About Antivirus *23

29.2K 3.5K 184
                                        

Karena ketahuan oleh salah seorang perawat yang sedang lewat di koridor saat kami berbincang di ruang tunggu unit kesehatan, Rane langsung dipaksa untuk kembali ke kamarnya. Walau dia menurut, tapi wajahnya tampak masam entah kenapa.

Aku sendiri berusaha untuk tidak tertawa melihat bagaimana cara perawat tersebut meminta Rane untuk kembali.

Beberapa murid hari ini sudah sadar tapi belum diizinkan untuk keluar kamar rawat apalagi unit kesehatan. Aku selama semalam itu benar-benar sendirian di mansion 5.

Tadinya sempat terpikir olehku untuk menginap di mansion lain, tapi aku baru ingat, semua mansion untuk murid pasti sedang sepi karena mereka semua sedang dirawat.

Jadi aku benar-benar menjalankan satu malam di mansion 5 seorang diri dengan selalu berpikir dua wanita resepsionis di lantai satu masih selalu berjaga selama 24 jam dan mereka akan berganti dengan yang lain jika lelah.

Konyol sekali jika aku takut dan malah membayangkan ada orang lain di mansion selama aku tidur.

Aku rasa mereka belum bisa menempati mansion hari ini, atau besok. Bergerak saja mereka sudah kena semburan oleh para perawat. Sementara aku tidak selalu bisa mengunjungi unit kesehatan walau hanya duduk di luar ruangan dan diam. Alasannya, aku tidak tahu harus melakukan apa dan sekarang aku merasa bertanggungjawab dengan Antivirus yang kupegang.

Tentu saja aku harus melakukan sesuatu saat ini. Walau aku masih belum tahu harus apa. Tidak ada yang bisa aku jadikan sandaran sekarang.

Ayah sedang ada tugas militer di luar negara. Jarak kami jauh sekali.

Aku sudah meminta saran pada Ayah. Katanya dia tidak bisa membantuku dan memintaku untuk mendatangi Mr. Vector untuk masalah ini. Sejujurnya itu membuatku cukup ragu, Mr. Vector tetap orang luar walau ia sahabat ayah sekaligus kepala sekolahku.

Pagi ini aku keluar dari mansion 5 setelah menanyakan di mana ruangan Mr. Vector pada kedua resepsionis itu. Hoodie hitam dan celana abu-abu longgar dan panjang yang bisa kutemukan dalam lemari kamar. Sebenarnya isinya ada yang lain. Ada dua lemari, dan aku memilih untuk membuka lemari yang berada di dekat ranjangku.

Lemari Claire dan punyaku awalnya masih tergantung kunci pada lubangnya, itu membuatku berpikir jika lemari di kamar lain juga masih memiliki kunci yang belum tersentuh.

Aku menuruni tangga dengan cepat dan langsung menyapa kedua wanita resepsionis itu yang lagi-lagi membelakangiku.

"Selamat pagi," ucapku membuat kedua sontak menoleh ke belakang. Hari ini mereka baru menggunakan papan nama, sesuatu yang membuatku bingung. Kenapa tidak dari kemarin saja?

Wanita berambut pirang bernama McKenzie... L? Mungkin itu marganya. Dan yang berambut cokelat bernama Alysia Rage.

"Oh, hai Valerie. Selamat pagi."

Valerie...

Aku jadi ingat ibu dan Stella.

Tersenyum canggung, lalu aku membalas, "Aku ingin bertanya. Di mana ruangan Mr. Vector?"

"Ruangan Mr. Vector? Kau ada perlu dengannya?" tanya wanita bernama McKenzie itu balik.

"Iya, aku ingin membicarakan sesuatu padanya," jawabku berusaha mengangkat kedua sudut bibirku dan malah membentuk senyum paksaan.

"Kau pasti ingin memberitahu bagaimana kau bisa tidak hadir saat pemilihan kapten tim agar tidak merusak citramu sebagai murid." kedua wanita tersebut tertawa sementara aku hanya ikut tertawa dengan hambar seolah menikmati leluconnya.

Tunggu! memangnya itu lelucon? Aku tidak mengerti.

"Ruangannya cukup jauh. Ada di dekat mansion 10. Oh! Dan... Berhati-hatilah, para penjaga terlalu ketat. Mungkin saja mereka tidak akan mengizinkanmu masuk jika kau tidak membuat alasan," ujar Alysia, si rambut cokelat.

Little AgentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang