"Vale! Ke taman, ya? Ya?!"
Sungguh pagi yang indah dan damai, sebelum Eve datang menerobos kamarku dan loncat-loncat seperti monyet di ranjang, menindihku beberapa kali. Aku mengerang menahan kantuk, menutup seluruh tubuh dengan selimut.
"Ajak Xander atau Mia saja," balasku agak merengut. Serius, aku belum selesai mengumpulkan kesadaran, namun semuanya menjadi naik 100% saat android itu datang dan menyahut nyaring.
Niatku hanya ingin tidur lagi.
"Mereka ada event di New York High," cebik Eve sambil menggoyang-goyangkan lenganku dari luar selimut. Aku makin menggulung diri sambil mencengkram selimut, berusaha mempertahankan tamengku satu-satunya.
"Ajak Bibi," balasku. "Atau Ash-Dash kalau kau berani," lanjutku berusaha keras menjemput alam bawah sadar di tengah situasi tidak menyenangkan ini.
"Bibi sibuk bersih-bersih, Ashley dan Dash tidak mau, mereka akan menamatkan satu game hari ini untuk rekor baru."
Aku berpikir keras. Siapa lagi yang bisa dijadikan korban selanjutnya demi tercapainya mimpiku?
"Ajak beberapa anak Fire Wings saja, yang anggota tim Alpha atau Beta."
"Aku hanya dekat denganmu dan Rane selama di sana." Kali ini Eve menjawab dengan sedikit menjerit. Bohong sekali. Padahal saat masih menjalani perawatan di Pusat Rehabilitasi dia akrab-akrab saja dengan yang lain. Malah jarang bertemu denganku karena dia mulai lebih banyak main dengan beberapa kakak kelas.
"Ajak Rane kalau begitu," sahutku lagi, pasrah menerima beban Eve yang entah berapa kg, apalagi dia dari logam. Dia lupa kalau dia terbuat dari material keras atau memang sengaja melakukan ini?
"Kalau pergi dengan Rane, berarti harus denganmu, ya?" Eve bersungut kencang di telingaku, mencakar-cakar ujung selimut untuk menyingkapnya.
"Kenapa aku lagi?" protesku malas, mataku masih memejam erat meski telah menerima macam-macam serangan Eve dari segala sisi.
"Kalau aku dan Rane jalan sendiri nanti banyak perempuan yang incar, pura-pura ajak berkenalan dan menyukaiku karena dikira adiknya, padahal sebenarnya hanya tertarik dengan Rane." Eve mulai berhenti bergerak, kurasakan tangannya memeluk lenganku dari luar. "Kalau kau ikut setidaknya orang-orang bisa langsung mengira kalian tidak bisa didekati."
"Huh?" Hanya itu balasan yang keluar dari mulutku saat tertidur sekian detik sementara Eve berbicara panjang lebar.
"Ayolah, seperti yang waktu kau pulang dari terapi dan Rane menjemputmu!"
Pikiranku melayang ke kejadian dua minggu lalu. Aku pulang dari terapi, saat di jalan dengan tidak sengaja bertemu dengan teman SD-ku. Ini sebenarnya aib yang kelam dan memalukan, aku pernah menyukainya dan hampir satu kelas tahu. Dia populer di angkatanku dan ya ... pokoknya mirip tokoh-tokoh most wanted di serial remaja picisan zaman dulu.
Tapi seleraku sudah berubah.
Sisi gawatnya adalah, kami bertemu saat sedewasa ini setelah sekian lama dan dia mengira aku masih menyukainya. Tidak, sejak awal sebenarnya bagian gawatnya karena dia mengenali dan mengingatku.
Such a disaster.
"Vale, ya? Kau anak manis yang menyukaiku, kan?"
Aku bahkan hampir lupa dengannya, tolonglah. Sebenarnya aku agak risi jika harus berbicara dengan orang-orang lama yang tidak kukenal atau tidak terlalu dekat, apalagi kalau dia termasuk dari memori hitamku.
"Maaf, kau siapa?" tanyaku saat belum mengingatnya sama sekali. Ia tertawa sejenak mendekatiku, dalam hati aku waswas karena jalanan sepi hari ini. Yang lewat paling-paling hanya tipe warga negara tidak berempati.
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Agent
Ficção CientíficaBerawal dari ayahku yang memasukkan ku ke sekolah khusus yang mengajarkan murid nya untuk menjadi seorang agent. Mendapatkan misi pertamaku yang tergolong ringan. Sampai suatu saat krisis melanda karena sebuah organisasi gelap melancarkan aksi Biot...
