We're Coming *56

17.6K 2.2K 175
                                        

"Jaringan Rane hilang!" Zi menyahut heboh memelototi layar. Huru-hara lain tercipta dan sebagian besar berasal dari murid perempuan yang langsung berdiri menatap titik lokasi Rane menghilang tiba-tiba. Sebagian lagi langsung menatap ponsel berusaha memperhatikan titik lokasi terakhir Rane sebelum jaringannya benar-benar menghilang.

"Kurasa itu karena kau akan menyatakan cintamu makanya Rane langsung memutusnya sebelum ia benar-benar sampai!" Seseorang menyalahkan salah satu murid perempuan berambut kemerahan panjang yang duduk di dekat monitor.

"Apa?! Tidak mungkin alasannya sesepele itu! Rane pasti memang telah melihat pulaunya sendiri!" Si gadis menyahut tak terima dengan wajah panik.

"Sudahlah! Bukan itu masalahnya sekarang! Kita sudah harus menyusul." Light menoleh pada salah satu agen pemimpin pasukan pemerintah di sana. "Kapten, bagaimana sekarang?" tanyanya walau dalam hati sedikit enggan menanyakan hal tersebut, kalau saja tidak bekerja sama dengan yang lain, mungkin Light sudah menyusul Rane bersama semua Tim Lapangan tanpa pikir panjang.

Kapten Grand memejamkan matanya sejenak. Tubuh kekarnya yang besar dengan kulit gelapnya tampak menciptakan kesan yang terlalu manly hingga membuat sebagian murid sempat merasa ngeri saat ia berdiri tegap dari duduknya.

"Sesuai rencana. Kita akan digabung, tidak terpisah-pisah seperti rencana sebelumnya. Tapi masalahnya kita baru benar-benar bisa berangkat ketika hari sudah nyaris gelap, ada kesalahan teknis pada kapal dan helikopternya."

"Tapi itu artinya kami harus menunggu setengah hari! Teman kami tidak mungkin harus menunggu selama itu di sana!"

Lirikan dingin dan datar dari para agen profesional di sana seolah menjadi balasan bahwa mereka tidak ingin dibantah atau menerima protesan. Hari itu, semua Tim Lapangan Fire Wings mati-matian menahan kekesalan mereka sendiri selama berjam-jam lamanya.

Hanya anak kecil dan amatiran, bisa apa. Yang bisa mereka lakukan hanya berdo'a demi keselamatan ketiga murid Fire Wings di tempat terpencil sana.

*

"Kita dikirimkan sekitar 90 personil agen profesional pemerintah. Dan kita sendiri berjumlah 31--minus Rane. Masing-masing akan dibagi tiga: tim pertama akan naik helikopter, tim kedua akan naik kapal, tim ketiga akan naik kapal selam dan harus bisa melakukan diving. Siapa yang bisa menyelam di laut? Biar kuingatkan, kalian akan menyelam di malam hari dan air akan sangat dingin." Light menatap mereka semua memindai satu per satu.

Sekitar tujuh orang murid mengangkat tangannya setelah beberapa detik keheningan tanpa reaksi apapun. Tiga di antaranya adalah Alice, Zi, dan Xander.

Light mengangguk kecil. "Aku juga akan ikut kalian dalam tim ketiga untuk menyelam. 31 kurang 8, kalian sisa 23. Antara tim pertama dan dua akan lebih satu orang. Tim pertama yang akan berada di helikopter harus lebih dominan sniper atau setidaknya bisa menggunakan senjata laras panjang dengan baik walau bukan di bidang sniper. Kalian akan mengawasi dan melindungi tim kedua dari langit. Tim kedua sendiri akan terang-terangan masuk ke markas mereka, di regu ini Tim Lapangan dari ketiga bidang diperlukan."

Light terdiam sejenak tampak sedikit memiringkan kepalanya menatap kertas berisi coretan-coretannya sendiri yang terlihat berantakan, hanya ia sendiri mungkin yang dapat membacanya. Terlalu buru-buru dalam menulis karena terlalu cepat pula dalam berpikir, cantik jeleknya tulisan tidak penting sama sekali. "Tim ketiga akan menyelinap diam-diam untuk membantu Rane mencari Violette juga Vale di sana sementara tim kedua jadi pengalihannya."

"Bagaimana caranya menyelinap nanti jika kita hanya di bawah laut terus?" tanya Zi, kepalan tangannya menopang pelipis kanannya.

Light tersenyum miring sedikit dan segera menyembunyikannya di balik kertas dengan tulisan cakar ayamnya.

Little AgentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang