Mungkin aku harus bersyukur karena kecerobohan petugas lain yang lupa menutup jeruji pintu Ruang Isolasi-ku setelah melakukan pengecekan tahanan. Aku menatap keempat CCTV yang juga masih belum menyala di atas sana. Kepalaku mengintip ke luar sisi pintu untuk melihat kuncinya sambil berjinjit sedikit (jangan tanya kenapa aku tidak dirantai, aku juga tidak mengerti).
Cih, pakai pemindai sidik jari dan retina! Aku menabrakkan dahi ke pintu dengan kesal. Baiklah, pakai gembok biasa pun aku juga tidak akan bisa melarikan diri. Lupakan.
Kembali ke dalam, aku menempelkan kedua tangan di dinding kaca yang membatasi ruangan ini dengan ruangan seberang. Mataku bergantian memperhatikannya. Keadaannya masih belum berubah, ada aku yang palsu dan sebuah Holopad yang tergeletak di lantai. Rasanya agak khawatir melihat si korban itu belum juga sadar, entah dia pingsan atau apa. Padahal aku sudah menunggu beberapa menit (mungkin) agar dia sadar, walau aku tidak tahu juga harus apa jika dia sadar.
"Hei!" Aku mengetuk-ngetuk keras dinding kaca, berharap ia terbangun. "Hei! Kau!" Sayangnya tidak, justru aku yang malah kelelahan sendiri mengetuk dinding dan memanggilnya. Kukeluarkan sendok tadi, menempelkannya pada bagian bawah dinding kaca, dan menekan tombol magnetnya.
Aku mengusap-usapnya di permukaan dinding dengan frustrasi sambil menatap ke arah Holopad yang juga belum memberi reaksi di sana. Ayolah, Holopad itu tidak mungkin terbuat dari plastik! Lagipula daya magnet sendok ini cukup kuat, walaupun terbatasi oleh dinding kaca, seharusnya alas Holopad di sana memberi reaksi.
Oh! Bergerak, sedikit. Aku menekan-nekan tombol magnet dengan gerakan cepat untuk memberikan tarikan mendadak pada Holopad di sana. Bagus ... mendekatlah kemari. Rasanya aku tidak pernah sebahagia ini hanya karena bermain magnet. Ayo ... cepat! Sebelum jam makan siang berakhir dan CCTV kembali menyala--ugh, aku lupa ini siang atau malam.
Alas Holopad itu bergerak-gerak kecil, hingga akhirnya tertarik sempurna menempel di balik dinding kaca. Aku menghela napas terang-terangan. Ternyata memang benar, usaha tidak mengkhianati hasil. Baiklah, sekarang berpikir bagaimana caranya agar Holopad-nya berdiri dan layarnya menempel pas pada dinding.
"Hm, mungkin..." Kunaikkan arah sendoknya dan kembali menekan-nekan tombolnya. Alas Holopadnya yang pipih dan bulat itu langsung naik menempel di balik sendoknya, tapi layarnya langsung mati akibat tombolnya tertekan ke permukaan, ter-non-aktifkan.
"Argh! Siaaal!" teriakku sambil memukul dinding. Usaha benar-benar mengkhianati hasil!
*
"Apa yang kaulakukan?"
Aku langsung meliriknya datar.
"Apa pedulimu?" tanyaku balik sambil kembali sibuk membengkokkan sendok di tanganku di sudut ruangan. Katakan aku konyol, tapi aku benar-benar sedang bosan.
"Beraninya kau bersikap begitu, Aku ini salah satu eksekutor terbaik Black Eagle, tahu?!" balasnya menyombongkan diri sekaligus marah.
"Aku ini salah satu eksekutor terbaik organisasi biadab ini." Aku membeo dengan nada mengejek dan ekspresi jijik. "Huh! Seperti Aaron dan Aley akan mengizinkanmu untuk membunuhku," balasku remeh. Jangan-jangan sebagian anggota Black Eagle yang tahu aku tidak mengetahui kalau aku ini murid Fire Wings? Maksudku, jadi pembunuh di Black Eagle atau tidakpun, skill kami pasti hanya beda sedikit. Sayangnya yang jahat entah kenapa selalu satu tingkat lebih baik. Disuruh duel, jelas aku akan kalah.
Lelaki itu berdecak kesal. "Ruanganmu diganti. Kau pindah di ruangan yang terhubung langsung dengan lab," jelasnya ogah-ogahan sekali.
"Kenapa harus yang berdekatan dengan lab? Tidak adakah kamar yang berdekatan dengan pintu keluar agar aku bisa kabur?" tanyaku mengeluh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Agent
Science FictionBerawal dari ayahku yang memasukkan ku ke sekolah khusus yang mengajarkan murid nya untuk menjadi seorang agent. Mendapatkan misi pertamaku yang tergolong ringan. Sampai suatu saat krisis melanda karena sebuah organisasi gelap melancarkan aksi Biot...
