Hell Laboratory *50

19.6K 2.2K 80
                                        

Mungkin ... semuanya memang telah mengira aku sudah mati. Aku tidak tahu, mereka benar-benar kehabisan waktu karena perencanaan tentang salah satu orang yang akan terpilih, tidak ada yang mau menjadi orang tersebut karena masih menyimpan rasa kecewa mendalam padaku, bingung harus melakukan apa, atau ... ada kendala tak terduga lainnya. Dan aku tahu, kemungkinan aku akan bertahan lama juga sangat kecil jika begini terus, tidak ada kepastian.

Mungkin ini rasanya sama saja dengan tamatnya seseorang.  Sekalian mati saja, 'kan? Tapi aku juga tidak mungkin bunuh diri atau mau dibunuh. Bukan berarti aku mau cepat mati juga.

Jika tidak ada bantuan yang akan datang, aku hanya bisa mengandalkan diriku sendiri. Tanpa peralatan dan senjata apapun, misi melarikan diri oleh murid paling payah di Fire Wings Academy? Rasanya aku mau menangis mengingat kemampuanku yang masih pas-pasan dan intuisiku yang tumpul, menyedihkan. Bahkan menguasai bidang sendiri pun aku masih kerepotan.

Tidak sulit membayangkan betapa payahnya diriku jika melawan petugas penjaga dengan beladiri yang jelas bukan bidangku. Sedikit menyesal juga karena tidak belajar meretas pada Violette, padahal aku tinggal menyelinap masuk ke ruang pusat keamanan, meretas sana-sini, dan kabur diam-diam.

Yah ... walau mungkin tidak butuh waktu lama bagi Aley untuk menyadarinya dan memperbaiki sistemnya seorang diri. Oke, rencana yang itu sudah pasti tidak akan berhasil. Coret.

Ayo, pikirkan yang lain. Sesuatu yang jenius tapi sederhana. Ugh ... Apa ya? Aku tidak jenius! Nilai akademik pun standar! Rasanya aku tidak bisa berhenti mencela diriku sendiri karena tidak bisa diandalkan, padahal ini juga demi diriku sendiri. Masa bodoh dengan penangkapan Black Eagle dulu, aku sekarang yang malah ditangkap oleh mereka.

Astaga, aku benci diriku sendiri.

Seharusnya dulu aku bisa bangun lebih pagi dan menghadiri latihan cara melarikan diri. Seketika otakku terdengar seperti tengah mengatakan, Nah! Rasakan itu! Efek dari suka bolosmu sendiri! Aku juga benci kau!

Lupakan bagian di mana otakku juga mulai membenciku, ayo berpikir lagi.

Hm, saluran udara ... mungkin tidak terlalu buruk. Sayangnya di kamar ini tidak ada yang bisa di buka tutup di bagian plafonnya. Aku tidak mungkin juga merusak atapnya karena: pertama; tidak ada benda panjang dan kuat di sini untuk membuatku menjangkau atap dan merusaknya. Kedua; plafonnya tampak keras, mengkilap, dan sepertinya sulit hancur. Apa itu masih bisa disebut plafon? Mari sebut saja itu sebagai lantai atap karena lantai di Ruang Isolasi-ku juga begitu (lantai yang kumaksud keramik, bukan tinggi bangunan).

Mungkin aku harus merelakan diriku dulu untuk ... entahlah, Aaron bilang tadi siap-siap, ya? Jika aku dibawa ke ruangan lain atau dugaan terkuat hanyalah lab, mungkin aku bisa memanfaatkannya untuk mencari celah lain supaya bisa kabur.

Yah, itu kalau ruangannya punya saluran udara. Atau mungkin pengawasannya yang tidak ketat dan sebelum aku diapa-apakan sudah sempat kabur duluan. Aktingku buruk, aku tidak pandai dalam menyamar ataupun berbohong.

Ugh! Kenapa harus aku yang mengalami hal seperti ini?

Dan, sial. Bisakah aku berhenti mengeluh dan menghina diri sendiri?! Karena otakku mulai membenci diriku juga aku rasa dia mulai tidak sinkron dengan keinginanku yang sedang menyusun rencana. Tiba-tiba aku terpikir untuk melakukan meditasi, sayangnya tidak ada waktu untuk itu.

Baiklah, aku memang benci diriku sendiri. Tapi cara pertama untuk menjalani sebuah rencana adalah berdamai dengan diri sendiri. Aku menarik napas panjang lalu menghembuskannya banyak-banyak. Ulangi terus, ya begitu. Baiklah mungkin cukup, lebih mirip banteng yang sedang marah rasanya. Mungkin aku sudah memaafkan diriku sendiri (sedikit).

Little AgentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang