Sore itu, suasana kamar terasa tenang dengan cahaya matahari yang mulai menguning masuk samar dari sela tirai jendela. Aroma lembut minyak telon masih tercium tipis di sekitar kamar bercampur wangi khas bayi yang menenangkan. Salsa sedang berjalan perlahan mondar-mandir kecil di dekat ranjang sambil menggendong Syabil di dadanya.
Tubuh mungil bayi itu menempel tegak di dada ibunya dengan nyaman. Salah satu pipi chubby-nya menempel di bahu Salsa, sementara tangan kecilnya sesekali bergerak pelan di dekat dada wanita itu. Beberapa hari terakhi Syabil memang lebih suka digendong tegak seperti itu. Kalau diposisikan miring seperti bayi pada umumnya, ia justru lebih cepat rewel kecuali saat sedang menyusu.
Salsa mengusap lembut punggung kecil anaknya sambil menimang pelan. "Sabar ya..." ucapnya lembut penuh kasih sayang. "Sebentar lagi Ayahnya pulang... sekarang anak cantik sama Ibu dulu ya..."
Nada suaranya begitu halus, seperti sedang membujuk sesuatu yang sangat rapuh dan berharga.
"Mmhh..." Syabil menggumam kecil sambil menggeliat pelan di gendongan ibunya. Napas kecilnya terasa hangat di leher Salsa.
Salsa langsung tersenyum gemas lalu menunduk mengecup pipi anaknya berkali-kali. "Iya... sabar ya, Nak..." bisiknya lirih. "Ayahnya lagi di jalan... bentar lagi sampai rumah."
Syabil kembali mengeluarkan suara kecil samar seperti sedang mengeluh manja. "Heeng..."
Salsa terkekeh pelan melihat tingkah anaknya yang akhir-akhir ini memang lebih rewel kalau Lian belum pulang kerja. Bahkan tadi setelah selesai video call dengan ayahnya, Syabil malah makin rewel seperti sadar kalau orang yang ia lihat di layar belum benar-benar pulang.
"Anak Ayah banget sih kamu..." gumam Salsa sambil mengusap pelan kepala kecil itu. Ia lalu berhenti berjalan dan menoleh ke arah meja nakas.
"Telpon Nenek yuk?" ucap Salsa lagi sambil tersenyum kecil. "Katanya Nenek kangen sama Syabil..."
Perlahan Salsa mencoba membetulkan posisi gendongan Syabil menjadi sedikit miring agar ia bisa mengambil ponselnya dengan lebih mudah. Namun baru saja posisi tubuh kecil itu berubah, wajah Syabil langsung berkerut kecil.
"Eeng... aaah..." Rengekan kecil langsung keluar dari mulut mungilnya disertai gerakan kaki yang menendang pelan tidak nyaman.
"Iya iya sayang... sebentar aja..." ucap Salsa cepat sambil duduk di ujung ranjang. Tangannya langsung mengelus lembut rambut tipis anaknya, menenangkan dengan gerakan pelan penuh kasih.
"Ibu ambil handphone dulu buat nelpon Nenek..." lanjutnya lembut sambil mengecup pipi gemoy Syabil yang hangat.
Syabil masih menggumam kecil, tapi mulai sedikit tenang saat tangan ibunya terus mengusap punggung dan kepalanya perlahan.
Salsa kemudian meraih ponselnya yang berada di atas meja nakas di samping tempat tidur. Ia membuka aplikasi WhatsApp lalu mencari kontak Mamanya dengan satu tangan sementara tangan satunya tetap menopang tubuh kecil Syabil hati-hati.
Begitu menemukan kontak Mamanya, Salsa langsung menekan tombol video call tanpa banyak berpikir.
Nada sambung terdengar beberapa detik. Tak butuh waktu lama, panggilan video itu langsung diangkat. Layar ponsel menampilkan wajah Mama Rita yang tampak sedang duduk santai di ruang keluarga rumahnya.
"Halo, Assalamualaikum..." sapa Mama Rita sambil sedikit mendekatkan wajahnya ke layar. "Kenapa, Nak?"
"Waalaikumsalam..." jawab Salsa sambil tersenyum kecil. "Nggak apa-apa, Ma... pengen nelpon aja."
Salsa lalu sedikit membetulkan posisi kameranya. "Katanya kemarin kangen sama Syabil..." lanjutnya lembut. "Ini anaknya lagi melek nih. Dari tadi rewel kalau nggak ada Ayahnya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fanfiction"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
