Oke, Vale.
Mari akui saja kalau masuk di New York High membuatku jadi waswas sendiri sejak awal. Ingat Max? Ya, si berandal mantan pujaan hatiku dulu saat SD. Setelah berhasil menciptakan kesan pertama yang memorable setelah sekian lama dan pahlawan kesiangan datang menyelamatkan, aku tidak bisa mendeskripsikan perasaanku lagi.
"Semua ini salahnya," dengungku dengan rahang terkatup. Dahiku terasa panas sejak tadi. "Bilang padanya untuk tidak mengurusi urusan orang lain! Aku merasa sudah tidak punya privasi lagi sejak ulahnya tadi." Aku membanting diri ke sofa sembari menyampirkan ransel. Pikiranku suntuk bukan main. Rasanya mendadak aku seperti artis naik daun yang sedang terjerat kasus narkoba.
Situasi ini memang bukan pertama kalinya untukku. Saat masih di Fire Wings, orang-orang mengerubuti dan bertanya ini-itu secara rinci. Dari A hingga Z, mulutku sampai berbusa.
Tapi ini beda kasus! Aku tidak bisa merespons satu pun pertanyaan yang teman-temanku lemparkan. Ini semua terlalu tiba-tiba.
"Tenang saja. Xander pasti sudah mengurus anak itu di sekolah. Tapi dia kemungkinan akan pulang sedikit malam," kata Mia hati-hati.
"Miaaaa... Aku tidak terima," erangku frustrasi. Kalau tadi bukan karena Xander dan teman-teman kelasku datang sebelum suasana terbakar, aku barang kali sudah hilang kontrol di kantin.
Mia menghela napasnya kasar, membuka rompi seragam serta dasinya. "Sudah kubilang dari dulu. Kehidupan sekolah normal itu tidak akan langsung cocok untuk mantan anak Fire Wings, Xander juga dulu begitu. Kalau kau pindah di saat keadaan baik-baik saja dan kau tidak mencolok, pasti akan baik-baik saja. Tapi masalahnya kau ada peran besar saat ... yah, peristiwa itu. Itu bisa mengancam identitas si Alpha A ... berapa?"
"Alpha A-10," koreksiku datar. Kukira kita sedang tidak membahas name code-ku saat ini. Tak ayal mataku refleks melirik ke arah punggung tangan kiriku. Walaupun hanya kekosongan di sana, tapi otakku masih ingat betul warna, ukuran, font, dan seberapa redup tatonya.
Meski menggunakan kontak lensa khsusus, tatonya tidak akan pernah terlihat kembali. Sudah kuhapus. Karena ... karena aku sudah bukan Alpha A-10 lagi. Katakanlah aku sadis karena membuang identitas Fire Wings-ku sendiri. Tapi meski terkesan dingin di luar, sebenarnya itu menyakitkan bagiku.
Lagipula banyak juga yang melakukannya.
"Ya, Alpha A-10 atau berapalah itu. Secara berita konfirmasimu waktu itu jadi sangat viral walaupun wajahmu disensor di berita. Membuang dirimu yang lama bukan berarti kau bisa kehilangan bayang-bayang masa lalu." Mia menyugar poninya ke belakang, menarik kunciran rambutnya. Matanya memicing saat melirikku.
"Rane benar, harusnya kau kembali ke Fire Wings Academy."
"Fire Wings High," ralatku, menggulir bola mata enggan. "Kembali ke Fire Wings memang menjamin privasi identitas. Tapi itu sama sekali tidak menjamin untuk membuat mental mantan muridnya baik-baik saja. Bahkan kalau Fire Wings sudah berubah jadi sekolah umum seperti sekarang, identitas lamanya tetap masih sama bagiku."
"Kau, 'kan, memang tidak pernah ke Fire Wings sama sekali pasca rehabilitasi." Mia menegakkan punggung, menatapku serius. Aku menaikkan alis untuk kesenyapan yang kami ciptakan, berhubung Bibi dan Eve sedang tidak di rumah sejak pagi. Ash dan Dash juga tersesat di game center pusat kota setiap pulang sekolah. Xander barangkali masih di Ruang Kepala Sekolah bersama si berandal Max gara-gara kehebohan di kantin.
Harusnya aku juga di sana, namun Xander dan guru konseling untungnya cukup pengertian agar memintaku pulang saja bersama Mia setelah ditanya-tanya sedikit. Mungkin setelah menilai pandanganku yang tampak selalu ingin menghajar Max selama kami masih satu ruangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Agent
Science FictionBerawal dari ayahku yang memasukkan ku ke sekolah khusus yang mengajarkan murid nya untuk menjadi seorang agent. Mendapatkan misi pertamaku yang tergolong ringan. Sampai suatu saat krisis melanda karena sebuah organisasi gelap melancarkan aksi Biot...
