Salivaku terasa berat begitu aku menelannya kasar. Mataku menatap dua orang di depanku dengan cemas. Ujung-ujung jariku terasa dingin dan tanganku mulai berkeringat. Jantungku berpacu lebih cepat dari yang seharusnya walau aku yakin tidak memiliki riwayat penyakit jantung.
Gelagatku seperti orang yang baru saja berbohong walau semua ceritaku barusan murni kenyataan. Apa mereka akan menganggapku berbohong?
Kuhela napasku panjang. "Aku sudah jujur. Lagipula Antivirus dan identitas Ibuku rasanya sudah cukup membuktikan itu semua. Kalau masih tidak percaya, kalian bisa tanya ayahku saja."
Dasar anak Daddy. Kenapa pula tiba-tiba aku membawa-bawa ayah? Padahal
"Sebenarnya, Nak, Kami percaya pada semua pengakuanmu."
Aku tercenung menatap mereka bergantian. Benarkah? Lalu kenapa ekspresi wajah mereka masih seperti itu? Mungkin aku akan langsung senang mendengarnya jika saja ekspresi keduanya sedikit melunak.
"Tapi Fire Wings Academy dan sekolah lain yang sama tetap harus dibubarkan."
Apa?! Tapi bagaimana bisa?
Sungguh! Aku sudah bercerita panjang lebar sejak tadi dan berusaha tidak terbata-bata! Ayolah, menceritakan sesuatu yang tidak panjang berkali-kali itu melelahkan dan hasil keputusannya tetap tidak berubah.
"Kenapa?" Nada bertanyaku pun terdengar bergetar. Ingin rasanya terdengar memprotes tak terima jika saja aku lebih berani. Aku gentar dan kesal di saat bersamaan. Rasanya semangat yang kukumpulkan sejak kemarin dengan susah payah jatuh dalam sekali hantaman. Inilah yang membuatku merasa sulit optimis.
"Informasi yang kau berikan barusan itu adalah hal yang sama dengan yang telah kami kumpulkan selama ini. Hanya berbeda sedikit." Si wanita berambut pirang yang sejak tadi diam dengan wajah juteknya meluncurkan sebuah tablet kaca ke arahku. Aku menerimanya dan membaca sebagian dokumennya dengan seksama. Hanya membaca sebagian kata yang paling mencolok di sana saja sudah mampu membuat mataku membulat sempurna.
"Huh, kadang aku berpikir anak-anak murid pelatihan seperti kalian terlalu sombong dan meremehkan pemerintah walau hanya mendapatkan sedikit informasi penting," cibir wanita itu.
Ini... ini data informasi mereka tentang pelaku pengeboman selama ini; Black Eagle. Bahkan punya mereka sedikit lebih lengkap dari ceritaku. Namun ada beberapa hal pula yang tidak mereka miliki dan sialnya telah aku ceritakan semua. Aku merasa dirugikan. Mengingat semua bacaan di dokumen mereka dalam sekali pindai pun mana mungkin.
"Tapi karena menyaksikanmu telah berusaha melindungi Fire Wings... kami akan memberi waktu tiga hari untuk kalian pulang."
Tch... tiga hari... percuma, tiga hari sebagai salam perpisahan. Semua murid di markas pasti telah melakukan itu malam ini. Dan itu tentunya hanya akan meninggalkan kesedihan yang berlangsung lama di markas. Kenapa tidak sekalian saja langsung dipulangkan tanpa basa-basi.
Aku memajukan kembali tablet tersebut setelah membaca setengahnya secepat kilat. Kuremas ujung pakaianku dan menggigit bibir bagian dalam.
"Jadi... apa kau tahu di mana markas atau tempat persembunyian mereka?" Si pria berbadan besar dan kekar bertanya. Apa-apaan ini?
"Itu keputusan akhir kalian?" tanyaku balik, mengabaikan pertanyaannya. Kutatap pintu Ruang Interogasi, bersiap keluar jika memang tidak ada yang perlu kulakukan lagi di sini. Dan sebelum mereka mencuri-curi informasi lainnya--walau memang tidak ada salahnya menyampaikan semua hal yang kuketahui mengingat posisi dan level mereka yang berada dalam perintah negara langsung.
"Dasar tidak sopan!" Si wanita yang kukira memang tidak bersahabat sejak awal langsung memukul meja: berusaha menggertak. Aku sampai tersentak mendengarnya."Jawab pertanyaannya dulu!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Agent
Science FictionBerawal dari ayahku yang memasukkan ku ke sekolah khusus yang mengajarkan murid nya untuk menjadi seorang agent. Mendapatkan misi pertamaku yang tergolong ringan. Sampai suatu saat krisis melanda karena sebuah organisasi gelap melancarkan aksi Biot...
