Sakit...
Aku menggigit bibir kuat dan membuka mata, kedua tanganku bergetar. Pandanganku masih berkunang-kunang tidak jelas, lampu elevator makin rusak parah. Tubuhku ... mati rasa. Napasku putus-putus, masih syok parah.
"R-rane...?" panggilku parau, suaraku nyaris hilang dan bergetar. Aku menarik napas dan menjatuhkan kembali dahiku ke lantai sambil berusaha menunjuk-nunjuk lengan Rane di sebelahku.
"Rane..."
Sekitar setengah menit penuh cekaman sudah berlalu, aku masih tidak bisa menguasai tubuhku sendiri dan gawatnya Rane tidak bangun sama sekali. Aku nyaris menangis dan berusaha memanggilnya sekali lagi namun tak ada respon.
Bencana.
Aku berusaha bangkit dari posisi tengkurap dengan susah payah dan menyeret tubuhku menggunakan tangan untuk mendekatinya.
"R-rane?" Tanganku mengubah posisi kepalanya yang menyamping dan rambutnya yang menghalangi bagian mata. Kemudian aku dilanda rasa panik dan kacau setelah memperhatikannya hanya dalam lima detik.
"Hei." Aku menepuk-nepuk pipinya pelan. "Bangun!" Kali ini aku memukul-mukul lengannya panik. Sial. Sejujurnya aku tidak berani untuk mencari tahu dan melakukan ini, tapi entah keberanian dari mana aku bisa langsung mengarahkan telunjukku ke bagian bawah hidungnya. Jariku berpindah mengecek bagian leher Rane, pada nadi karotis.
Kemudian mengambil pergelangan tangannya dan mengecek denyut nadi. Detik itu aku membeku menatapnya kosong, masih menggenggam tangannya longgar di atas perutnya. Bahuku bergetar begitupula kedua tanganku yang sedang memegang tangan Rane.
Mungkin seharusnya aku menangis, tapi syok yang melandaku terlalu keras hingga rasanya sulit untuk sekadar melakukan sesuatu bahkan bernapas. Mataku mengerjap-ngerjap cepat saat terasa panas walau tidak merasakan ada cairan yang menggenang.
Kali ini kutempelkan telinga ke dadanya takut-takut.
Tidak berdetak.
Aku menjauhkan la dan cepat-cepat memompa dadanya, melakukan CPR.
"Tolonglah..." Kedua tanganku terus memberikan dorongan. Tidak ada tanda-tanda luka berat akibat insiden jatuhnya elevator tadi, kemungkinan meninggalnya karena syok dari tubuhnya dan jantungnya berhenti tiba-tiba. Tubuhku juga tadi sempat syok, mungkin karena itu sulit untuk bergerak untuk beberapa detik.
Seharusnya masih bisa diselamatkan walau mungkin ada kemungkinan meninggal lain yang tidak aku ketahui. Baru satu menit lewat sekian detik. Kemungkinan ia selamat seharusnya cukup besar.
"Ayolah, Rane." Aku menghela frustasi tanpa berhenti memompa jantungnya terus menerus walau tenagaku tidak ada apa-apanya. Dia tidak benar-benar meninggal, kan? Jantungnya hanya berhenti. Harusnya begitu.
Tanganku masih terus menekan bagian tengah dadanya sambil memperhatikan apakah ada respon dari jalur pernapasannya atau belum, lalu berhenti begitu saja saat mengingat CPR biasanya disertai oleh napas buatan.
Aku makin frustrasi dan mengerang, berusaha mengendalikan diri.
Oke, apa yang kukhawatirkan? Tidak berguna, lagipula aku sudah akan mati dan Rane masih ada kesempatan besar untuk hidup.
Mulai memperbaiki posisi kepala Rane agar mendongak ke atas dan menahan dahinya dengan tangan, membuka jalur napasnya baik-baik. Setelah memastikan kepalanya tidak ada bantalan dan posisinya sempurna menghadap ke atas, kedua jari kiriku mulai menjepit hidungnya sementara yang kanan masih menahan posisi kepalanya.
Aku mendadak gelisah dan ragu untuk benar-benar melakukannya. Ini bukan permasalahan bagaimana aku harus memberi napas buatan dari mulut ke mulut, aku mempermasalahkan betapa payahnya dulu saat praktek CPR dan tidak dapat memberi napas buatan dengan benar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Agent
Science FictionBerawal dari ayahku yang memasukkan ku ke sekolah khusus yang mengajarkan murid nya untuk menjadi seorang agent. Mendapatkan misi pertamaku yang tergolong ringan. Sampai suatu saat krisis melanda karena sebuah organisasi gelap melancarkan aksi Biot...
