"T-tidak mungkin...." lirih Vale nyaris tak bersuara, beruntunglah indra pendengaran si lelaki berhasil menangkap kata-katanya. Matanya menatap tak percaya pada sepasang netra tersebut. Mimpi... Ia yakin sedang bermimpi sekarang walau rasa sakit di tubuhnya sangat nyata. Tubuh kakunya yang sulit bergerak itu berada dalam dekapan sang penyelamat yang baru saja mengeluarkan tubuhnya dari rongsokan kapsul taksi yang kini terbakar.
Vale terjun dari tebing bersama taksinya. Dan ujung tebing yang merupakan lokasi jatuh tersebut adalah...
Tepi pantai.
Si lelaki hanya tersenyum kecut melihat reaksi Vale. "Kukira kau sudah lupa," gumamnya seraya mengusap darah yang mengalir menuruni rahang gadis itu. Ditatapnya dalam mata Vale yang sudah berkaca-kaca. Lelaki itu memang berharap bisa bertemu Vale kembali, tapi tidak begini caranya.
Baru saja akan mendekatkan gadis itu ke dekapannya, sepasang tangan langsung menarik mundur punggung si lelaki dengan kasar. Vale yang masih belum bisa bergerak sama sekali langsung terjatuh karena terlepas dari dekapannya.
Aaron?! Mata Vale melotot tak percaya.
Entah dari mana datangnya, tanpa merasakan gerakan dan suara, tiba-tiba muncul anggota Black Eagle muncul dengan speadboat amfibi yang diletakkan di daratan. Vale panik, matanya jelalatan menatap Aaron horor begitupula pada sekitar empat orang orang berpakaian militer hitam dan bersenjata di sana. Salah satu anggota Black Eagle langsung menahan si lelaki yang berusaha beringsut mendekati Vale. Tentu saja ia berusaha melawan.
Aaron menatapnya remeh seolah itu merupakan sebuah lelucon basi. Di dekatinya Vale yang jatuh dalam keadaan telungkup dan berlutut di depannya.
"Jangan menyentuhnya!" seru si lelaki tajam. Vale menatapnya nanar, merasa bersalah karena tidak bisa melakukan apapun di saat seperti ini.
"Huh! Kenapa? Dia sepupuku. Sah-sah saja aku menyentuhnya," dengus Aaron. Pandangan Vale menajam begitu bertemu dengan netra gelap sepupunya. Berusaha untuk tidak terlihat kesakitan apalagi takut, rahangnya mengeras dan terkatup rapat.
"Hei, sweetheart. Miss me?" Aaron mengelus kepala Vale membuat si empunya langsung menggeleng sekuat tenaga untuk menghindari tangannya.
"Huh! Tentu saja! Aku ingin sekali menghajarmu," balas Vale penuh kebencian dengan suara serak dan nyaris hilang. Para anggota Black Eagle dan Aaron kontan tertawa mendengarnya. Gadis ini pasti bercanda.
"Yah, silakan saja. Dasar keras kepala, kau sama saja seperti Aley," balas Aaron enteng.
"Jauhkan tanganmu, Aaron!"
Tidak mengindahkan seruan si lelaki tadi yang juga merupakan anggota terkenal Black Eagle, Aaron makin menjadi. Jemarinya bergerak mengelus pipi kanan Vale yang kotor akibat pasir putih pantai, dicubitnya pelan pipi sepupunya seperti kebiasaannya dulu ketika mereka masih kecil. Tidak menyia-nyiakan kesempatan di tengah sepupunya yang tampak sedang bernostalgia, Vale langsung menggigit jarinya sekuat mungkin.
Aaron mendesis dan berusaha melepaskan jarinya dengan mendorong kepala Vale. Bagai tertempel lem, gigi Vale menempel rapat mengapit jari Aaron. "Anak sialan," umpat Aaron seraya menendang perut Vale hingga gadis itu menjauh dan melepaskan jari Aaron.
Tatapan nanar lelaki itu tertuju begitu melihat Vale menjauh akibat tendangan Aaron. Gadis itu meringis disertai setetes cairan bening yang keluar melalui sudut matanya.
"Ayolah, Ethan. Kau menyukai anak payah itu? Ada banyak gadis yang keren-keren di luar sana yang rela ditiduri olehmu," ujar seorang perempuan cemberut menatap si lelaki yang tidak melepaskan pandangannya dari Vale. Ia bahkan bergelayut manja di lengannya sambil berusaha menahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Agent
Science-FictionBerawal dari ayahku yang memasukkan ku ke sekolah khusus yang mengajarkan murid nya untuk menjadi seorang agent. Mendapatkan misi pertamaku yang tergolong ringan. Sampai suatu saat krisis melanda karena sebuah organisasi gelap melancarkan aksi Biot...
