Carl sudah tahu itu. Bahkan sudah menduganya. Ini mungkin terdengar kejam, tapi saat Carl melihat gadis itu terbentur pohon dengan parahnya, ia sudah menduga akan ada yang salah detik itu juga.
Sayang sekali, saat semuanya sudah keluar dari arena, Carl tiba-tiba saja mendapatkan misi dadakan membuatnya tidak sempat menjenguk para peserta yang lain. Dan ia menyelesaikan misi itu bersama rekannya yang lain selama dua hari tiga malam. Entah apa yang mereka lakukan selama itu.
Saat baru saja sampai di akademi, Light langsung memberitahukannya tentang keadaan Violette dengan raut frustrasi. Reaksi Carl tidak terkejut sama sekali, namun masih memikirkan sesuatu entah apa itu.
"Dia benar-benar lupa?" tanya Carl sambil membaca buku di tangannya dengan tenang sementara Light menatapnya datar.
"Kau tampak tidak terkejut," ujar Light datar sementara Carl hanya meliriknya sekilas dengan alis menekuk lalu fokus pada bacaannya kembali.
"Bukannya aku kejam, tapi aku sering memprediksikan hal-hal terburuk yang mungkin akan terjadi," balas Carl cuek.
Light berdecak. "Coba kau temui dia, siapa tahu dia mengingatmu," ucap Light membuat Carl terheran-heran.
"Tidak mungkin dia ingat padaku. Dan lagipula dari sekian banyak orang kenapa harus aku?"
Carl tidak mungkin salah ingat betapa masamnya wajah Light dulu setiap ia bersama Violette bahkan hanya untuk latihan.
"Kau kan sering bersama adikku," balas Light.
Carl mengangkat satu alisnya tanpa mengalihkan matanya dari buku. "Teman perempuannya saja dia lupa, apalagi aku."
Carl mungkin tidak tahu ... Kalau Violette menyukainya.
Light menghela sambil bersandar pada kursi di ruangan dewan siswa."Lupakan. Bagaimanapun juga kalian akan bertemu nanti," gumamnya ikut tidak peduli.
"Tentu saja. Tidak lama lagi juga kami pasti akan jadi teman kelas," gumam Carl yakin.
Dalam hati, Light menggerutu. Dia curiga kalau mereka juga akan jadi seatmate nantinya.
*
Violette berdecak sambil mengisi ulang magazine pistol di tangannya sambil menggerutu.
"Bagaimana cara menggunakan benda ini sih?"
Vale benar, Violette sangat menyukai berlatih tembak di gedung pelatihan bahkan disaat tidak ada orang sama sekali di lantai tiga. Karena ia hilang ingatan, otomatis ia juga melupakan tentang cara yang benar menggunakan
Untuk kesekian kalinya, gadis itu mengarahkan pistolnya kearah target sambil memicingkan matanya. Dia menarik pemicunya.
DOR!
Suara tembakan menggema dilantai tiga untuk kesepuluh kalinya. Violette langsung menatap pistolnya heran seolah sedang menyalahkan benda itu. Seingatnya ia merasa ahli menggunakan benda ini dulu karena Light telah mengajarinya.
DOR!
Bukan berasal dari pistol Violette hingga membuat gadis itu terkejut. Setahunya hanya ada dia dilantai tiga. Violette langsung menatap kearah seorang lelaki lain yang entah sejak kapan ikut berdiri menembak disebelahnya.
"Bukan pistolnya. Tapi caramu memegang dan posisimu," ujar lelaki itu tanpa menoleh dan memandang lurus kearah hasil tembakannya tadi. Violette mungkin bisa saja terus terpaku jika lelaki itu tidak menoleh padanya membuatnya tersentak.
"Carl. Carl Gerald," ucapnya
"Violette Harrolds," balas Violette
Carl yang diam-diam merasa tidak enak dengan perkenalan itu langsung mengutuk keadaan yang menurutnya terasa aneh. Violette mungkin tidak ingat, tapi Carl ingat. Karena sudah terlanjur terkesan seperti orang asing, akhirnya Carl memilih untuk tetap seperti itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Agent
Science FictionBerawal dari ayahku yang memasukkan ku ke sekolah khusus yang mengajarkan murid nya untuk menjadi seorang agent. Mendapatkan misi pertamaku yang tergolong ringan. Sampai suatu saat krisis melanda karena sebuah organisasi gelap melancarkan aksi Biot...
