"Ouh... ah... Sayanghhh... Enak ah... Sempit banget..." desah Lian pelan, suaranya terdengar berat dan bergetar menahan kenikmatan yang menyelimuti seluruh tubuhnya.
Ia terus menggerakkan pinggangnya dengan irama yang teratur namun lembut, mendorong kejantanannya masuk perlahan lalu menariknya kembali, merasakan betapa hangat, rapat, dan lembutnya jepitan tubuh istrinya di dalam sana.
Setiap gerakan terasa begitu nyata, seolah kedua tubuh mereka menyatu menjadi satu, menciptakan sensasi yang terasa begitu istimewa dan mendalam.
Salsa memejamkan matanya rapat, napasnya terengah-engah seiring dengan setiap gerakan suaminya. Jari-jarinya mencengkeram lembut punggung Lian, merasakan setiap lekuk otot di sana yang bergerak mengikuti irama. Ia merasakan setiap sentuhan yang menembus hingga ke dalam, menimbulkan gelombang kenikmatan yang perlahan menyebar ke seluruh tubuhnya.
"Cepeth sedikit, Lian... ah... Nanti Syabil bangun mmhh..." desahnya lagi, suaranya terdengar setengah memohon setengah berbisik, takut suaranya terlalu keras dan terdengar oleh anak mereka yang sedang tidur di kamar sebelah.
Pinggangnya bergerak mengikuti gerakan suaminya, mencoba menyelaraskan ritme agar keduanya bisa segera merasakan puncak kenikmatan tanpa menimbulkan kebisingan yang tidak perlu.
Lian mengangguk pelan, memahami kekhawatiran istrinya. Ia tidak mempercepat gerakannya secara kasar, melainkan membuat iramanya menjadi lebih teratur dan sedikit lebih cepat, namun tetap menjaga kelembutan agar tidak menimbulkan rasa sakit. Ia menundukkan wajahnya, mencium leher dan bahu Salsa dengan lembut, berusaha menenangkan sekaligus menambah keintiman di antara mereka.
"Iya, Sayanghh... aahhh..." bisiknya di sela desahannya, suaranya terdengar rendah dan hangat.
"Ah... gituh... terus... enak banget..." rintih Salsa pelan, kepalanya terayun ke belakang, membiarkan lehernya terbuka lebar untuk dijamah oleh bibir Lian. Sensasi di dalam tubuhnya semakin kuat, berputar perlahan di perut bagian bawahnya, membuatnya semakin tenggelam dalam kenikmatan yang hanya bisa diberikan oleh suaminya.
Lian terus bergerak dengan penuh semangat, memastikan setiap gerakannya terasa nyaman dan menyenangkan bagi keduanya. Ia merasakan bagaimana tubuh Salsa mulai merespons lebih dalam, bagaimana dinding di dalam sana mulai berdenyut lembut dan menjepitnya semakin erat, tanda bahwa istrinya juga mulai mendekati puncak kenikmatan.
"Ah... Sayanghh... aku udah deket..." bisik Lian, napasnya semakin memburu. Tangannya bergerak mengusap lembut pinggang dan punggung Salsa, memberikan rasa aman dan kehangatan.
"Samah... aku jugah..." jawab Salsa dengan suara yang hampir tak terdengar, matanya terpejam rapat, menikmati setiap detik kebersamaan mereka yang penuh cinta dan keintiman.
Lian terus mempertahankan gerakannya, iramanya kini sedikit lebih dalam namun tetap terjaga kelembutannya, seiring dengan meningkatnya gelombang kenikmatan yang melanda keduanya.
Napasnya semakin memburu, tubuhnya terasa menegang perlahan saat sensasi hangat mulai berkumpul di perut bagian bawahnya, menandakan puncak kenikmatan sudah semakin dekat.
Ia masih mengingat baik permintaan dan kekhawatiran istrinya, sehingga dengan sisa kesadaran yang ada di tengah gairah yang meluap, ia mulai memperlambat gerakannya sedikit demi sedikit.
Dengan hati-hati, Lian perlahan menarik pinggangnya mundur, melepaskan penyatuan tubuh mereka secara perlahan hingga terlepas sepenuhnya. Begitu berada di luar, detik berikutnya ia merasakan dorongan yang tak tertahankan, cairan panas dan kental menyembur keluar, membasahi perut halus Salsa yang masih terasa hangat dan berdenyut.
"Arghhh..." desah Lian pelan namun dalam, tubuhnya menegang sejenak sebelum akhirnya rileks kembali, napasnya terengah-engah hebat sisa pelepasan yang terasa begitu memuaskan. Ia menunduk, menatap wajah istrinya yang tampak terbuai, lalu mengusap lembut pipi wanita itu dengan punggung jarinya.
Salsa pun mencapai puncaknya. Seluruh tubuhnya mendadak menegang seketika, lalu diikuti getaran halus yang menjalar dari ujung kepala hingga ujung kaki. Otot-ototnya berkedut lembut, sementara sensasi kenikmatan yang luar biasa meledak perlahan, menyebar ke seluruh tubuhnya seperti gelombang hangat yang menenangkan sekaligus membara. Jari-jarinya yang tadi mencengkeram punggung Lian kini meluruh lemas, tergolek lemah di atas sprei.
"Ahhh... ahhh..." desahannya tertahan, suaranya terdengar bergetar namun penuh kepuasan. Matanya terpejam rapat, bibirnya sedikit terbuka, menikmati setiap detik sensasi yang perlahan mereda menjadi kehangatan yang nyaman. Tubuhnya masih bergetar pelan, sisa-sisa kenikmatan yang membuatnya terasa ringan dan lemas sepenuhnya.
Lian segera bergerak mendekat, tidak membiarkan istrinya terbaring sendirian dalam kelemahan itu. Ia meraih tisu lembut yang ada di samping tempat tidur, lalu dengan sangat hati-hati dan lembut membersihkan sisa cairan yang membasahi perut Salsa, memastikan tidak ada rasa lengket yang mengganggu. Setelah itu, ia berbaring di sampingnya, lalu menarik tubuh istrinya untuk bersandar nyaman di dadanya, memeluknya erat namun lembut.
"Makasih, sayang..." bisik Lian pelan tepat di dekat telinga Salsa. Suaranya masih terdengar berat dan serak, napasnya pun belum sepenuhnya teratur setelah percintaan panjang yang baru saja mereka lalui bersama. Namun di balik suara lelah itu, ada kelembutan yang begitu nyata, ada rasa sayang dan syukur yang terasa hangat memenuhi setiap katanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fanfiction"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
