Siang itu, mobil yang mereka tumpangi melaju stabil menyusuri jalanan menuju Kota Bandung. Lian duduk di balik kemudi dengan pandangan yang tetap fokus ke depan, sesekali memperhatikan kondisi jalan di hadapannya. Perjalanan kali ini bukan sekadar liburan, sebab Lian memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan di Bandung. Meski begitu, ia tetap berusaha membuat perjalanan mereka terasa nyaman, apalagi Salsa dan Syabil ikut bersamanya.
Satu tangan Lian tetap berada di kemudi, sementara tangan lainnya sesekali mencari tangan Salsa yang berada di dekatnya. Jemarinya menggenggam tangan sang istri dengan hangat, lalu mengusap punggung tangan itu perlahan menggunakan ibu jarinya.
"Sayang, di depan ada rest area. Aku mau isi bensin dulu. Mau beli makan?" tanya Lian sambil tetap memperhatikan jalan.
Salsa yang sejak tadi sibuk memainkan ponselnya akhirnya mengalihkan pandangan kepada suaminya. Ia kemudian melirik ke arah kursi belakang, tempat Syabil sedang tertidur pulas di atas car seat-nya.
"Iya deh, pengen minum. Sebentar lagi Syabil bangun, pasti," jawab Salsa sambil kembali melirik anak mereka. "Suka haus aku kalau nyusuin."
Lian mengangguk kecil. Ia memahami kebiasaan istrinya yang memang lebih sering merasa haus setelah menyusui Syabil.
"Makanannya?" tanya Lian lagi. "Kamu mau makan apa?"
Salsa berpikir sebentar sebelum menggeleng pelan. "Camilan aja, sama beliin buah. Tadi kan udah makan berat," jawabnya santai. "Paling beli minuman sama buah potong atau apa gitu. Jangan terlalu banyak, nanti malah nggak habis."
"Iya, sayang. Nanti kamu tunggu di mobil aja. Aku yang beli," ucap Lian, seolah tidak ingin Salsa repot turun dari mobil bersama Syabil yang masih tertidur.
Salsa mengangguk menurut. Tangannya masih berada dalam genggaman Lian, membuat jari-jari mereka sesekali saling bertaut selama perjalanan.
"Iya, sayangku. Jangan beli kopi dulu, nanti perutnya nggak enak lagi," pesan Salsa sambil menatap suaminya dengan penuh perhatian. "Kemarin aja udah nggak enak badan, sekarang jangan macam-macam lagi. Minum yang aman-aman aja."
Lian tersenyum kecil mendengar perhatian istrinya. Ia tidak membantah sedikit pun. Bahkan, tanpa mengalihkan pandangan terlalu lama dari jalan, Lian mengangkat tangan Salsa yang masih digenggamnya dan mengecup punggung tangannya dengan lembut.
"Iya, istri..." jawab Lian dengan nada patuh yang justru membuat Salsa tersenyum kecil.
Salsa kemudian kembali menyandarkan tubuhnya dengan nyaman di kursi, sementara Lian melanjutkan perjalanan menuju rest area. Sesekali tangannya masih mengusap punggung tangan Salsa, seolah sekadar memastikan istrinya tetap berada dekat dengannya. Di kursi belakang, Syabil masih terlelap dengan tenang, membuat perjalanan kecil keluarga mereka menuju Bandung terasa begitu damai dan hangat.
**
Ketika mobil sudah selesai diisi bensin, Lian mengarahkan kendaraannya menuju area parkir rest area. Ia memilih tempat yang cukup teduh dan tidak terlalu jauh dari pintu masuk supermarket agar tidak perlu berjalan terlalu jauh. Setelah memastikan mobil sudah terparkir dengan baik, Lian mematikan mesin dan suasana di dalam kabin seketika menjadi lebih tenang.
Lian kemudian membuka seatbelt-nya dan menoleh kepada Salsa yang masih duduk di kursi penumpang. Sementara itu, Syabil masih tertidur pulas di car seat yang berada di kursi belakang. Wajah mungilnya tampak tenang, membuat Salsa beberapa kali melirik ke belakang untuk memastikan putrinya masih nyaman.
"Aku beli camilan sama buah potongnya dulu, ya. Nanti video call supaya kamu bisa milih mau camilan apa," ucap Lian sambil merapikan sedikit bajunya sebelum turun dari mobil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fanfiction"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
