Hari ini adalah tes kenaikan kelas hari kedua. Setelah ujian tulis, hari ini adalah tes mental dan fisik. Ini sangat membuatku gugup sebenarnya karena selain lebih sulit, kami juga disaksikan oleh para senior yang pastinya lebih ahli daripada kami. Ujian ini dibagi kedalam 2 sesi sebenarnya. Dan kebetulan Aku, Alice, Violette, Jean dan Stella berada di sesi pertama. Padahal setahuku ini diacak. Bisa kebetulan begini.
Kami semua telah menggunakan seragam hitam ketat yang dirancang tahan pada keadaan apapun dan tidak menyulitkan pergerakan kami. Aku dan Violette menguncir rambut kami sedikit lebih tinggi dari biasanya. Jean dan Stella yang feminim, memilih untuk mengepang dua rambut mereka. Sedangkan Alice lebih memilih mengurai rambutnya. Kami semua duduk diruang tunggu dengan wajah tegang. Ruang tunggu ini berada diruang bawah tanah sebenarnya.
Lalu bagaimana cara para kakak kelas menyaksikan kami? Mereka semua menyaksikannya diruangan yang telah disediakan khusus seperti ruang pentas namun lebih mewah dan menonton kami dengan santai nya melalui CCTV yang katanya terhubung dengan layar mereka. Dari yang aku dengar, beberapa orang penting militer pemerintah juga turut mengawasi tes ini, Tentunya itu semakin membuatku gugup.
Tes ini sejujurnya lebih mirip Hunger Games. Tapi kami tidak saling membunuh tentu saja.
Seorang wanita berpakaian panitia membawa tablet masuk ke ruang tunggu dan berjalan kebagian meja dengan holopad (table holopad) yang terpasang disana. Dia instruktur, aku rasa. Dia juga menggunakan ear piece ditelinga kanannya. Seperti si Hans itu.
"Selamat pagi semuanya."
"Pagi."
"Kalian pasti sangat tegang hari ini kan?" tanya nya dengan senyum tipis. Tidak ada yang menjawab diantara kami semua dan hanya menelan ludah gugup.
Tentu saja kami tegang. Tidak perlu ditanya.
Wanita tersebut mulai menekan tombol on pada table holopad dan mulai muncul sebuah layar LED Transparant yang lebih lebar dan besar daripada Holopad yang biasa dibawa orang-orang.
"Namaku Anna, aku akan memberi instruktur tentang ujian kali ini."
*
Author's POV
Light berulang kali menghela napas gelisah sambil menatap layar besar didepan yang saat ini sedang disaksikan oleh banyak orang disana. Dia sengaja memanipulasi hasil pengacakan, agar adiknya tetap berada di sekeliling teman-temannya namun entah mengapa ia masih saja gelisah begitu.
"Kau kenapa?" tanya Carl gemas saat sudah melihat temannya itu menghela napas berulang kali membuatnya hampir saja menyumpal mulutnya karena menganggu.
"Aku mengkhawatirkan Violette!" bisik nya frustasi karena semua orang sedang serius menyaksikan layar.
"Memangnya dia kenapa?" tanya Carl sembari bersandar dan melipat kedua tangannya didepan dada, menyaksikan layar didepan yang menampilkan para adik kelas yang sedang mendengar instruksi.
Light menghela napasnya kasar. "Dia sudah terbiasa di manja," jawab Light sambil menatap kedepan dengan perasaan tegang.
"Kau tidak bisa menganggapnya anak kecil lagi, Light. Bagaimana pun juga dia pasti berkembang berkat latihannya selama ini, walau keahliannya tidak bisa digunakan di ujian kali ini," pesan Carl dengan santai nya sedangkan Light memicingkan matanya kearah Carl.
"Kenapa kau yakin sekali dia adik ku sehebat itu?" tanya Light curiga. Bukan. Dia bukan sedang meremehkan adiknya, justru sebaliknya, dia sendiri takut dengan adiknya. Mungkin karena Sister complex nya yang semakin parah dan dia terlalu sering memanjakan Violette walau adiknya tersebut tomboy dan sangat tidak menyukai hal tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Agent
Ciencia FicciónBerawal dari ayahku yang memasukkan ku ke sekolah khusus yang mengajarkan murid nya untuk menjadi seorang agent. Mendapatkan misi pertamaku yang tergolong ringan. Sampai suatu saat krisis melanda karena sebuah organisasi gelap melancarkan aksi Biot...
