"Masya Allah… cantiknya anak Ayah…" ucap Lian pelan dengan suara penuh kelembutan sambil memakaikan topi kupluk bayi ke kepala kecil Syabil yang baru saja selesai ia mandikan.
Tangannya bergerak hati-hati, begitu pelan seolah takut membuat bayi mungil itu merasa tidak nyaman. Aroma khas bayi yang baru selesai mandi bercampur minyak telon lembut memenuhi kamar, menghadirkan suasana hangat yang menenangkan. Rambut halus Syabil yang masih sedikit lembap tampak menempel tipis di dahinya, membuat wajah kecilnya terlihat semakin menggemaskan.
Syabil yang berada di atas kasur menatap wajah Lian cukup lama dengan mata bulatnya yang sedikit sipit. Tatapan polos penuh rasa penasaran itu seolah benar-benar sedang memperhatikan ayahnya. Bibir mungilnya bergerak kecil sebelum tiba-tiba tertarik membentuk lengkungan samar.
"Eh… heh…"
Suara tipis mirip tawa kecil keluar pelan dari mulut mungilnya.
Lian langsung terdiam sepersekian detik sebelum tawanya pecah pelan. Wajahnya spontan melunak penuh gemas. "Masya Allah…" bisiknya lirih, seolah takut merusak momen kecil itu. "Cantik banget kalau senyum…"
Tangannya terangkat mengusap pipi chubby Syabil dengan punggung jari secara hati-hati. Pipi bayi itu terasa hangat dan empuk, membuat Lian makin tidak bisa menahan gemasnya.
Salsa yang sejak tadi duduk bersandar di kepala ranjang sambil memperhatikan interaksi ayah dan anak itu langsung mendengus kecil. Tatapannya sebenarnya penuh sayang, tetapi tetap saja ada nada protes manja di wajahnya.
"Anak Ayah, anak Ayah… terus," gerutunya sambil menyipitkan mata ke arah suaminya. "Anak aku juga ya, bukan anak kamu sendiri."
Lian langsung tertawa kecil mendengar nada cemburu pura-pura itu. Ia menoleh ke arah istrinya dengan senyum lebar yang tidak hilang dari wajahnya. "Iya, iya… anak Ayah-Ibu…" balasnya santai sambil terkekeh kecil. Salsa memutar bola matanya pelan, tapi sudut bibirnya ikut terangkat.
Setelah memastikan topi kecil itu terpasang rapi, Lian berdiri di dekat kasur sambil masih menatap Syabil penuh kagum. Di saat itulah Salsa bergerak mendekat lalu memeluk tubuh suaminya dari belakang. Kedua tangannya melingkar di pinggang Lian, sementara pipinya menempel di bahu laki-laki itu.
"Makin gemoy pipi Syabil ya…" ucap Salsa lirih sambil tersenyum gemas menatap anak mereka. "Lucu banget sekarang… badannya juga makin berisi…"
Lian tersenyum kecil merasakan pelukan hangat istrinya. Salah satu tangannya turun mengusap lembut tangan Salsa yang melingkar di perutnya.
"Ya anaknya juga nenennya nggak berhenti-berhenti…" jawab Lian santai. "Gimana nggak gemoy coba?"
Salsa langsung terkekeh kecil. Tatapannya masih terpaku pada Syabil yang terlihat tenang di atas kasur.
"Ih tapi serius deh…" ucap Salsa sambil memperhatikan wajah anaknya lebih dekat. "Udah gemoy, matanya sipit… makin nggak keliatan matanya kalau senyum." Ia lalu melirik Lian penuh tuduhan manja. "Ngikut kamu itu matanya. Sipit begitu."
Lian langsung mengangkat alis dengan wajah tidak terima. "Lah emang kenapa kalau sipit?" protesnya sambil tertawa kecil. "Aku yang nanem benih ya wajar kalau banyak mirip aku."
Salsa langsung menepuk pelan lengan suaminya. "Ih apaan sih ngomongnya!"
"Tapi bener kan?" lanjut Lian tanpa dosa sambil terkekeh. "Makanya kalau disuruh goyang tuh mau… bukan males-malesan."
Salsa spontan tertawa keras sampai bahunya ikut bergerak. "Kok malah ke sana arah omongannya, heh?" protesnya sambil mencubit pinggang Lian pelan. "Males-malesan juga tetep aku lakuin ya! Ini tuh emang gen kamu aja yang kuat."
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fanfiction"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
