"R-rane?" ulang ku gagap dengan nada bingung
"Rane siapa?" tanya ku lagi. Hanya untuk memastikan.
Wajah ayah yang tadinya serius digantikan tawa yang cukup besar sementara Mr Vector yang ada disana hanya menggelengkan kepala nya lelah. Ayah tertawa dengan suara berat. Entah apa yang lucu.
"Ayah hanya bercanda. Ayah bahkan tidak tahu nama siapa itu."
Apa?!
Ayah masih tertawa pelan sambil menggeleng.
"Kebiasaan." gumam Mr Vector lelah. Sementara aku hanya tertawa paksa akan hal itu. Oh seandainya ayah tahu siapa orang yang langsung terbayang dipikiran ku begitu mendengar nama itu.
"Ngomong-ngomong.." aku berdeham kemudian melanjutkan. Kedua pria didepanku menatapku.
"Uhmm.. Surat yang ditinggalkan oleh kelompok tersebut.. Apa itu.."
"Aaron dan Aley?" sambung ayah ku membuat ku langsung mengangguk cepat. Ayah menghela napas lelah kemudian bersandar sambil memejamkan mata.
"Entahlah. Belum ada kepastian soal itu." gumam nya
Bukannya aku berburuk sangka, tapi dari model tulisan tangan tersebut aku bisa langsung mengenali nya. Apalagi inisial yang mereka tinggalkan dibagian akhir. Ugh.. Sudahlah, mereka memang punya latar belakang yang buruk. Jauh berbeda sekali dengan ibu mereka yang baik.
"Kalau begitu.. Aku permisi dulu." pamit ku kemudian keluar dari ruangan tersebut.
*
DOR!
Violette menurunkan handgun nya kemudian menatap lelah kearah bidikan yang berjarak sekitar 15 meter didepan nya.
"Huuft.. Aku tidak ahli dalam menembak, Carl." keluh nya sambil mengerang malas
"Ayolah Violette. Aku tahu kau bisa. Kau pasti lebih hebat dari kakak mu." Ujar Carl yang berada dibelakang dengan tegas dan melipat kedua tangan didepan dada, membimbing gadis tersebut sedaritadi. Entah Violette yang memang tidak bisa atau sengaja mengulur waktu.
Violette menatap lelah kearah Carl kemudian terduduk dilantai dengan tangan yang masih memegang handgun khusus untuk latihan. Itu bukan senjata asli. Tentu saja akademi itu akan dituntut karena membiarkan murid-murid nya memegang senjata api asli.
Carl berjalan mendekati gadis tersebut dan mengulurkan tangan nya sambil tersenyum tipis membuat Violette terpaku sejenak.
"Ayo. Sekali lagi lalu kau bisa istirahat." ujar nya membuat Violette mau tak mau menerima uluran tangan nya dan Carl menariknya berdiri.
"Baiklah." gumam Violette dengan wajah masam walau dalam hati sebenarnya ia senang menyentuh tangan Carl tadi.
Di lantai lainnya, Alice yang ahli dalam beladiri dan juga sebenarnya riddle, berlatih bersama Light yang juga ahli dalam beladiri dan menembak. Entahlah, Light sendiri yang ingin gadis itu berlatih self-defense bersama nya, sementara murid lain yang tengah berlatih malam ini hanya menggigit jari melihat pemandangan itu. Hari tidak lagi menjadi penentuan untuk menggunakan lantai berapa di gedung latihan karena ujian kenaikan kelas akan segera dilaksanakan. Murid-murid kelas satu dibebaskan untuk menggunakan lantai berapa saja dan senior harus membimbing mereka.
Dalam beberapa detik, dengan gerakan yang cukup cepat, Alice mengunci gerakan Light dari belakang badan lelaki tersebut, namun karena badan Light lebih besar dibandingkan dengannya membuatnya sedikit kesulitan. Light yang melihat itu tersenyum tipis. Sebenarnya ia bisa saja membalikkan keadaan namun lebih memilih mengalah. Dan Alice sadar akan hal tersebut tentunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Agent
Science FictionBerawal dari ayahku yang memasukkan ku ke sekolah khusus yang mengajarkan murid nya untuk menjadi seorang agent. Mendapatkan misi pertamaku yang tergolong ringan. Sampai suatu saat krisis melanda karena sebuah organisasi gelap melancarkan aksi Biot...
