Gadis berambut cokelat sepunggung berumur 15 tahun tersebut memeriksa kembali barang-barangnya dan mencocokkannya dengan kertas berisi daftar yang ada di tangannya.
Ia refleks menoleh begitu mendengar suara pintu kamarnya terbuka lalu mendapati ibunya yang tersenyum hangat sembari berjalan mendekatinya.
"Kau tahu? Ibu bisa membujuk Ayahmu agar membatalkan ini semua dan menyekolahkanmu di sekolah biasa," ujar Ibunya sambil mengelus puncak kepala gadis itu.
Si gadis hanya tersenyum tipis sambil menggeleng pelan. Sedikit banyak, senyumannya terlihat agak masam dan memaksa. Untunglah Ibunya tidak menyadari hal tersebut.
"Tidak perlu, bu. Lagipula, akhir-akhir ini aku sedang tertarik dengan hal-hal berbau agent," dustanya tanpa pikir panjang.
Walaupun tidak percaya begitu saja, ibunya tetap memberi semangat, "Benarkah? Itu bagus. Buat ibu bangga, oke?"
"Tentu saja."
"Vale, kau sudah siap?" Seorang pria yang merupakan Ayah gadis bernama Vale itu masuk. Pintu kamarnya yang tidak tertutup, membuatnya masuk tanpa suara.
"Ya, aku sudah siap," balasnya melirik kopernya yang besar.
"Kita berangkat sekarang. Sayang, ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?" Ayahnya menoleh ke Ibu Vale.
Ibunya tersenyum lalu melepaskan kalungnya dari leher lalu memasangkannya pada Vale. Sementara Vale mengernyit heran namun memilih untuk diam saja, memperhatikan tangan ibunya.
"Valerie ... Ibu ingin kau selalu mengingat Ibu, kuharap kalung ini bisa membuatmu selalu ingat padaku," pesannya sambil memegang kedua bahu putrinya dan meremasnya pelan.
"Tanpa ini pun aku akan selalu mengingat Ibu." Vale lalu menghambur ke dalam pelukan Ibunya; sebuah pelukan hangat yang singkat.
"Baiklah, kalau aku berangkat!" pamit Vale setelah melepaskan pelukannya dan menarik kopernya.
"Aku akan pulang jika sudah libur!" sahutnya kencang. Ia melambaikan tangan pada ibunya sambil tersenyum sampai akhirnya benar-benar keluar dari kamarnya.
Vale dan Ayahnya segera berangkat menuju Fire Wings Academy yang entah mengapa namanya terdengar tidak cocok dengan aktivitas murid-muridnya: menjadi seorang agent. Agen rahasia atau agen perjalanan wisata, Vale sama sekali tidak tahu apapun soal itu.
Perjalanan selama 1 jam itu pun hanya diisi basa-basi Ayahnya tentang akademi tersebut yang membuat Vale jadi aneh sendiri. Darimana ayah tahu? Padahal ayah bukan alumni, atau ... mungkin ayah tahu itu dari internet, pikir Vale.
Entah tes masuk apa yang akan dilewati gadis bersurai cokelat itu nantinya. Setidaknya ia sempat dilatih cara memanah yang baik oleh ayahnya beberapa waktu yang lalu. Walau terlihat amatir semi pro, jika diminta menunjuk satu senjata andalan pun, Vale pasti akan menunjuk busur dan anak panah. Lalu, membongkar pasang pistol layaknya di kebanyakan film aksi.
Vale pernah belajar cara melakukan hacking, tapi baru membaca beberapa hal mengenai kode dan bahasa pemrograman tertentu dia langsung membatalkan niatnya karena merasa muak sendiri. Tentu saja ayahnya tidak tahu saat putrinya itu sempat ingin menjadi Hacker. Ayahnya seorang tentara bukan seorang agen rahasia.
Lagipula niat Vale yang hanya bermodalkan komputer hologram masa kini bernama Holopad, I-pad, dan WiFi tersebut bisa-bisa disangka sesuatu yang buruk oleh Ayahnya. Tidak jarang Hacker dianggap seorang kriminal karena sering meretas hal-hal pribadi, bahkan rahasia negara sekalipun.
Mereka sampai. Vale segera masuk membawa kopernya setelah berpamitan. Di hari sebelumnya, Ayahnya sudah mendaftarkannya. Vale sudah cukup mandiri untuk menjalani sesuatu seorang diri walau terkadang sering mengeluh diam-diam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Agent
FantascienzaBerawal dari ayahku yang memasukkan ku ke sekolah khusus yang mengajarkan murid nya untuk menjadi seorang agent. Mendapatkan misi pertamaku yang tergolong ringan. Sampai suatu saat krisis melanda karena sebuah organisasi gelap melancarkan aksi Biot...
