Skin to Skin

2.1K 169 22
                                        

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin Lian dan Salsa masih sibuk begadang menenangkan tangis bayi mungil yang baru lahir, masih sama-sama panik saat pertama kali mengganti popok, masih belajar memahami setiap tangisan kecil Syabil. Namun sekarang, tanpa mereka sadari, sudah tiga bulan berlalu sejak kehadiran anak kecil itu mengisi rumah dan hidup mereka dengan begitu banyak warna.

Syabil kini sudah memasuki usia tiga bulan. Usia yang menurut Salsa adalah salah satu fase paling menakjubkan dalam perkembangan bayi. Di usia ini, Syabil mulai jauh lebih sadar dengan lingkungan sekitarnya. Tatapan matanya sudah lebih fokus, pendengarannya semakin peka, dan ekspresinya mulai beragam. Bayi kecil itu bahkan sudah mulai mengenali wajah orang-orang terdekatnya, terutama Lian dan Salsa.

Ia sudah sering tersenyum ketika diajak bicara, tertawa kecil saat merasa senang, bahkan mulai mengoceh dengan suara-suara lucu yang sering membuat kedua orang tuanya gemas sendiri. Tangan mungilnya kini juga mulai aktif bergerak ke sana-sini, kadang menggenggam jari orang, menarik baju, bahkan berusaha meraih mainan yang digantung di dekatnya. Sesekali tubuh kecilnya juga mulai miring sendiri seperti sedang belajar menggulingkan badan.

Dan sekarang, siang itu, Syabil sedang berada di ruang kerja milik Lian bersama Salsa.

Sengaja hari ini Salsa datang ke kantor suaminya sambil membawa makan siang. Selain karena ingin menemani Lian bekerja, ia juga tahu kalau suaminya pasti senang setengah mati kalau melihat Syabil datang ke kantor.

Benar saja. Baru beberapa menit berada di ruangan itu, Syabil sudah berpindah nyaman ke pangkuan Ayahnya.

Lian duduk di kursi kerjanya sambil memangku tubuh kecil anak perempuannya dengan hati-hati. Tatapannya benar-benar tidak bisa lepas dari wajah bulat bayi mungil itu. Rasanya setiap hari Syabil selalu terlihat semakin lucu di matanya.

"Cantiknya anak Ayah ini, Masya Allah..." ucap Lian pelan dengan senyum penuh kagum. Tangannya mengusap lembut rambut halus di kepala kecil anaknya sebelum kembali menatap wajah mungil itu lama sekali seolah tidak pernah bosan.

"Makasih ya, udah bawain makan siang buat Ayah..." lanjutnya lembut sambil tersenyum kecil. "Udah nemenin Ayah kerja juga. Anak Ayah baik banget sih."

Syabil menatap wajah Lian lekat-lekat. Mata bulatnya tampak fokus memperhatikan gerak bibir Ayahnya yang terus mengajak bicara. Seolah benar-benar mengerti kalau dirinya sedang dipuji habis-habisan.

Lalu beberapa detik kemudian, bibir kecilnya perlahan tertarik membentuk senyum lebar.

"Ehehe..." Suara tawa kecil itu langsung lolos begitu saja.

Lian refleks terkekeh gemas. Wajahnya langsung berubah makin lembut sampai matanya ikut menyipit karena terlalu gemas.

"Ih... ketawa anak Ayah?" ucapnya sambil tertawa kecil. "Cantik banget sih kalau ketawa..." Tanpa tahan lagi, Lian langsung menunduk mengecup pipi bulat Syabil berkali-kali dengan gemas.

Sementara itu di meja kecil dekat sofa, Salsa sedang sibuk membuka kotak bekal makanan yang tadi ia bawa dari rumah. Aroma masakan hangat langsung memenuhi ruangan.

Namun melihat Lian yang dari tadi cuma fokus memuji anaknya, Salsa langsung mendelik kecil sambil mendengus pura-pura kesal.

"Harusnya makasih juga sama aku, dong," gerutunya sambil melirik suaminya. "Dari tadi yang dipuji cantik anaknya doang. Padahal yang masak siapa coba?"

Lian langsung menoleh cepat sambil tertawa kecil menyadari istrinya mulai cemburu pura-pura. "Iya sayangkuu..." ucapnya manis dengan nada sengaja dilembutkan. "Cintaku... istriku yang paling cantik... makasih banyak ya."

Our MarriageCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang