Another Suprise Again *34

22K 2.6K 83
                                        

"Kami masih berpikir tentang jalur bawah tanah yang mungkin mereka jadikan akses ketika lari dan memutuskan jejak bannya," ucap seseorang yang berada di sebelah Alice. Aku hanya diam, memilih menyimak hasil investigasi ketiga tadi malam. Rasanya sulit banyak bicara setelah menangis. Tim semalam berjumlah tujuh orang. Claire, Alice, satu perempuan kakak kelas anggota tim Beta, dan empat laki-laki entah dari tim mana. Yang jelas antara Alpha dan Beta tentu saja.

"Tidak mungkin 'kan?" Kanzaki membantah sambil mengerutkan kening. "Aku dan Zi sudah memeriksa saluran bawah tanah dan tidak ada apapun di sana. Lagipula bagaimana dengan mobil mereka?"

Pertanyaan Kanzaki sukses membuatku menepuk dahi keras-keras hingga menjadi pusat perhatian. Oh, sial. Yang satu itu refleks.

"Mungkin sudah dihancurkan," balas seorang laki-laki berkacamata dengan ragu.

Aku menggeleng lalu berdiri sambil merogoh ponselku dengan cepat. Light dan Rane mengerutkan kening begitu aku memasang pose untuk melempar ponselku pada mereka; ingin salah satu dari mereka menangkapnya. Dan dalam sebuah lemparan--yang sejujurnya mungkin terlalu kencang--ponselku mendarat di tangan Light dengan selamat. Keduanya lalu mengecek apa yang ada di layar ponselku dengan serius.

Mereka berdua tampak menatap lekat-lekat sambil menggeser beberapa gambar, membuatku agak risi membayangkan mereka akan melihat gambar yang lain. Untungnya aku tidak mempunyai satupun foto diriku sendiri atau yang aneh-aneh. Entahlah, rasanya memotret wajah sendiri itu menggelikan. Maksudku wajahku tidak akan kemana-mana, jadi untuk apa  diabadikan? Yang lain tampak menatap kedua kapten tersebut penasaran dan sesekali kudapati beberapa orang melirikku bingung. Aku memilih diam sampai Light atau Rane sendiri yang membuka suara.

Light terlihat menyambungkan jaringan antara layar di depan dengan ponselku hingga gambar di sana muncul dengan jelas di layar. Kemudian ponselku dikembalikan.

"Bisa jelaskan kapan dan di mana kau mendapat gambar ini?"

"Seventh Avenue, jam 2 siang kemarin." Aku menjawab sambil menggeser layar ponselku untuk memperlihatkan gambar yang kutangkap lainnya. Semua orang terdiam menatap lekat ke arah layar hologram rata di depan sana dan mendengarkan jawabanku.

"Apa itu ketika kau bersama Xander?" tanya Light lagi. Kali ini alisnya sedikit menekuk dan matanya mengerjap sebanyak dua kali.

"Ya. Dia sudah tahu soal misi keduaku--maksudku kita, dan... tentu saja kesempatan tidak datang dua kali. Kami berdua langsung mendekati mobil itu sebelum pergi." Aku menghembuskan napas pelan. Mataku tak sengaja melirik Claire yang hanya mengangguk-angguk samar tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. Mungkin hanya Light dan Claire di sini yang mengerti Xander siapa yang kumaksud.

Hanya mereka berdua di sini yang tahu kami sepupu. Baiklah, ditambah dengan dua kakak kelas lainnya yang waktu itu mungkin.

"Tunggu. Xander itu siapa? Dia tahu misi kita?" tanya Violette kebingungan dan begitupula air muka murid kelas satu lainnya--yang gagal naik kelas dua. Sementara wajah para senior tampak berpikir dengan ekspresi ragu. Mungkin memikirkan tentang siapa Xander yang kami maksud.

"Dia dulu murid di sini, tapi sudah keluar," jawab Light lalu melirik Rane yang sibuk mengganti gambar layar ke objek lain dan memutuskan sambungannya dengan ponselku secara otomatis. Karena Rane tipe orang yang lebih suka menyimak, malas bicara, kaku dan lebih suka melakukan sesuatu dengan tindakan nyata, di beberapa saat ia justru malah terlihat seperti asisten pribadi. Light walau mereka menempati posisi yang sama. Kecuali... mengingat fakta jika Light Ketua Dewan Siswa sekaligus anak kelas tiga.

Memikirkan soal kelas membuatku meringis dalam hati mengingat apakah aku masih bisa naik kelas bersama yang lain atau malah terjebak di kelas satu walau tes kenaikan kelas telah usai dan misi pertama kami.

Little AgentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang