"Gamau kerjaa... mau di rumah aja sama kamu..." ucap Lian dengan suara serak karena baru bangun tidur. Tangannya langsung mencari tangan Salsa, lalu menggenggamnya erat seolah takut ditinggalkan.

Salsa hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah suaminya. Senyum tipis menghiasi wajahnya, sementara ibu jarinya mengusap punggung tangan Lian dengan lembut.

"Udah seminggu loh, Sayang, nggak masuk kantor. Ya walaupun kamu atasannya, tetap aja nggak boleh gini dong," ucap Salsa sabar. "Kasihan juga karyawan kamu kalau bosnya terus-terusan bolos. Sekarang bangun dulu, ya. Kita mandi dulu biar badan kamu segar."

Lian menggeleng pelan tanpa melepaskan genggaman tangannya. "Masih ngantuk..." gumamnya lirih sambil memejamkan mata lagi.

Salsa terkekeh pelan. Ia kemudian membungkukkan badan sedikit agar wajah mereka sejajar. "Kalau terus tidur nanti malah tambah males. Ayo, Sayang... dimandiin sama aku. Habis mandi badan kamu pasti enakan, terus nanti sarapan, minum obat sama vitamin, baru berangkat kerja."

Lian membuka matanya sedikit, lalu menatap wajah istrinya dengan tatapan memelas. "Mau nenen..." ucapnya polos, membuat Salsa spontan menggeleng sambil menahan tawa.

"Iya nanti," jawab Salsa sambil mengusap pipi suaminya dengan lembut. "Habis mandi nenen dulu sebentar. Janji."

"Janji?" tanya Lian memastikan, ekspresinya masih sama manja.

Salsa menganggukkan kepala tanpa ragu. "Iya, janji. Makanya sekarang bangun dulu. Masa iya mau telat masuk kantor di hari pertama kerja lagi?"

Mendengar janji itu, Lian akhirnya mengembuskan napas panjang. Meski masih terlihat berat meninggalkan kasur empuknya, perlahan ia bangkit ke posisi duduk. Rambutnya acak-acakan, matanya masih setengah terpejam, sementara wajahnya masih memancarkan rasa kantuk yang begitu jelas.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 10 hours ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Our MarriageCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang